Hendi Kaji Pemekaran Kecamatan

398
PEMERATAAN PEMBANGUNAN : Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi memimpin rapat Forum Gabungan OPD Pemerintah Kota Semarang, di balai kota, Senin (5/3). (Ist)
PEMERATAAN PEMBANGUNAN : Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi memimpin rapat Forum Gabungan OPD Pemerintah Kota Semarang, di balai kota, Senin (5/3). (Ist)

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG – Pemecahan titik keramaian Kota Semarang menjadi fokus Wali Kota Hendrar Prihadi sejak dilantik memipin Kota Semarang pada tanggal 17 Februari 2016.

Dalam upayanya tersebut, wali kota yang akrab disapa Hendi itu menjalankan pola pemerataan pembangunan yang lebih memprioritaskan pembangunan di wilayah penyangga atau pinggir. Hal tersebut disampaikannya selepas memimpin rapat Forum Gabungan OPD Pemerintah Kota Semarang, di balai kota, Senin (5/3).

Menurut Hendi, ada sembilan program besar yang ia bawa. Selain unit reaksi cepat kesehatan dan peningkatakan peran wanita, sisanya fokus pada pembenahan dan pengembangan kawasan sub pusat kota, seperti pembangunan taman kota dengan wifi, underpass Jatingaleh, normalisasi Banjir Kanal Timur, Kampung Wisata Bahari Tambaklorok, Simpang Lima kedua, Semarang Expo Center, dan Light Rail Transit  (LRT).

Alhamdulillah, hari ini hampir semuanya sudah berjalan. Bahkan sebagian sudah rampung,” ujarnya.

Saat ini, lanjut Hendi, masih ada tiga PR (pekerjaan rumah) besar yang akan dimulai pengerjaannya, yatu Simpang Lima Kedua, Semarang Expo Center, dan LRT. Namun terkait  LRT / Monorail, Simpang Lima kedua, dan Semarang Expo Center, Hendi meyakinkan akan dimulai realisasinya sebelum periode masa jabatannya saat ini habis pada tahun 2021.

“LRT sudah masuk kajian, Simpang Lima kedua tahun ini sudah penyusunan Detail Engineering Design (DED), pembangunan Semarang Expo Center dalam hitungan kami tadi sudah bisa dimulai tahun depan,” tegas Hendi.

Selain itu, sebagai upaya pemerataan pembangunan ke semua wilayah, pihaknya tengah melakukan kajian untuk pemekaran kecamatan.

“Kota Semarang ini sebagai sebuah kota jumlah kecamatannya terlalu sedikit, sehingga masing-masing camat mengotrol wilayah yang terlalu luas, ini menjadi perhatian kami,” pungkas Hendi.

Menurutnya, di kota-kota lain, utamanya yang menjadi ibu kota provinsi, rata-rata memiliki 30 kecamatan. “Di Kota Semarang juga seharusnya begitu, mungkin antara 30 sampai 32 kecamatan,” tambahnya.

Hendi mengharapkan dengan adanya pemekaran kecamatan tersebut, tidak ada wilayah yang terlewatkan pembangunannya, karena masing-masing camat dapat lebih mudah untuk melakukan kontrol wilayah. Dengan begitu dirinya yakin bahwa pemerataan pembangunan dapat lebih mudah diupayakan. (sga/zal)