Dorong Moratorium Hotel

388

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG – Pertumbuhan hotel di Semarang terbilang cukup pesat. Sayangnya, masih belum diimbangi dengan jumlah pengunjung yang menginap. Pemerintah diharapkan dapat mengadakan moratorium atau pembatasan sementara untuk pembangunan hotel, guna menstabilkan okupansi.

Ketua Persatuan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Jateng, Heru Isnawan mengungkapkan, perkembangan Jateng dan Semarang pada khususnya cukup baik. Ini terlihat dari pengunjung yang semakin banyak. “Namun antara jumlah hotel dan pengunjung yang datang masih njomplang (tidak seimbang,red) sekali. Sehingga okupansi masih selalu terkoreksi,” ujarnya, baru-baru ini.

Ia tidak memungkiri bila pada hari-hari tertentu, seperti long weekend, hari besar maupun acara kelas nasional, hotel seringkali kebanjiran pengunjung hingga penuh. Tapi menurutnya, berbagai kegiatan tersebut tidak bisa menjadi pegangan, tergantung seberapa sering diselenggarakan. “Terkoreksinya okupansi, kemudian terkoreksinya rata-rata harga kamar per malam akan mengakibatkan persaingan yang semakin tidak sehat,” ujarnya.

Pihaknya memahami dari sisi pemerintah dengan adanya pembangunan hotel-hotel baru juga akan meningkatkan dari Pajak Bumi dan Bangunan (PBB), begitu juga dari segi investasi maupun tenaga kerja.

“Namun dengan terus terkoreksinya okupansi dan harga rata-rata menginap per malam, dikhawatirkan tidak ada keberlanjutan, perusahaan kolaps, dijual atau tutup. Hal ini juga akan berdampak pada image  kota dan terbawa jadi tidak bagus,” ujarnya.

Oleh karena itu, ia berharap ke depan pemerintah lebih pro aktif terkait pembangunan hotel khususnya di Kota Semarang. Salah satunya dengan mengeluarkan moratorium atau penundaan pembangunan, namun dalam takaran yang lebih fleksibel.

“Bila memang harus ditahan yang ditahan dulu pembangunannya. Namun bukan berhenti lalu tidak ada izin lagi, sifatnya ada sementara yang ditunda. Mudah-mudahan ke depan pertumbuhan bisa dikejar, tapi jangan ditambah izin-izin yang terus menerus,” ujarnya. Ia menambahkan, untuk investasi khususnya di pariwisata, tidak melulu ke arah hotel. “Bisa diarahkan ke restoran, destinasi, merchandise maupun lainnya,” tandasnya. (dna/ric)

Silakan beri komentar.