Diklaim Aman, Bisa Didapat dari Jahe, Kunyit dan Temulawak

Dokter Santoso, Temukan Kurkumin Rempah Penyembuh Kanker Darah

989
dr Santoso (ABDUL MUGHIS/JAWA POS RADAR SEMARANG) 
dr Santoso (ABDUL MUGHIS/JAWA POS RADAR SEMARANG) 

RADARSEMARANG.COM – Salah satu khasiat yang cukup menakjubkan dari rempah-rempah adalah zat kurkumin. Seperti kurkumin jahe, kunyit, dan temulawak. Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro (Undip), dr Santosa, menemukan kurkumin rempah sebagai penyembuh penyakit Mieloma Multiple (MM) atau kanker darah. Seperti apa?

ABDUL MUGHIS

MIELOMA Multiple (MM) atau kanker darah dikenal sebagai penyakit yang cukup ganas dan belum bisa disembuhkan secara medis. Pengobatan saat ini hanya mampu rata-rata memiliki ketahanan hidup lima tahun.  Mieloma Multiple menjadi penyakit kelainan sel darah putih yang akan merusak tulang hingga menyebabkan kerapuhan, serta komplikasi penyakit bermacam-macam. Orang sering menyebut dengan kanker darah yang mematikan.

Dosen Fakultas Kedokteran Undip, dr Santosa, berusaha melakukan inovasi dengan meneliti kurkumin rempah-rempah. Ia menemukan kurkumin jahe, kunyit, dan temulawak untuk dijadikan obat penyembuh penyakit ini.  Bahkan kurkumin berupa pigmen kuning atau oranye yang terdapat di rempah-rempah tersebut dinyatakan sedikit efek samping dibandingkan obat farmasi.

“Kurkumin bisa didapatkan dengan mudah di negara kita. Bisa didapat dari jahe, kunyit, dan temulawak dalam konsentrasi berbeda-beda. Kurkumin tersebut sudah dimurnikan, kemudian diberikan kepada pasien-pasien penderita Mieloma Multiple,” jelas Santosa kepada Jawa Pos Radar Semarang, belum lama ini.

Dikatakan, Mieloma Multiple adalah suatu penyakit kelainan sel darah putih yang bisa merusak tulang, darah, dan komplikasi bermacam-macam penyakit. “Orang sering menyebut dengan kanker darah, yakni kanker darah akut dan kronik. Penelitian ini termasuk kategori kronik. Semacam kanker darah kronis jenis sel plasma,” katanya.

Hingga saat ini, Mieloma Multiple belum bisa disembuhkan. Tetapi dikendalikan sebagai penyakit kronik. “Angka kejadian cenderung meningkat. Di Indonesia didapatkan usia yang lebih muda,” ujarnya.

Kurkumin sendiri sudah mulai digunakan sebagai obat tradisional dan sudah diteliti secara ilmiah pada kanker kandung kencing dan kanker liver. “Kami melakukan penelitian selama 4 bulan, diberikan per orang, 8 gram per hari. Pemberian kurkumin berbarengan dengan obat standar Melphalan dan Prednisone,” bebernya.

Kurkumin tersebut sebagai peran pendamping. Penambahan kurkumin dalam bentuk caplet. Diminumkan kepada pasien sebanyak 8 caplet atau 8 gram setiap hari selama empat bulan. “Hasilnya cukup memuaskan, remisi atau tingkat kebaikan tanpa kurkumin 50 persen. Setelah ditambah kurkumin tingkat keberhasilannya mencapai 75 persen. Itu setelah diberikan selama empat bulan,” jelasnya.

Ia juga memastikan bahwa kurkumin merupakan produk yang aman. Sebelumnya, kurkumin cukup terkenal sebagai bumbu dan obat tradisional. “Mieloma Multiple hampir mirip dengan Leukemia Kronik, yakni kelainan sel darah putih. Tetapi kalau Multiple Mieloma sel plasma. Itu merusak tulang, sehingga tulangnya bisa rapuh. Dia juga merusak fungsi ginjal, mengganggu sel-sel darah merah lain, sehingga bisa mengalami gangguan kekebalan,” terangnya.

Sebelum meneliti, ia juga melakukan studi pustaka mengenai adanya penelitian yang menunjukkan bahwa kurkumin kunyit sebagai antikanker. “Kurkumin juga menghambat peradangan, dan menghambat peredaran penyakit kanker. Kenapa penyakit Mieloma Multiple? Karena di dunia, angka kejadian penyakit ini cenderung meningkat. Amerika, hingga di Indonesia. Bahkan di Indonesia ada kecenderungan menyerang usia muda dibandingkan negara maju yang lain,” katanya.

Dalam penelitian, Santoso meneliti sebanyak 35 kasus penyakit Mieloma Multiple. Tetapi dua kasus di antaranya tidak memenuhi syarat, sehingga tinggal 33 kasus. “Secara teori, angka kasus di dunia, kasus penyakit Mieloma Multiple terjadi di usia lanjut, yakni 60-70 tahun. Tetapi di Indonesia, lebih muda, yakni 40-50-an tahun,” imbuhnya.

Evaluasi berdasarkan parameter molekuler dan parameter klinik terukur secara objektif. “Yang menjadi tantangan, ada 8 gram (8 caplet) per hari untuk diminum. Artinya, ini masih termasuk jumlah yang besar. Ke depan saya akan membuat kurkumin dalam jumlah lebih kecil. Tetapi memiliki efek baik. Salah satu teknologi yang akan saya terapkan adalah teknologi nano. Sehingga nanti namanya nano korkumin,” katanya.

Ditanya apakah akan diproduksi? Ia mengaku belum berpikir ke arah sana. “Untuk produksi, saya belum ke arah sana, saya tidak memiliki pabrik. Jadi, harus kolaborasi dengan perusahaan farmasi, jamu, maupun petani. Sehingga ekonomi bisa digerakkan. Harganya terbilang murah, yakni berkisar Rp 5 ribu per caplet. Kalau produksi tanaman sendiri bisa jauh lebih murah. Jadi, sangat terjangkau,” ujarnya.

Kurkumin juga merupakan produk asli tradisional Indonesia. “Tugas saya sebagai akademisi menggali kekayaan tradisional secara ilmiah. Sehingga bisa menaikkan derajat bangsa Indonesia. Ide yang menginspirasi penelitian ini adalah Berdikari, berdiri di atas kaki sendiri sebagaimana pesan Bung Karno,” kata Staf Medis Bidang Ilmu Penyakit Dalam RSUP dr Kariadi Semarang ini. (*/aro)