33 C
Semarang
Minggu, 31 Mei 2020

Tugas Utama, Kuatkan Mental Anak

Krisseptiana Hendrar Prihadi

Another

Di Suriname, Presiden pun Ikut Jemput Didi Kempot (10)

Didi Kempot adalah tombo kangen warga Suriname terhadap tanah leluhur. Untuk mengenang dan menghormati sang maestro, puluhan artis di...

Dari ”Terminal Tirtonadi” ke ”Pantai Klayar” lewat ”Dalan Anyar” (9)

Pola yang dipakai Didi Kempot dalam ”Stasiun Balapan” diterapkan pula pada lagu-lagunya yang mengambil nama tempat: memadukannya dengan kisah...

Dari Stasiun Balapan, Didi Kempot Berjalan Jauh… (8)

Cerita seorang tetangga dan pernah mengamen di sana menjadi inspirasi di balik lirik Stasiun Balapan. Dari lagu yang semula cuma...

RADARSEMARANG.COM – Sebagai istri Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi, Krisseptiana Hendrar Prihadi otomatis memiliki sejumlah jabatan yang melekat. Diantaranya Ketua Tim Penggerak Pembinaan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK) Kota Semarang dan Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kota Semarang. Semua jabatan tersebut sebelumnya merupakan dunia yang baru baginya yang berlatar belakang orang perbankan.
“Banyak sekali penyesuaiannya, apalagi saya 13 tahun kerja di perbankan,” kata wanita yang akrab disapa Tia Hendi ini. Penyesuaian lainnya adalah ketika ia harus mengenakan rok lebih sering. Padahal Tia mengaku cenderung tomboy. Sikapnya ini, tak jarang mendapat komentar dari masyarakat maupun lingkungan kerja.
“Saya itu yang penting nyaman, sehari-hari ya pakainya celana. Kaos yang casual aja. Tapi ya ada aja yang bilang, istrinya wali kota kok ternyata biasa aja (dandannya),” ujar Sarjana Hukum ini.

PENUH CINTA : Tia berfoto bersama suami, Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi. (Dokumen pribadi)
PENUH CINTA : Tia berfoto bersama suami, Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi. (Dokumen pribadi)

Tia mengaku tidak mempersoalkan komentar-komentar miring tentang dia. Menurutnya, terkait hal ini telah dibicarakan dan disepakati dengan sang suami. Sebab seseorang tidak bisa terus mendengarkan dan mengikuti setiap kemauan orang lain. “Beberapa kritik yang membangun, tentu kita dengarkan. Pernah dibilang tidak bisa menempatkan diri, harusnya istri wali kota penampilannya ya yang seperti dipikirkan mereka. Tapi kan tidak terus soal penampilan semuanya dituruti, disesuaikan dengan keadaannya saja,” tambahnya saat diwawancarai Jawa Pos Radar Semarang di kantor TP PKK Kota Semarang.
Tia berprinsip meski menjadi tokoh masyarakat, bukan berarti seseorang tidak boleh memiliki privasi. Dalam hal ini, Tia mengatakan kalau dirinya akan selalu memiliki me time. Dalam artian, ia akan tetap beraktivitas untuk dirinya sendiri. Me time bagi Tia sesederhana jalan-jalan di mal hingga duduk santai di rumah menikmati waktu.
“Saya tidak mau bersikap yang pura-pura. Saya ya orangnya begini, dengan begini saya berharap sekali dan ingin bisa lebih dekat dengan masyarakat. Saya rasa, saya juga lebih nyaman begini,” pungkasnya.
Dia mengatakan, di tengah kesibukannya mendampingi suami ataupun menjalankan tugasnya sebagai Ketua TP PKK Kota Semarang dia selalu meluangkan waktu untuk anak-anaknya. Bagi dia, sikap orangtua kepada anak akan mempengaruhi tumbuh kembang dan cara berperilaku anak. Di sisi lain, hal tersebut juga didasari pekerjaan orangtuanya yang merupakan pejabat pemerintah.
“Saya selalu usahakan, jam 6 itu sudah sampai di rumah. Karena anak-anak kan sekolah juga les sampai sore, jadi saya batasi jam kerja saya. Pokoknya harus sempat untuk ajak ngobrol mereka,” ucapnya.
Tia berbagi cerita bagaimana mengasuh tiga anak, dengan jadwalnya yang padat dan sering mendampingi suaminya. Ia mengaku beruntung memiliki anak-anak yang tangguh dan mau mengerti kepadatan jadwal kedua orangtuanya.
“Kebetulan yang sulung, Anindya, saat ini kuliah di Australia. Jadi saya di rumah bareng Manda dan Arya, kalau di rumah itu pasti saya tanyai, gimana sekolahnya hari ini, lancar nggak,” tuturnya.
Tia membeberkan, tak hanya dirinya yang harus menyesuaikan sebagai istri pejabat melainkan juga ketiga anaknya. Khususnya Manda dan Arya yang tinggal dan bersekolah di Semarang. Keduanya, tak jarang menjadi sasaran keluh kesah teman-temannya terkait kebijakan Pemerintah Kota Semarang.
“Kadang-kadang Manda atau Arya itu kalau pulang sekolah mukanya kusut, biasanya kalau begitu, di sekolah ada yang komplain soal bapaknya. Salah satunya soal jalan satu arah,” katanya menceritakan sang anak.
Tia menceritakan, anaknya sering menjadi sasaran baik teman sekelas bahkan mungkin juga orangtua temannya untuk melemparkan keluh kesah. Namun, hal itu tidak membuat Tia meminta kepada sekolah agar putranya diperlakukan istimewa.
Bahkan, Tia selalu mengingatkan kembali pada para guru maupun wali kelasnya di setiap kesempatan dirinya ke sekolah sang anak baik untuk mengambil rapor atau undangan wali murid. Tia tidak ingin anaknya terdidik manja karena merasa dilindungi.
“Tapi, guru-guru itu malah bilang sama saya kalau mereka justru mesakke dengan anak-anak yang dibegitukan dengan temannya. Saya bilang, intinya jangan sampai mentang-mentang anak wali kota kemudian dibedakan,” kata perempuan berambut panjang itu.
Diawal masa ketika sang ayah, Hendi, sapaan akrab Wali Kota Semarang itu menjadi seorang Wakil Wali Kota Semarang tahun 2010, Tia membeberkan ketiga anaknya selalu menangis ketika harus ditinggalnya mendampingi sang suami. Namun, seiring berjalannya waktu dan bertambahnya usia membuat anak-anaknya dapat memahami kesibukan baik Sang Ibu maupun Ayahnya.
“Saya tanamkan pemahaman sama mereka, termasuk kaitannya kalau ada yang sambat soal kebijakan bapaknya. Bahwa jabatan politis akan selalu ada orang yang suka dan tidak suka, saya teguhkan mental mereka. Selayaknya peran orangtua saja,” jelas dia.
Tia mengisahkan sebuah cerita tentang anaknya yang saat itu lupa mengenakan ikat pinggang. Pada hari itu, anaknya pun jadi sasaran omongan teman-temannya. Hal itu tentu saja membuat putra keduanya, Manda, bermuka masam saat kembali ke rumah. Disaat itulah, menurut Tia, perannya sebagai ibu sangat berharga.
“Tugas saya itu menguatkan mental anak saya. Kita tidak bisa membuat semua orang suka dengan karakter dan siapa kita ini. Intinya, penguatan mental itu sangat penting,” tegasnya.
Meski seorang ibu, Tia mengaku selalu mengingatkan kepada suaminya untuk ikut serta berpengaruh dalam tumbuh kembang ketiga anaknya. Bagi dia, baik ibu maupun bapak memiliki peran yang sama pentingnya dalam membentuk karakter anak. Hal ini pun diterapkannya dalam pembinaan ibu-ibu anggota PKK di Kota Semarang. (afiati tsalitsati/ric)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Latest News

