Oleh : Eko Nurpriyanti MPd
Oleh : Eko Nurpriyanti MPd

RADARSEMARANG.COM – SALAH satu keterampilan berbahasa yang harus dikuasai siswa dalam pembelajaran adalah membaca. Dengan membaca, seseorang secara tidak langsung sudah mengumpulkan kata demi kata dalam mengaitkan maksud dan arah bacaannya yang pada akhirnya pembaca dapat menyimpulkan suatu hal dengan nalar yang dimilikinya. Membaca tidak hanya membunyikan huruf-huruf yang tersusun rapi dalam teks tersebut, melainkan harus dengan memahaminya atau istilah lainnya adalah membaca pemahaman.

Membaca pemahaman adalah membaca yang mengutamakan isi bacaan sebagai ungkapan pikiran atau perasaan, kehendak penulis, serta untaian unsur bahasa di dalamnya. Jadi membaca pemahaman adalah penafsiran yang memadahi terhadap makna-makna yang terkandung di dalam lambang-lambang tertulis atau kecepatan membaca dalam memahami isi bacaan secara keseluruhan.

Membaca kelihatannya sangat mudah dilakukan karena tidak membutuhkan pemikiran yang lebih seperti halnya keterampilan berbahasa yang lainnya. Namun pada kenyataannya kemampuan membaca siswa sangat kurang, apalagi tingkat kemampuan membaca pemahaman. Berdasarkan pengalaman pembelajaran Bahasa Indonesia, ternyata kemampuan membaca pemahaman pada siswa masih rendah. Siswa cenderung membaca kembali suatu teks bila menjawab pertanyaan yang berkaitan dengan teks tersebut atau hanya sekedar mengungkapkan kembali isi teks yang mereka baca. Hal ini menyebabkan waktu pemebelajaran tidak efektif dan siswa tidak mendapatkan informasi secara mendalam dari teks yang mereka baca.

Rendahnya tingkat kemampuan membaca pemahaman disebabkan adanya beberapa faktor, antara lain; siswa belum terampil dalam membaca pemahaman, siswa tidak terbiasa membaca pemahaman, dan kurangnya motivasi dari siswa dalam membaca. Hal tersebut ditunjukkan dengan perilaku siswa yang sering mengeluh, malas, bahkan menolak pada saat guru menyuruh membaca. Apalagi jika harus membaca teks yang terlihat panjang, semangat mereka langsung hilang.

Selain itu, pembelajaran yang dilakukan oleh guru juga mempengaruhi hasil belajar siswa. Guru yang hanya menggunakan teknik ceramah, mengandalkan buku paket, dan tidak melakukan pendampingan secara intensif kepada siswa pada saat pembelajaran tentunya membuat siswa bosan dan tidak menarik. Untuk mengatasi hal tersebut, maka perlu dipilih teknik membaca pemahaman yang tepat agar dapat memberikan peluang bagi siswa untuk lebih banyak pengalaman membaca pemahaman, memotivasi siswa, serta mudah dalam memahami isi suatu teks.

Making Predictionand Inference (membuat prediksi dan simpulan) dapat dijadikan salah satu alternatif untuk meningkatkan kemampuan membaca pemahaman. Teknik  ini melibatkan media gambar  sehingga sangat membantu siswa dalam memahami isi teks. Dalam membuat prediksi dan simpulan, pembaca dilibatkan secara langsung karena mereka langsung berhubungan dengan teks yang dibaca. Pembaca dapat menginterpretasi, memperoleh, mengolah, dan menyebarluaskan informasi yang dibaca.

Teknik ini mempunyai lima tahap, yaitu tahap membaca judul dan melihat gambar yang berkaitan dengan teks, tahap memprediksi isi teks tahap menulis prediksi yang berkaitan dengan teks, tahap membaca dan menandai hal-hal penting dalam teks, menemukan kata yang belum dipahami dan mencari makna kata tersebut dalam kamus, dan tahap mencatat informasi penting yang terdapat dalam teks. Selain penggunaan teknik tersebut dalam pembelajaran, pendampingan secara intensif dari guru juga diperlukan karena siswa tetap membutuhkan arahan. Dengan demikian, pembelajaran membaca pemahaman pada siswa akan berhasil. (tj3/aro)

Guru SMP Negeri 12 Semarang