Zaenudin Kembangkan Batik Tiga Negeri Wonopringgo

Pesona Batik Tulis Leluhur Kabupaten Pekalongan

798
MOTIF BUNGA DAN HEWAN : Batik tiga negeri dengan motif Rifaiyah dominasi warna hijau dan motif bunga-bunga dan hewan. (TAUFIK HIDAYAT/JAWA POS RADAR SEMARANG)
MOTIF BUNGA DAN HEWAN : Batik tiga negeri dengan motif Rifaiyah dominasi warna hijau dan motif bunga-bunga dan hewan. (TAUFIK HIDAYAT/JAWA POS RADAR SEMARANG)

RADARSEMARANG.COM, KAJEN – Ketika menyebutkan batik tiga negeri, tidak semua orang tahu dan mengenal jenis batik ini. Karena batik ini merupakan salah satu masterpiece dalam dunia pembatikan. Bagaimana tidak, batik jenis ini merupakan perpaduan dari berbagai batik yang ada di tiga tempat yang berbeda yakni Lasem, Pekalongan dan Solo.

Pada saat itu, ketiga wilayah tersebut masih berada di zaman kolonial diberikan otonomi yang disebut negeri. Dari segi motif memang umum. Merupakan perpaduan dari ketiga tempat tersebut. Hanya saja yang memberikan kesan unik dan menarik ialah pada proses pembuatannya. Karena membutuhkan tingkat ketekunan tinggi dan proses yang rumit, jika dibandingkan dengan pembuatan batik lainnya.

Di Kabupaten Pekalongan hanya ada satu batik tiga negeri yang keberadaannya hampir punah, yakni di Desa Gondang, Kecamatan Wonopringgo. Adalah Zaenudin, 34, warga Desa Gondang RT 06 RW 02, Nomor 44, Kecamatan Wonopringgo, pengrajin batik tulis yang terus melestarikan batik tiga negeri Wonopringgo, yang kini nyaris punah karena tidak ada lagi yang meneruskan batik peninggalan leluhur.

Zaenudin menjelaskan, untuk motifnya sendiri merupakan perpaduan bunga, daun serta isen-isen khas batik Kabupaten Pekalogan, khususnya Wonopringgonan. Sedangkan untuk proses pembuatannya, pembatik menggunakan warna yang diperoleh dari batik tiga negeri ini. Seperti warna merah darah ayam dan warna hijau yang menjadi ciri khas dari batik Wonopringgo.

Adapun untuk warna merah yang diidentik dengan etnis Tionghoa, para pembatik menggunakan warna merah Kabupaten Lasem. Karena hingga saat ini wilayah Lasem memang paling banyak dihuni oleh etnis Tionghoa dengan ciri khas warna merah di setiap perayaan dan busananya.

Sedangkan untuk mendapatkan warna sogan dan cokelat, maka pembatik menggunakan warna biru khas Solo. Kemudian untuk memperoleh warna biru diambil dari warna khas Kabupaten Pekalongan atau Wonopringgonan.

“Saat ini hanya ada satu pembatik tiga negeri Wonopringgo, itu pun usianya sudah di atas 60 tahun. Dia membatik dan mewarnai sendiri. Jika saya tidak belajar dan melanjutkan batik tiga negeri Wonopringgonan, maka akan punah dan hanya menjadi sejarah,” ungkap Zaenudin, pemilik Falih Batik, Minggu (4/3).

Zaenudin menjelaskan bahwa ciri khas batik tiga negeri Wonopringgo, Kabupaten Pekalongan, setiap motif pada batiknya baik bunga dan hewan digambarkan secara utuh, beda dengan batik tiga negeri yang ada di daerah lain, seperti Kabupaten Lasem, Batang atau Solo yang dibuat dengan simbol lain yang terpotong.

Batik tiga negeri Wonopringgonan merupakan salah satu masterpiece dalam dunia pembatikan. Batik tiga negeri adalah sebuah motif yang menggambarkan tiga budaya Tioghoa, Belanda, dan Jawa.

“Falih Batik fokus untuk memproduksi batik tulis tige negeri Wonopringgonan. Disamping untuk melestarikan batik leluhur, juga untuk membangkitkan ekonomi masyarakat pembatik, maka saya bandrol dengan harga mulai dari Rp 750 ribu hingga Rp 2 jutaan,” jelas Zaenudin. (thd/adv/zal)