Menyikapi Pelajaran Bahasa Inggris di Sekolah

534
Oleh: Erna Setyowati, S.Pd
Oleh: Erna Setyowati, S.Pd

RADARSEMARANG.COM – BANYAK cara dilakukan guru bahasa Inggris untuk menyampaikan materi kepada siswa-siswinya. Di antaranya, melalui program English Day, English Club, Extra Conversation, studi lapangan, belajar di luar kelas dan bentuk lainnya di luar jam sekolah.

Toh, intinya, pengajaran bahasa Inggris di SMA haruslah bersifat gembira, interatif, juga menarik sesuai  perkembangan siswa. Karena itu, tak mengherankan jika saat ini banyak guru menggunakan lagu, teka-teki, permainan, dan gambar menarik selama proses belajar-mengajar berlangsung.

Untuk itu, menurut hemat penulis, seorang guru bahasa Inggris perlu terus-menerus mengasah kemampuan mengajar bahasa Inggrisnya dengan kreatif dan inovatif. Satu sisi, seiring perkembangan teknologi yang semakin pesat, menuntut siswa-siswi mampu menguasai bahasa Inggris dengan benar. Untuk itu, pengusaan keahlian berbahasa sangat  dibutuhkan.

Tentu ini tantangan besar bagi seorang guru bahasa Inggris, seperti dikemukakan oleh Brook (1967) bahwa seorang guru bahasa Inggris harus memiliki keahlian berbahasa Inggris atau telah mengikuti pelatihan untuk mengajar siswa.

Untuk itu, penulis  berpendapat bahwa seorang guru bahasa Inggris  dituntut untuk selalu meningkatkan kemampuan mengajar. Utamanya, kemampuan dalam hal memahami kebiasaan anak dalam belajar bahasa asing. Karena itu, baik pelatihan, diklat, workshop atau lokakarya, masih sangat dibutuhkan. Di sisi lain, perhatian pemerintah terhadap status guru juga perlu ditingkatkan, sehingga program ini bisa berjalan maksimal.

Umumnya, pelaksanaan pengajaran di kelas masih menjadi problem tersendiri.  Satu sisi guru berharap   terjadi suasana yang menyenangkan selama mereka mengajar. Namun, yang terjadi jauh dari harapan. Untuk itu, perlu pengajaran yang efektif. Di antaranya dengan membagi siswa per kelompok. Setidaknya, ada tiga kelebihan.

Pertama, menciptakan suasana interaksi antara siswa dengan siswa. Kedua, mengubah budaya siswa dari kerja individu menjadi kerja dalam satu kelompok. Sedangkan ketiga, membuat suasana yang lebih variatif, sehingga  siswa mampu menunjukkan kemampuannya secara maksimal.

Sisi lain, ketersediaan buku pelajaran bagi guru dan siswa juga merupakan faktor penunjang kesuksesan program pendidikan. Data yang diperoleh menunjukkan, tidak semua siswa mempunyai buku pelajaran, sehingga mereka harus berbagi dengan siswa lain.  Masalah lain yang juga muncul, kurangnya media pengajaran seperti tidak adanya fasilitas laboratorium bahasa, dan perpustakaan sekolah yang kurang memenuhi standar.

Dalam konteks inilah, guru harus lebih banyak menggunakan media pembelajaran yang tepat bagi siswa. Karena itu, perlunya peningkatan partisipasi, baik dari  pemerintah, sekolah,  masyarakat, juga para orang tua untuk menyediakan media pengajaran serta sarana penunjang pembelajaran bahasa asing di sekolah. Harapannya, proses belajar mengajar menjadi maksimal dan prestasi siswa bisa meningkat. Semoga. (*/isk)

Guru SMA 1 Salaman

Kabupaten Magelang

Silakan beri komentar.