Pustakawan Sekolah Dituntut Kuasai Literasi

316
DORONG MINAT BACA : Pustakawan Ahli Utama Perpustakaan Nasional RI, Supriyanto saat memberikan paparan dalam Bimtek Tenaga Pengelola Perpustakaan Sekolah. (istimewa)
DORONG MINAT BACA : Pustakawan Ahli Utama Perpustakaan Nasional RI, Supriyanto saat memberikan paparan dalam Bimtek Tenaga Pengelola Perpustakaan Sekolah. (istimewa)

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG – Pengelola perpustakaan sekolah dituntut untuk menguasai literasi informasi. Yaitu, kemampuan memaknai apa yang dibaca dalam buku. Dengan kemampuan tersebut, pustakawan akan mampu memaknai dan mengemas informasi sehingga bisa disampaikan ke pengunjung perpustakaan.

Pustakawan Ahli Utama Perpustakaan Nasional RI, Supriyanto mengatakan, di  era  digital,  informasi   begitu   mudahnya   dibuat,   disebarkan   dan   ditelusuri. “Hal ini  menyebabkan ruang-ruang virtual dipenuhi banyaknya informasi, baik yang bermanfaat untuk tumbuh kembang   siswa   maupun   yang   berbahaya   bagi   tumbuh   kembang   siswa,” katanya saat pembukaan Pembinaan Tenaga Pengelola Perpustakaan Sekolah di Hotel Grandhika, Rabu (7/3).

pada Bimtek Tenaga Pengelola Perpustakaan Sekolah ini, peserta akan diberikan pengetahuan dan keterampilan untuk mengoptimalkan peran perpustakaan sekolah. Peserta juga diajarkan bagaimana membuat program literasi di perpustakaan sekolah, dan menyeleksi koleksi yang sesuai. “Selain itu, berkolaborasi dengan guru dan membimbing siswa untuk menemukan informasi yang valid di era digital ini,” ujarnya.

Bimtek yang digelar Perpustakaan Nasional RI ini diikuti 120 orang tenaga pengelola perpustakaan dari SMA/ MA di Jateng. Kegiatan dibuka Kepala Dinas Kearsipan dan Perpustakan Jateng M Masrofi.

Masrofi berharap agar tenaga pengelola perpustakaan yang diberikan pengetahuan dan keterampilan dapat mengoptimalkan peran perpustakaan sekolah dalam literasi informasi. Dia juga mendorong pengelola perpustakaan sekolah untuk meningkatkan minat baca siswa. Caranya dengan “memaksa” siswa untuk membaca. “Minat baca di Indonesia tertinggal 45 tahun dibandingkan negara-negara maju. Maka untuk mengejar ketertinggalan itu harus dilakukan secara dini melalui para siswa,” ungkapnya. (ric)