HARMONIS : Tia Hendi bersama suami, Hendrar Prihadi dan ketiga anaknya, Anindya, Manda, dan Arya. (Dokumen pribadi)
HARMONIS : Tia Hendi bersama suami, Hendrar Prihadi dan ketiga anaknya, Anindya, Manda, dan Arya. (Dokumen pribadi)

RADARSEMARANG.COM – Sebagai istri Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi, Krisseptiana Hendrar Prihadi otomatis memiliki sejumlah jabatan yang melekat. Diantaranya Ketua Tim Penggerak Pembinaan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK) Kota Semarang dan Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kota Semarang. Semua jabatan tersebut sebelumnya merupakan dunia yang baru baginya yang berlatar belakang orang perbankan.

“Banyak sekali penyesuaiannya, apalagi saya 13 tahun kerja di perbankan,” kata wanita yang akrab disapa Tia Hendi ini. Penyesuaian lainnya adalah ketika ia harus mengenakan rok lebih sering. Padahal Tia mengaku cenderung tomboy. Sikapnya ini, tak jarang mendapat komentar dari masyarakat maupun lingkungan kerja.

“Saya itu yang penting nyaman, sehari-hari ya pakainya celana. Kaos yang casual aja. Tapi ya ada aja yang bilang, istrinya wali kota kok ternyata biasa aja (dandannya),” ujar Sarjana Hukum ini.

PENUH CINTA : Tia berfoto bersama suami, Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi. (Dokumen pribadi)
PENUH CINTA : Tia berfoto bersama suami, Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi. (Dokumen pribadi)

Tia mengaku tidak mempersoalkan komentar-komentar miring tentang dia. Menurutnya, terkait hal ini telah dibicarakan dan disepakati dengan sang suami. Sebab seseorang tidak bisa terus mendengarkan dan mengikuti setiap kemauan orang lain. “Beberapa kritik yang membangun, tentu kita dengarkan. Pernah dibilang tidak bisa menempatkan diri, harusnya istri wali kota penampilannya ya yang seperti dipikirkan mereka. Tapi kan tidak terus soal penampilan semuanya dituruti, disesuaikan dengan keadaannya saja,” tambahnya saat diwawancarai Jawa Pos Radar Semarang di kantor TP PKK Kota Semarang.

Tia berprinsip meski menjadi tokoh masyarakat, bukan berarti seseorang tidak boleh memiliki privasi. Dalam hal ini, Tia mengatakan kalau dirinya akan selalu memiliki me time. Dalam artian, ia akan tetap beraktivitas untuk dirinya sendiri. Me time bagi Tia sesederhana jalan-jalan di mal hingga duduk santai di rumah menikmati waktu.

“Saya tidak mau bersikap yang pura-pura. Saya ya orangnya begini, dengan begini saya berharap sekali dan ingin bisa lebih dekat dengan masyarakat. Saya rasa, saya juga lebih nyaman begini,” pungkasnya.

Dia mengatakan, di tengah kesibukannya mendampingi suami ataupun menjalankan tugasnya sebagai Ketua TP PKK Kota Semarang dia selalu meluangkan waktu untuk anak-anaknya. Bagi dia, sikap orangtua kepada anak akan mempengaruhi tumbuh kembang dan cara berperilaku anak. Di sisi lain, hal tersebut juga didasari pekerjaan orangtuanya yang merupakan pejabat pemerintah.

“Saya selalu usahakan, jam 6 itu sudah sampai di rumah. Karena anak-anak kan sekolah juga les sampai sore, jadi saya batasi jam kerja saya. Pokoknya harus sempat untuk ajak ngobrol mereka,” ucapnya.

Tia berbagi cerita bagaimana mengasuh tiga anak, dengan jadwalnya yang padat dan sering mendampingi suaminya. Ia mengaku beruntung memiliki anak-anak yang tangguh dan mau mengerti kepadatan jadwal kedua orangtuanya.

“Kebetulan yang sulung, Anindya, saat ini kuliah di Australia. Jadi saya di rumah bareng Manda dan Arya, kalau di rumah itu pasti saya tanyai, gimana sekolahnya hari ini, lancar nggak,” tuturnya.

Tia membeberkan, tak hanya dirinya yang harus menyesuaikan sebagai istri pejabat melainkan juga ketiga anaknya. Khususnya Manda dan Arya yang tinggal dan bersekolah di Semarang. Keduanya, tak jarang menjadi sasaran keluh kesah teman-temannya terkait kebijakan Pemerintah Kota Semarang.

“Kadang-kadang Manda atau Arya itu kalau pulang sekolah mukanya kusut, biasanya kalau begitu, di sekolah ada yang komplain soal bapaknya. Salah satunya soal jalan satu arah,” katanya menceritakan sang anak.

Tia menceritakan, anaknya sering menjadi sasaran baik teman sekelas bahkan mungkin juga orangtua temannya untuk melemparkan keluh kesah. Namun, hal itu tidak membuat Tia meminta kepada sekolah agar putranya diperlakukan istimewa.

Bahkan, Tia selalu mengingatkan kembali pada para guru maupun wali kelasnya di setiap kesempatan dirinya ke sekolah sang anak baik untuk mengambil rapor atau undangan wali murid. Tia tidak ingin anaknya terdidik manja karena merasa dilindungi.

“Tapi, guru-guru itu malah bilang sama saya kalau mereka justru mesakke dengan anak-anak yang dibegitukan dengan temannya. Saya bilang, intinya jangan sampai mentang-mentang anak wali kota kemudian dibedakan,” kata perempuan berambut panjang itu.

Diawal masa ketika sang ayah, Hendi, sapaan akrab Wali Kota Semarang itu menjadi seorang Wakil Wali Kota Semarang tahun 2010, Tia membeberkan ketiga anaknya selalu menangis ketika harus ditinggalnya mendampingi sang suami. Namun, seiring berjalannya waktu dan bertambahnya usia membuat anak-anaknya dapat memahami kesibukan baik Sang Ibu maupun Ayahnya.

“Saya tanamkan pemahaman sama mereka, termasuk kaitannya kalau ada yang sambat soal kebijakan bapaknya. Bahwa jabatan politis akan selalu ada orang yang suka dan tidak suka, saya teguhkan mental mereka. Selayaknya peran orangtua saja,” jelas dia.

Tia mengisahkan sebuah cerita tentang anaknya yang saat itu lupa mengenakan ikat pinggang. Pada hari itu, anaknya pun jadi sasaran omongan teman-temannya. Hal itu tentu saja membuat putra keduanya, Manda, bermuka masam saat kembali ke rumah. Disaat itulah, menurut Tia, perannya sebagai ibu sangat berharga.

“Tugas saya itu menguatkan mental anak saya. Kita tidak bisa membuat semua orang suka dengan karakter dan siapa kita ini. Intinya, penguatan mental itu sangat penting,” tegasnya.

Meski seorang ibu, Tia mengaku selalu mengingatkan kepada suaminya untuk ikut serta berpengaruh dalam tumbuh kembang ketiga anaknya. Bagi dia, baik ibu maupun bapak memiliki peran yang sama pentingnya dalam membentuk karakter anak. Hal ini pun diterapkannya dalam pembinaan ibu-ibu anggota PKK di Kota Semarang. (afiati tsalitsati/ric)