Di Suriname, Presiden pun Ikut Jemput Didi Kempot (10)

Didi Kempot adalah tombo kangen warga Suriname terhadap tanah leluhur. Untuk mengenang dan menghormati sang maestro, puluhan artis di...

Dari ”Terminal Tirtonadi” ke ”Pantai Klayar” lewat ”Dalan Anyar” (9)

Pola yang dipakai Didi Kempot dalam ”Stasiun Balapan” diterapkan pula pada lagu-lagunya yang mengambil nama tempat: memadukannya dengan kisah kasih. Lirik-liriknya memicu penasaran orang...

Dari Stasiun Balapan, Didi Kempot Berjalan Jauh… (8)

Cerita seorang tetangga dan pernah mengamen di sana menjadi inspirasi di balik lirik Stasiun Balapan. Dari lagu yang semula cuma diproduksi 100 biji kaset itu,...

Didi Kempot Tak Suka Merayu meski Jago Bikin Lagu Romantis (7)

Salah satu kesedihan terbesar dalam hidup Didi Kempot adalah tak bisa menunggui kelahiran anak pertama karena tak punya ongkos pulang. Sempat membuatkan lagu khusus...

Bakat dan Kegigihan sang Maestro Sudah Terlihat di Ngawi (6)

Karakter bersahaja dan pantang menyerah Didi Kempot terasah sejak masa kecilnya di Ngawi. Suaranya bagus dan punya karisma. LATIFUL HABIBI, Ngawi, Jawa Pos — KATA sang kakak, ”Pas kecil...

More Articles Like This

Must Read

Smart City Dukung Investasi dan Wisata

RADARSEMARANG.COM, BATANG - Pemkab Batang menggelar sosialisasi dan Bimbingan Teknis Tahap I Gerakan Menuju 100 Smart City di aula kantor bupati, Senin (16/7). Selain melibatkan...

Sarah’s Bag Itu

Oleh: Dahlan Iskan Sudah lama saya dengar: Beirut adalah Parisnya Timur Tengah. Dari 10 wanita 20 yang cantik. Dalam sejarah disebut negeri Syam – –...

Citra Mandiri Biayai Cek Garansi Kosong

SEMARANG-Terdakwa sekaligus bos CV Lancar Motor Setiyono Raharjo diperiksa dalam persidangan perkara dugaan perbuatan memalsukan, mengubah, menghilangkan atau dengan cara apapun memberikan keterangan menyesatkan...

Dinding Lennon

Sebentar lagi genap dua bulan: demo di Hongkong itu. Masih belum menyamai tahun 2014 lalu: 70 hari. Tepatnya 78 hari. Tapi nada-nadanya kali ini...

Lansia Harus Bergerak

MAGELANG - Ribuan lansia di Kota Magelang antusias mengikuti Festival Ramah Lansia dalam peringatan Hari Olahraga Nasional (Haornas) ke-34 di Alun-alun Kota Magelang, Jumat...

PKB Buka Posko Pengaduan

KENDAL-Dewan Pimpinan Cabang (DPC) PKB Kendal membentuk Posko Pengaduan Pelanggaran Seleksi Perangkat Desa. Hal itu dilakukan untuk menyikapi berbagai isu yang muncul, yakni adanya...