Oleh:  Kusnul Agustiana SPd
Oleh:  Kusnul Agustiana SPd

RADARSEMARANG.COM – Kebiasaan siswa sekarang sering menganggap remeh suba sita dalam bersikap. Semua dianggap sama seperti mereka. Bersikap dengan orang tua, guru, atau teman tidak ada bedanya. Lebih-lebih dalam bertindak tutur. Penggunaan kata aku, kula, njenengan, dan  sampeyan kurang dipahami siswa. Maka saat seorang siswa berkata kepada guru dengan kata “Aku mau ke belakang” tidak sadar bahwa hal demikian tidak sopan. Bahasa mempunyai nilai rasa selain makna dalam tataran Bahasa Jawa.

Peran guru sebagai pendidik sangat diperlukan guna membetulkan sikap siswa yang demikian. Karena kesalahan tidak semata dari siswa. Terlebih pola asuh dari orang tua sangat mempengaruhi selain lingkungan pergaulan. Sekolah sebagai tempat untuk menimba ilmu ikut berperan untuk membentuk sopan santun siswa.Kenyataan yang memprihatinkan, saat ini bahasa jawa krama inggil semakin hilang. Banyak para orang tua enggan untuk memberikan pembelajaran tentang bahasa Jawa krama inggil kepada anak-anaknya. Para orang tua justru membiasakan penggunaan bahasa indonesia kepda anaknya mulai dari kecil, padahal tanpa pembiasaan nantinya anak pasti bisa berbahasa indonesia tanpa pembiasaan sedari ia kecil. (kompasiana.com)

Guru Bahasa Jawa membentuk karakter santun siswa dengan pembiasaan menggunakan unggah-ungguh siswa, memaksimalkan  waktu yang ada untuk menerapkannya. Baik saat pembelajaran ataupun diluar pembelajaran. Penggunaan bahasa krama di lingkungan sekolah sudah difasilitasi oleh pemerintah dengan menentukan sehari wajib menggunakan Bahasa Jawa. Di Kota Semarang penggunaanya setiap hari Kamis. Mengawali pembelajaran, berbicara dengan semua warga sekolah, dan saat KBM dilakukan dengan menggunakan bahasa pengantar Bahasa Jawa.

Guru wajib menggunakan tataran Basa Krama kepada siswa. Apabila ada siswa yang tidak paham guru dapat membantu dengan menterjemahkannya. Bahwa penggunaan bahasa itu fleksibel. Kenyataan dalam pembelajaran sehari-hari dilingkungan  Kota Semarang cenderung menggunakan Bahasa Indonesia dan Bahasa Jawa.

Guru Bahasa Jawa harus selalu berprinsip bahwa penggunaan bahasa Jawa tataran Krama harus lebih banyak dari bahasa Indonesia. Sehingga siswa pun sedikit demi sedikit dapat paham baik dalam tataran tindak tutur maupun bersikap. Tidak ada hal yang salah dalam ranah belajar, tetapi belum benar atau tepat. Pujian juga akan memotifasi siswa untuk berperilaku yang benar sesuai dengan unggah-ungguh. Saat guru menghardik siswa pun selayaknya tidak menggunakan Bahasa Jawa Ngoko, karena dengan mengunakan Bahasa Krama sikap dan cara bertutur kata berbeda dibandingkan dengan Bahasa Ngoko.

Keakraban dengan siswa harus dibangun. Ketika siswa tidak lagi minder berkomunikasi dengan guru menggunakan Bahasa Krama atau campur antara ngoko dan krama maka kesempatan guru untuk meningkatkan karakter santun siswa mudah.

Sangat jarang orang yang menggunakan basa Krama itu misuh atau bersikap yang tidak sopan. Bisa dikatakan bahwa dengan menggunakan Bahasa Krama sikap sopan santun siswa mudah untuk diwujudkan, sesuai dengan tujuan pembelajaran siswa mampu mengungkapkan pikiran, pendapat, gagasan, dan perasaan secara lisan dalam berbagai ragam bahasa Jawa dengan unggah-ungguh yang benar.

Model pembelajaran menceritakan pengalaman pribadi yang paling berkesan dengan basa karma di depan kelas menuntut siswa mau tidak mau dia harus membuat dan bisa. Bahasa yang digunakan adalah bahasa kominukatif, bahasa yang mudah dipahami oleh pendengar atau lawan berbicara. (*/zal)

Guru SMP Negeri 10 Semarang