Ken Arok dan Politik Kekuasaan

922

RADARSEMARANG.COM – KEN Arok adalah sosok fenomenal pada zamannya. Ia punya cita-cita beristri cantik, berkuasa, dan harta berlimpah. Pada akhirnya, Ken Arok mampu mewujudkan cita-citanya, dengan membunuh Mpu Gandring dan Tunggul Ametung.

Dalam konteks watak keras dan kuatnya cita-cita seorang Ken Arok, musti diwariskan kepada generasi mendatang. Arok mampu menembus batas keterpasungan zaman. Ia anak dari desa, miskin, bukan keturunan bangsawan. Namun, Ken Arok mampu mendapatkan kekuasaan, meski dengan cara kurang terpuji. Ken Arok adalah seorang politikus ulung, ahli bermain peran, dan pembuat hoax. Kepiawaian politik Arok tampak saat menyusun strategi membunuh
Ametung.

Dimulai dengan memesan keris kepada Mpu Gandring, ia lantas membunuh si empu  membuat keris. Arok tak harus membanyar mahal untuk pesanan kerisnya. Satu tindakan menyelesaikan dua masalah sekaligus, benar-benar seorang ahli politik yang jitu. Ken Arok lantas membunuh Tunggul Ametung, ketika ia lelap bersama istrinya, Ken Dedes, yang
tengah hamil muda. Maka, impian Arok untuk mempersunting Ken Dedes menjadi  kenyataan.

Untuk mengelabuhi aksi jahatnya, Arok menyebar berita hoax. Yakni, bukan dia yang membunuh Gandring dan Ametung. Buktinya, keris yang dipakai untuk membunuh,
tidak ada tangkainya. Ia membuat hoax bahwa keris itu dicuri dari Mpu Gandring. Hampir
semua orang percaya dengan cerita hoax ala Ken Arok. Nah, dalam konteks hiruk-pikuk perpolitikan saat ini, masih diwarnai partai politik bergaya ala Ken Arok.

Lihatlah, saat ini parpol yang seharusnya berfungsi untuk membawa kesejahteraan, telah diubah oleh pemiliknya sebagai senjata pembunuh karakter lawan politik yang akan menghalangi niat mencapai kekuasaan. Perjalanan panjang pemimpin nasional Indonesia, hampir mirip dengan perjalanan Ken Arok menjadi penguasa.

Para cendekia yang bersekolah di sekolah milik penjajah untuk mendapatkan keris ilmu pengetahuan—setelah keris ilmu pengetahuan didapat—maka digunakan untuk menyadar rakyat tentang pentingnya kemerdekaan. Ibaratnya, keris ilmu pengetahuan membunuh citra penjajah. Selanjutnya, pemimpin pertama bangsa ini, “membunuh” penjajah dengan keris Proklamasi yang  merupakan era baru kemerdekaan.

Perkembangan berikutnya, muncul sosok Ken Arok berwujud parpol yang telah membunuh para Mpu Gandring, dan memasukkannya ke dalam satu sumur. Namun, parpol ini tak dapat membunuh pemimpin pertama bahkan akhirnya balik diserang, sehingga korban berjatuhan. Di sini, Ken Arok tidak dapat memenuhi ambisinya mendapat kekuasaan dan berakhir dengan pembubaran partai.

Kegagalan partai mendapat kekuasaan, memunculkan tokoh baru pemimpin bangsa ini yang dinilai banyak pihak berhasil membawa bangsa menjadi lebih maju dan sejahtera, namun pemimpin itu dihabisi karakternya sebagai pemimpin yang korup hingga semua keberhasilannya dinistakan.

Kemudian, pemimpin sesudahnya pun dibunuh karakternya hingga harus turun tahta. Belum berhenti di sini, “keris Mpu Gandring” masih bergentayangan membunuh pemimpin setelahnya sampai harus lengser.

Sampai saat ini, sudah pemimpin ketujuh yang harus menjadi korban pembunuhan karakter oleh “keris Mpu Gandring”. Penulis berharap, setelah itu, “keris Mpu Gandring” masuk ke museum dan bangsa ini akan mencapai  kesejahteraan, karena kejahatan “keris Mpu Gandring” sudah selesai. (*/isk)

Guru SMK 1 Windusari, Kab. Magelang