Disdikbud Tak Akan Intervensi Putusan Kepsek

456

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG – Kasus dua siswa SMA Negeri 1 Semarang, Anindya Puspita Helga Nur Fadhila (AN) dan Muhammad Afif Ashor (AF) yang dikeluarkan dari sekolah kini mulai masuk ranah hukum. Kabarnya, pihak orangtua kedua siswa lewat kuasa hukumnya telah mengajukan gugatan ke Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Semarang terkait putusan Kepala SMAN 1 Semarang, Endang Suyatmi Listyaningsih tersebut.

Seperti diketahui, AN dan AF  dikembalikan kepada orangtuanya lantaran diduga terlibat bullying dalam pelaksanaan Latihan Dasar Kepemimpinan (LDK) calon pengurus OSIS, November 2017 silam. Praktis, setelah dikembalikan ke orangtuanya alias dikeluarkan dari SMAN 1, AN dan AF sudah tidak sekolah lagi. Sebab, keduanya masih menolak mengikuti proses pembelajaran di sekolah yang menjadi rekomendasi dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Jawa Tengah, yakni SMA Negeri 2 dan SMA Negeri 6.

Kepala Disdikbud Jateng, Gatot Bambang Hastowo, ketika dikonfiirmasi terkait nasib AN dan AF mengaku menyerahkan keputusan final kepada pihak yang bersangkutan. Pihaknya tidak akan terlalu dalam mencampuri kasus yang sebenarnya sudah diputuskan oleh Kepala SMAN 1 Semarang tersebut.

“Yang bilang bahwa mereka tidak mendapatkan hak pendidikan, itu tidak benar. Sebab, sejak awal keduanya sudah difasilitasi oleh dinas untuk tetap dapat mengikuti unas (ujian nasional), tetapi tidak di SMAN 1 Semarang,” ungkap Gatot, Selasa (6/3).

Diberitakan sebelumnya, Disdikbud Jateng telah memfasilitasi AN dan AF untuk tetap dapat mendapat pendidikan dan mengikuti unas dengan merujuknya ke SMAN 2 Semarang dan SMAN 6 Semarang. Meski demikian, AN dan AF agaknya enggan menerima dan bersikukuh untuk dapat bersekolah di SMAN 1 Semarang.

Gatot mengatakan, pihaknya bertanggung jawab penuh bahwa hak-hak AN dan AF sebagai anak-anak untuk mendapat pendidikan tetap terpenuhi. Menurutnya, pihak yang bersangkutan harus berpikir tentang masa depan, yakni dengan mengambil kebijakan yang diberikan oleh dinas.

Terkait kasus ini, Gatot menegaskan bahwa keputusan pengembalian AN dan AF ke orangtua sepenuhnya tanggung jawab kepala sekolah. Pasalnya, kepsek telah mengambil langkah tegas dengan didasari tata tertib yang ada di satuan pendidikan tersebut. Sehingga pihaknya tidak bisa intervensi, lantaran terkait tata tertib.

“Itu kan keputusan finalnya kepsek, bahwa mereka (AN dan AF) itu melanggar tata tertib di sekolahnya. Nah kalau sudah tata tertib sekolah, ya dinas tidak bisa mengubah. Tetapi, kami bantu dengan fasilitasi,” terangnya.

Terkait dengan Kepala SMAN 1 Semarang Endang Suyatmi yang diadukan ke PTUN, Gatot mengatakan jika kasusnya akan berlanjut hingga jalur hukum maka kewenangan pendampingan bukan dengan pihaknya melainkan didampingi oleh Biro Hukum Setda Provinsi Jawa Tengah.

Sementara itu, AN ketika dihubungi Jawa Pos Radar Semarang terkait apakah sudah mulai bersekolah dan aktivitasnya sekarang, dia tidak menjawab banyak. AN hanya meminta agar didoakan dan diberikan kelancaran pada kejadian yang sedang menimpanya bersama rekannya AF. “Doain aja ya mbak, semoga diberi kelancaran dan dapat hasil yang memuaskan,” harapnya. (tsa/aro)