Saat Terapi Mengigau Baca Surat Yasin

Menengok Pasien Gagal Ginjal di RSUD Bendan Kota Pekalongan

383
HARI GINJAL – Manajemen RSUD Bendan Kota Pekalongan bersama direkturnya dr Junaidi memberikan bunga kepada pasien yang menjalani perawatan cuci darah di ruang hemodialis. (Lutfi Hanafi/Jawa Pos Radar Semarang)
HARI GINJAL – Manajemen RSUD Bendan Kota Pekalongan bersama direkturnya dr Junaidi memberikan bunga kepada pasien yang menjalani perawatan cuci darah di ruang hemodialis. (Lutfi Hanafi/Jawa Pos Radar Semarang)

RADARSEMARANG.COM – Setiap bulan Maret di minggu kedua, diperingati sebagai Hari Ginjal se-dunia. Banyak kegiatan di berbagai rumah sakit dalam memperingati penderita gagal ginjal. Salah satunya di RSUD Bendan Kota Pekalongan, yang membagikan bunga dan beri semangat kepada pasiennya.

Lutfi Hanafi, Pekalongan

SUARA deru mesin pencuci darah terdengar di ruang hemodialis Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Bendan Kota Pekalongan. Ada delapan orang tampak berbaring. Semua kasur terapi dengan berbagai selang yang mengalirkan darah dari tangan ke mesin pencuci darah di sampingnya, tampak penuh.

Salah satu pasien senior, Fauzi, warga Pringrejo Kecamatan Pekalongan Barat  ini sudah terbiasa dengan rasa sakit saat proses cuci darah. Bahkan dilihat sepintas, orang biasa pun akan ngilu melihat darah mengalir dari tubuh dan diputar dalam mesin pencuci darah kemudian disaring dalam alat yang menggantikan fungsi ginjal.

Meski demikian, jadwal cuci darah yang dilaksanakan Fauzi, setiap hari Senin dan Kamis, membuat mantan pebisnis batik ini  jauh lebih enak. “Saya sudah 3,5 tahun terapi rutin, seminggu dua kali Senin dan Kamis, dan alhamdulillah kini kondisi tubuh berangsur membaik,” ucap pria paruh baya yang kini menjadi penjahit ini, saat ditemui Radar Semarang, Kamis (8/3).

Dia kini juga bersyukur, dalam terapinya, sudah menggunakan BPJS sehingga biaya sudah tidak terlalu takut. Karena jika mandiri tanpa BPJS, setiap terapi harus mengeluarkan dana Rp 900 ribu. Jika sebulan 8 kali, biayanya sudah sangat besar.  Terlebih kini dirinya hanya tukang jahit rumahan, dengan penghasilan ala kadarnya.

Fauzi bercerita, saat awal dirinya divonis kena gagal ginjal, kondisinya sangat drop. Bahkan karena kadar racun dalam tubuhnya sangat tinggi, dia sering linglung. Tidak bisa berkomunikasi dengan orang atau mengenalinya. Namun ajaibnya, walaupun dalam kondisi tidak sadarkan diri, dia sering mengigau dengan membaca surat Yasin dengan lantang dan hafal hingga selesai, setiap terapi.

“Saya sebenarnya juga tidak mengerti dan sadar, karena dibilang mengigau baca surat Yasin, yang tahu pasien lain dan perawat di sini,” jelasnya sambil berbaring.

Hal tersebut dibenarkan Kepala Ruang Hemodialis RSUD Bendan, Barzen Ali, bahwa setiap kali terapi, dan dalam keadaan setengah sadar pasienya Fauzi selalu mengingau baca surat Yasin.

“Pak Fauzi bahkan logikanya dalam keadaan tak sadarkan diri, komunikasi saja juga susah, linglung dan tidak nyambung melantur. Namun memang saat terapi, sering mengingau baca surat Yasin,” ucapnya.

Dokter jaga di ruang tersebut, dr Dwi Apriyanti, mengatakan seseorang bisa saja terkena penyakit ginjal karena beberapa faktor risiko. Seperti diabetes, tekanan darah tinggi, sumbatan dan infeksi. Seseorang akhirnya bisa terkena penyakit ginjal tergantung kondisi masing-masing.

Sejak buka pelayanan ginjal mulai tahun 2014, kini ada 56 pasien gagal ginjal yang rutin terapi. Rata-rata umur di atas 40-an tahun, dengan persentasi perempuan 40 persen dan laki 60 persen. Pasein tersebut ada yang sebelumnya melanjutkan terapi dan ada yang baru terkena.

“Jika sudah vonis gagal ginjal maka seumur hidup melakukan cuci darah. Agar bisa bertahan, maka pasien sejak awal terus bertahan, disiplin, patuh dengan diet, ikuti jadwal rutin, kontrol rutin,” jelasnya.

Setiap pasien diwajibkan melakukan terapi dengan dosisnya 5 sampai 10 jam per minggu tergantung berat badan dan tinggi badan. Atau dengan waktu 4 sampai 5 jam, sekali terapi. Karena alat menjadi pengganti fungsi ginjal, jika terlambat terapi maka dalam hitungan waktu tertentu nyawa pasien jadi taruhan.

“Cuci darah itu, membuang metabolisme lama tubuhnya. Jika tidak dibuang diserap tubuh. Dan ini yang berbahaya, karena jadi racun dalam tubuh,” jelasnya.

Dilanjutkan Direktur RSUD Bendan dr Junaidi, pada peringatan Hari Ginjal sedunia kali ini, pihaknya berikaan motivasi dan semangat hidup kepada pasein. Selain mendoakan juga diberi bunga mawar merah, simbol semangat.

“Pada peringatan Hari Ginjal tahun ini bertema ginjal dan kesehatan wanita, tadi kami berikan bunga dan motivasi,” ucap dokter ramah ini.(*/lis)