Nasib Warga Kebonharjo Tak Jelas

613
GUDANG PETI KEMAS : Kondisi Kebonharjo sekarang sudah berubah menjadi lokasi Peti Kemas, sedangkan rumah-rumah warga sudah hancur tak berbentuk. (JOKO SUSANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)
GUDANG PETI KEMAS : Kondisi Kebonharjo sekarang sudah berubah menjadi lokasi Peti Kemas, sedangkan rumah-rumah warga sudah hancur tak berbentuk. (JOKO SUSANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG – Nasib baik tak kunjung berpihak pada ratusan warga Kebonharjo, Semarang Utara, yang menjadi korban penggusuran PT Kereta Api Indonesia (KAI) beberapa waktu lalu.

Angin segar dari hasil dari rapat koordinasi terkait tindak lanjut penyelesaian sengketa lahan Kebonharjo di kantor Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian (Kemenko Perekonomian) yang dilangsungkan di Jakarta pada Oktober 2017 lalu, ternyata hanya hembusan kabar tak kunjung realisasi.

Ketua Forum RW Kebonharjo, Supardjo, mengatakan, pihaknya menunggu penyerahan surat dari Kementerian Perhubungan ke Kementerian Keuangan. Pihaknya berharap uang ganti layak untuk warga segera diberikan dan penyelesaian terkait payung hukum penggunaan anggaran segera dirampungkan.

Namun demikian, pihaknya tetap berterima kasih lantaran pemerintah pusat berinisiatif mengambil alih dan segera menyelesaikan permasalahan akibat penggusuran di Kebonharjo. Pihaknya memastikan, semua warga Kebonharjo tidak akan menghalangi proyek nasional tersebut dan akan selalu kooperatif. Hanya saja pihaknya juga meminta pemerinta memikirkan ganti yang layak untuk warga.

“Kami bersyukur pemerintah pusat ambil alih dan terjadi kesepakatan ganti layak itu. Sekarang kami masih menunggu kapan realisasinya,” kata Supardjo saat ditemui Jawa Pos Radar Semarang, Minggu (4/3).

Belum lagi, masalah baru setelah digusur warga yang ditempatkan di rumah susun sewa (Rusunawa) Kudu, Karangroto, Genuk, telah diusir paksa oleh pengelola rusunawa. Seperti halnya yang dialami dua warga Kebonharjo, Sujat Aryanto dan Aris Sudibyo.

Sujat mengatakan, aksi pengusiran ini dilakukan setelah adanya pemeriksaan oleh pengelola rusun. Awalnya UPTD melakukan pemeriksaan dan pendataan ulang tanpa pemberitahuan ke pihaknya. Namun begitu usai, tiba-tiba barang barang keduanya dikeluarkan tanpa sepengetahuan.

“Tapi barang barang sudah kami pindahkan ke sana. Memang belum ditinggali karena air dan listrik saat itu tidak ada. Bocor juga di kamar mandi,” kata Sujat Aryanto yang juga anggota Forum Pemuda Kebonharjo (FPK) ini.

Warga Kebonharjo lainnya, Aris Sudibyo, menyayangkan tindakan pengelola rusun yang mengeluarkan barang barang tanpa sepengetahuan pemilik.

“Pengelola rusun sebelumnya memang telah meminta kepada sebagian warga untuk mengeluarkan barangnya, hanya saja tidak disampaikan ke semua warga Kebonharjo.

Sekarang malah sudah ada yang menempati, padahal bukan warga terdampak penggusuran,” imbunya. (jks/zal)