Belajar Huruf Jawa dengan Metode Talking Stick

160
Oleh: Pudji Slamet SPd
Oleh: Pudji Slamet SPd

RADARSEMARANG.COM – BELAJAR merupakan kebutuhan bagi seseorang,di mana belajar tidak mengenal batas usia maupun waktu. Dari lahir “ceprot” sampai ibaratnya mau masuk liang lahat, manusia berhak untuk belajar. Life long education, pendidikan seumur hidup. Temasuk dalam hal ini belajar membaca huruf Jawa.

Belajar huruf Jawa di zaman now amatlah susah bagi anak-anak sekarang. Survei membuktikan bahwa mereka lebih familiar dengan bahasa “gaul” yang ada di HP atau gadget.Tanpa dipelajari, tetapi mereka lebih sering menggunakannya, akhirnya akan lancar juga.

Lalu, bagaimana dengan huruf Jawa yang merupakan warisan nenek moyang kita yang adi luhung? Apakah akan dibiarkan “mangkrak” begitu saja? Tentunya kita sebagai seorang pendidik tidak bisa tinggal diam saja, tetapi kita punya solusi yang mudah dan menyenangkan dalam belajar huruf Jawa, sehingga anak-anak zaman now semakin handarbeni dan hangrungkepi  Bahasa Jawa sebagai sarana nguri-uri  budaya.

Ada metode yang bisa digunakan untuk belajar membaca huruf Jawa. Namanya metode talking stick atau tongkat berbicara. Ini merupakan metode pembelajaran secara kelompok, dengan bantuan tongkat. Kelompok yang memegang tongkat pertama, membaca bacaan berhuruf Jawa sampai dengan batas yang telah ditentukan. Kemudian anak  yang telah membaca itu memberikan tongkat kepada temannya ,demikian seterusnya dengan batas-batas yang ditentukan.

Dalam penerapan metode ini, guru membagi siswa dalam kelompok kecil yang terdiri atas 3 orang secara heterogen dengan mempertimbangkan keakraban, kecerdasan, persahabatan ataupun minat yang berbeda.

Adapun urutan dalam penggunaan metode ini adalah sebagai berikut. Guru menyiapkan tongkat/stick dengan panjang kurang lebih 20 cm. Guru membagi kelompok (satu kelompok 3 orang ). Guru menyampaikan materi yang akan dibaca. Siswa secara berkelompok belajar membaca tulisan berhuruf Jawa.

Di sinilah kelihatan keheterogenan masing-masing siswa. Mereka saling melengkapi kekurangan maupun kelebihan dari masing-masing siswa. Bila ada yang kurang jelas ataupun memerlukan bantuan, di sinilah guru sebagai fasilitator memberikan penjelasan maupun arahan kepada para siswa yang memerlukan. Setelah siswa selesai dalam membaca dan diskusi dalam kelompoknya, guru memberikan tanda untuk mengakhiri tahap ini.

Guru mengambil tongkat dan memberikannya kepada salah satu siswa untuk membaca dengan waktu yang telah ditentukan dari guru. Demikian seterusnya sampai semua siswa dapat giliran membaca. Pada tahap ini, guru bisa menilai dari masing-masing anak dengan format yang telah disiapkan. Apabila masih dirasa kurang dalam hal ini, maka guru bisa mengulang kembali proses membaca sampai anak merasa tahu.

Metode ini sangat bermanfaat, karena mampu menguji kesiapan siswa ketika akan membaca, yang menuntut kesiapan pribadi dan tanggungjawab yang harus dilakukannya. Dapat juga untuk melatih keterampilan dalam membaca dan memahami materi dengan cepat, tepat dan menyenangkan. Tidak kalah pentingnya adalah untuk mengajak dan melatih anak-anak untuk terus siap dalam menghadapi situasi dan kondisi apapun,di manapun dan kapanpun. Good Luck! (tj3/aro)

Guru SMP Negeri 32 Semarang