RADARSEMARANG.COM , SEMARANG – Industri pasar modal berangsur dikenal oleh masyarakat Jawa Tengah. Hal ini terlihat dari jumlah Single Investor Identification (SID) yang terus meningkat.

Kepala Bursa Efek Indonesia (BEI) Cabang Semarang, Fanny Rifqi El Fuad mengatakan, jumlah SID pada tahun 2012 sebanyak 14.726, kemudian meningkat menjadi 18.422 pada tahun 2013. Lalu naik lagi pada 2014 menjadi 21.591, pada 2015 kembali meningkat menjadi 37.309, 2016 menjadi 47.594 dan 2017 menjadi 54.411. “Jika diprosentasekan dari 2012 sampai 2017 terjadi 269 persen peningkatan,” ujarnya, kemarin.

Peningkatan tersebut tak lepas dari peran BEI dan sejumlah pihak terkait dalam mengedukasi masyarakat terkait pasar modal. Termasuk menjalin kerjasama dengan perguruan tinggi, yaitu dengan membuka galeri investasi.

Senada dengan yang diungkapkan Direktur Pengaturan Pasar Modal OJK , Luthfy Zain Fuady. Literasi masyarakat akan pasar modal dinilai masih sangat minim dibanding dengan literasi akan industri keuangan lainnya. Sosialisasi dan edukasi terus dilakukan guna meningkatkan literasi masyarakat.

“Secara nasional literasi pasar modal baru mencapai 4,4 persen. Dari 4,4 persen tersebut baru 1,14 persen saja yang sudah menggunakan pasar modal sebagai sarana berinvestasi,” ujarnya. Hal tersebut bisa dilihat dari SID yang ada di KSEI, untuk domestik belum mencapai 1 juta. Beda dengan perbankan yang justru terbalik. Yaitu penggunaan oleh masyarakat lebih tinggi daripada literasi.

Oleh karena itu, pihaknya bersama sejumlah pihak terkait gencar melakukan sosialisasi dan edukasi, khususnya pada siswa Sekolah Menengah Atas serta Perguruan Tinggi. Anak-anak muda ini diharapkan dapat menyebarkan informasi serta berinvestasi di pasar modal.

“Mahasiswa ini menjadi agent of change. Mereka bisa menularkan informasi ke keluarga, tetangga maupun orang-orang sekitar. Selain itu, mereka juga sudah dekat dengan lingkungan kerja dan segera berpenghasilan. Sehingga sudah bisa mulai merancang untuk berinvestasi,” ujarnya.

Ia menambahkan, selain gencar menyosialisasikan pasar modal ke masyarakat, pihaknya juga tak lupa mengedukasi dan memperbarui informasi seputar pasar modal pada internal OJK. Sehingga bisa lebih diandalkan oleh masyarakat dalam mendapatkan informasi. “Teman-teman di daerah juga perlu memahami produk pasar modal, karena menjadi tumpuan pertanyaan oleh masyarakat,” ujarnya. (dna/ric)