Berdayakan Petani Bunga, Selama 2017 Dikunjungi 120 Ribu Orang

Setiya Aji Sulap Kebun Bunga Bandungan  Jadi Objek Wisata yang Instagramable

482
PETANI BUNGA: Setiya Aji bersama Rektor UNNES Prof Fathur Rokhman membawa buket bunga di sela wisuda kemarin. (kanan) Pengunjung berselfie di kebun bunga Setiya Aji. (ADITYO DWI/JAWA POS RADAR SEMARANG)
PETANI BUNGA: Setiya Aji bersama Rektor UNNES Prof Fathur Rokhman membawa buket bunga di sela wisuda kemarin. (kanan) Pengunjung berselfie di kebun bunga Setiya Aji. (ADITYO DWI/JAWA POS RADAR SEMARANG)

RADARSEMARANG.COM – Setiya Aji sukses berbisnis bunga segar. Ia juga menjadikan kebun bunga sebagai objek wisata yang instagramable.  Setidaknya setiap bulan, omzet Rp 50 juta dikantongi. Tak heran, saat diwisuda di Universitas Negeri Semarang (UNNES), Rabu (7/3) kemarin, ia membagikan 1.000 buket bunga kepada wisudawan sebagai bentuk rasa syukurnya.

ADENNYAR WYCAKSONO

ADA yang beda saat prosesi wisuda UNNES kemarin. Para wisudawan biasanya mendapatkan buket bunga usai mengikuti upacara wisuda dari teman atau orang terkasih. Namun ribuan wisudawan kemarin sudah membawa bunga jenis krisan pemberian Setiya Aji sebagai rasa syukur telah lulus dari program studi Pendidikan Teknologi Informasi dan Komputer.

“Sebagai rasa syukur saja sih, soalnya bisa lulus dan kuliah dari hasil jualan bunga,” kata Setiya Aji saat wisuda UNNES periode 1 tahun 2018, kemarin.

Ya, Aji –sapaan akrabnya–memang berasal dari latar belakang keluarga petani bunga di Bandungan, Kabupaten Semarang. Ia adalah pemilik Setiya Aji Flower Farms di Desa Jetis, Kecamatan Bandungan.  Aji paham benar cara bercocok tanam bunga. Secara tidak sengaja, ia yang didatangi teman kuliahnya asyik berswafoto di kebun miliknya. Tidak disangka, foto unggahannya tersebut menjadi viral dan menjadi objek wisata baru yang Instagramable di Kabupaten Semarang.

“Dulu sih iseng ya, upload ke medsos, eh ternyata banyak yang suka dan mau berkunjung dan jadi berkembang pesat seperti saat ini,” jelasnya bangga.

DOKUMEN SETIYA AJI 
DOKUMEN SETIYA AJI

Sejak menjadi viral tersebut, Aji banyak ditanya para netizen di mana tempat wisata yang ada di dalam background foto dirinya?  Alhasil, selama dua tahun ini,  kebun itu pun bertransformasi menjadi tujuan wisata para netizen yang ingin menikmati pemandangan bunga yang luar biasa. Pada 2017 lalu, total pengunjung kebun bunga Setiya Aji mencapai 120 ribu orang. “Baru di tahun 2016 lalu dibuka, lambat laun jadi kewalahan menampung para pengunjung, karena lahan yang dimiliki orang tua hanya sekitar setengah hektare,” ucapnya.

Besarnya permintaan masyarakat, lanjut Aji, akhirnya ia mencoba mengajak petani bunga lainnya dan mencoba memberdayakan masyarakat sekitar untuk bergabung dalam satu kelompok objek wisata. Setelah digabungkan dengan kebun bunga milik warga, kini luas lahan tempat wisata tersebut mencapai 5 hektare. “Sistemnya menjadi bagi hasil, total ada sekitar 100 petani, dan warga sekitar yang menjadi mitra, sehingga mendapatkan tambahan uang dari usaha ini,”paparnya.

Setiap akhir pekan, tercatat sedikitnya ada sekitar 600 pengunjung yang datang. Sementara untuk libur hari besar, ada sekitar 1.000 orang yang ingin menikmati aneka warna bunga dengan 30 jenis bunga yang dipamerkan.  Tarif untuk masuk ke kebun bunga ini terbilang cukup murah, yaitu Rp 7.500 sekali masuk. “Untuk laba bersih buat saya mencapai Rp 20 juta per bulan. Para petani lain pun juga menambah wahana petik bunga,” katanya.

Hamparan bunga chrysantium dengan warna kuning, biru, ungu dan merah menjadi latar belakang yang sempurna untuk foto Instagram. Dengan keterampilan yang dia dapat sewaktu kuliah,  Aji mencoba mengaplikasikan keahlian fotografi, editing dan desain visual untuk membuat bahan promosi di tengah kemajuan teknologi dan era digitalisasi.

“Saya juga mengaplikasikan apa yang saya dapat dari kuliah. Misalnya, fotogragfi dan editing. Bahkan saya kerap diendorse oleh akun-akun Instragram di bidang wisata dan banyak dibagikan oleh para netizen,” tandasnya.

Kini, Setiya Aji Flower Farms telah berubah menjadi bisnis yang serius, dan Setiya Aji bertekad untuk mengembangkan bisnisnya secara progresif. Agar mempertebal kemampuannya di bisnis pariwisata, Aji mengaku selalu mengikuti pelatihan kepariwisataan dinas terkait dan mengikuti pelatihan pemandu wisata.

“Saya juga berpikir menambah varian bunga lainnya, dan melakukan inovasi agar usaha ini bertambah besar serta banyak memberdayakan warga,” katanya.

Rektor UNNES Prof Fathur Rokhman mengaku bangga dengan prestasi dan usaha sambilan mahasiswanya tersebut di era disruptive innovation, yakni mengembangkan sisi keilmuan sekaligus mengembangkan soft skill. “Ini bisa menjadi inspirasi kepada mahasiswa lainnya, di mana Aji bisa mengkreasikan kebun bunga menjadi sebuah objek wisata yang dikenal secara luas dan menjadi daya tarik di Jawa Tengah,” ujarnya.

Dalam era disruptive innovation, lanjut Fathur, diperlukan kreativitas yang tinggi agar tidak tergilas atau tertinggal dari negara lain. Selain itu, juga bisa memanfaatkan segala peluang menjadi lapangan kerja. “Idenya kan sederhana, namun sangat kreatif dan memang sesuai dengan kebutuhan pasar,” ucapnya. (*/aro)