Kades Simbangdesa : SDM Rendah Menjadi Lalai

417
MANGKRAK : Bangunan di Desa Simbangdesa, Kecamatan Tulis, Kabupaten Batang, yang dilaporkan ke Kejari Batang karena terindikasi korupsi. (Lutfi Hanafi/Jawa Pos Radar Semarang)
MANGKRAK : Bangunan di Desa Simbangdesa, Kecamatan Tulis, Kabupaten Batang, yang dilaporkan ke Kejari Batang karena terindikasi korupsi. (Lutfi Hanafi/Jawa Pos Radar Semarang)

RADARSEMARANG.COM, BATANG – Setelah dilaporkan ke Kejaksaan Negeri (Kejari) Kabupaten Batang dugaan korupsi, Kepala Desa Simbangdesa, Eko Surya, beralasan bahwa faktor Sumber Daya Manusia (SDM) sangat kurang, sehingga dalam pelaksanaan proyek terjadi kelalaian.

“Kami kekurangan tenaga dalam masalah administrasi, karena pegawai kami memang SDM nya sangat rendah. Saya masuk ke sini sudah seperti itu, tidak tahu bagaimana perekrutannya dulu,” jelas Kepala Desa Simbangdesa, Eko Surya saat dikonfirmasi di ruang kerjanya, Selasa (6/3).

Selain hanya memiliki 7 perangkat desa, pihaknya juga tidak memiliki tenaga ahli yang paham dengan proyek. Selain itu, petugas pendamping juga tidak bisa membantu dengan maksimal.

Terkait dana yang digunakan dalam proyek tersebut, bersumber dari dana  aspirasi dari anggota DPRD Kabupaten Batang, bernama Teguh Sulakmono dari Fraksi Demokrat. Dijelaskan lebih lanjut, sebenarnya dana yang mereka terima tidak sesuai dengan permintaan yang diajukan. Karena dari awal, mengajukan bantuan dana aspirasi ke dewan sebesar Rp 600 juta, namun yang keluar hanya Rp 400 juta.

“Kami memang minta bantuan dana aspirasi dari pak Teguh. Namun saat itu dia mengaku hanya memiliki dana aspirasi senilai Rp 200 juta, dan saya tidak mengetahui, dana tambahan Rp 200 juta itu didapat dari mana. Kami hanya menerima bersih bantuan dana aspirasi itu senilai Rp 400 juta,” ungkapnya.

Bahkan, menurut Kades sebenarnya bangunan balai desa yang akan dibuat menjadi dua lantai itu membutuhkan biaya sampai dengan miliaran rupiah. Namun karena melihat anggaran dana yang ada sangatlah minim, akhirnya tidak dapat rampung 100 persen.

“Memang, di RAB kami buat anggaran senilai Rp 400 juta, dan hasilnya, dengan dana segitu tidak dapat merampungkannya. Karena sebenarnya, untuk merampungkan bangunan balai desa itu, kami membutuhkan dana hingga miliaran rupiah,” bebernya.

Pihaknya akan tetap merampungkan pengerjaan pembangunan balai desa tersebut. Ia akan kembali mengajukan bantuan dana aspirasi dari anggota DPRD Kabupaten Batang.“Karena kami tidak bisa menggunakan Dana Desa (DD) untuk merampungkan pekerjaan bangunan ini,” jelasnya.

Sementara itu, Camat Tulis Wawan Nurdiansyah menambahkan, saat ini pihaknya membutuhkan ahli teknik untuk menghitung, apakah memang benar ada kerugian dari negara dari proyek ini. Dari RAB, hingga pelaksaan proyek karena mereka tidak paham.

“Kami saat ini butuh tenaga ahli proyek, untuk menghitung apakah memang memang ada kerugian negara dan salah,” ujarnya. (han/zal)