Teh Celup Unik Bernuansa Pilkada

596
IDE KREATIF: Teh celup produksi Luh Sukmo Kuncoro bergambar aneka paslon pilkada. (ARIEF BUDIMAN/JAWA POS RADAR SOLO)
IDE KREATIF: Teh celup produksi Luh Sukmo Kuncoro bergambar aneka paslon pilkada. (ARIEF BUDIMAN/JAWA POS RADAR SOLO)

RADARSEMARANG.COM – TAHUN Politik membuat suasana kian memanas. Perang opini masing-masing tim sukses pasangan calon (paslon) sering kali berujung black campaign . Fenomena ini yang ditangkap oleh Luh Sukmo Kuncoro. Dia menawarkan solusi bagi para paslon untuk melakukan kampanye kreatif melalui media teh celup.

Begitu wartawan koran ini masuk ke tempat usaha Luh Sukmo Kuncoro di Perumahan Bolon Baru No. 4 Dusun Gonggangan, Desa Bolon, Kecamatan Colomadu, tampak berjejer puluhan teh celup unik. Unik di sini karena pegangan teh ini lain dari produk biasanya. Ada gambar paslon gubernur maupun wakil gubernur yang akan bertanding dalam pilkada serentak tahun ini dari berbagai daerah di Indonesia.

Awal tercetus ide ini, diakui Kuncoro karena keisengan dia dalam membuat inovasi produk. Karena bersamaan dengan momen pilkada, maka akhirnya muncul ide membuat teh celup bergambar paslon tersebut.

“Saya coba tawarkan kepada empat paslon asal Jawa Timur dan Gorontalo. Setelah saya upload di medsos, ternyata reponsnya banyak. Sudah puluhan paslon dari berbagai daerah yang menghubungi saya untuk dibuatkan produk ini.  Malah sudah ada calon legislatif juga ikut pesan. Padahal pemilihannya masih tahun depan,” kata Kuncoro.

Meski banyak permintaan, namun Kuncoro tetap menjaga nuansa pilkada agar tidak panas. Caranya, dia hanya melayani paslon yang pesan dulu dalam satu daerah. “Jadi misal satu daerah ada dua paslon, dan salah satunya pesan duluan, maka yang satunya tidak akan saya layani. Jadi siapa cepat, dia dapat,” kalakar Kuncoro

Dalam satu kotak kemasan ini ada delapan teh celup. Selain itu nanti ada selebaran terkait profil, visi-misi hingga janji-janji kampanye yang menjadi kontrak politik. Sehingga ketika sudah menjadi pimpinan daerah dan siapa tahu ingkar, ada bukti soal janji-janji mereka dahulu. Masyarakat bisa menagih.

“Ternyata keresahan itu juga dialami semua orang Indonesia yang bekerja di luar negeri. Sehingga butuh produk yang bisa mengobati rasa rindu tersebut. Karena pasar saya itu sampai luar negeri, jadi kalau kebetulan ada orang Indonesia di negara lain beli, maka rasa kangen mereka akan hilang. Karena satu kota berisi 24 karakter baju adat dari berbagai suku di Indonesia,” tutur pria kelahiran Ngawi, 3 Desember 1967 ini.

Meski dijual murah meriah, namun omzet yang diraup Kuncoro cukup fantastis. Yaitu menyentuh angka Rp 200 juta hingga Rp 250 juta perbulannya. Sebenarnya bapak dua anak ini bisa mendapat omzet yang lebih tinggi apabila fokus membuat kemasan untuk produksi skala besar.  “Tapi siapa yang nanti memikirkan UMKM. Jadi prinsip saya menjadi pengusaha bukan untuk memperkaya diri, namun bagaimana bisa menjadi manfaat bagi orang banyak,” ujarnya. (atn/bun/bas)