Oleh : Prastiti SPd *)
Oleh : Prastiti SPd *)

RADARSEMARANG.COM – KENAPA kita tidak mau menulis? Menulis itu susah mending ngomong. Itu yang selalu dilontarkan siswa saat disuruh menulis. Salah satu keterampilan berbahasa yang dianggap sulit adalah menulis. Peserta didik di pendidikan dasar dan menengah, mahasiswa di pendidikan tinggi, dan bahkan orang-orang yang sudah menamatkan perguruan tinggi pun mengeluhkan sulitnya menulis. Akibat keluhan itu, akhirnya menjadi opini umum, bahwa menulis itu memang sulit, apalagi bahasa asing seperti bahasa Inggris. Apakah memang menulis itu sulit? Inilah pertanyaan yang perlu dijawab sebenarnya.

Jangan khawatir, penulis pun dulunya seperti itu, meskipun profesi memang menuntut untuk rajin menulis. Menulis artikel beda benar dengan menulis karya ilmiah yang harus mengikuti kaidah ilmiah, sementara tulisan opini boleh sekendak hati kita tidak harus mengikuti tata cara yang baku. Cuma syarat wajibnya opini haruslah berasal dari acuan yang terpercaya, kredibel, dan tak bisa dibantah serta menjadi tanggung jawab si penulis sendiri. Disadari atau tidak, sebenarnya menulis itu merupakan aktualisasi pikiran kita. Menulis merupakan sebuah terapi untuk memahami pikiran kita sendiri. Jangan takut salah, jangan takut tidak bisa, mari ikut mencerdaskan bangsa melalui lincahnya jemari di keyboard laptop.

Okay… penulis mau sedikit berbagi tips supaya kita berani menulis, meskipun belum sehebat penulis – penulis yang sudah banyak menelurkan karya ilmiah maupun para penulis yang karyanya dimuat di media. Setidaknya kita bisa memberi contoh dan memotivasi anak didik kita untuk berani menulis. Tips ini hanya berdasar pada pengalaman penulis saja, bagaimana supaya kita dapat menuangkan ide atau gagasan atau pendapat kita dalam bentuk tulisan. Sebenarnya tidak susah, karena ide maupun gagasan buat memulai untuk menulis itu ada di sekitar kita sendiri.

Pertama, ide itu bisa dari pengalaman kita sendiri. Mulai kita membuka mata di pagi hari, sampai malam pun kita pasti memiliki pengalaman dalam menjalani hidup sepanjang hari itu. Apa saja yang kita rasakan seperti rasa sedih, senang, kecewa, tulislah! Tulis apa adanya, biarkanlah tulisan itu mengalir begitu saja kalau perlu jangan diedit dulu, karena kalau diedit akan kehilangan imajinasi kita dan ini yang bisa membuat mandeg tulisan kita. Misal dalam menulis karangan narasi.

Kedua, ide itu bisa dari pengalaman teman atau orang lain. Saat kita bisa merasakan kebahagiaan teman ketika dia mengalami sesuatu yang istimewa dalam hidupnya entah ia menikah, lulus ujian, diterima kerja, itu bisa menjadi salah satu idemu. Tuliskanlah. Demikian juga sebaliknya, ketika teman sedang mengalami peristiwa yang tidak diharapkan. Semua itu dapat dituangkan dalam suatu tulisan yang bisa menjadi motivasi, referensi, dan inspirasi bagi pembaca.

Ketiga, ide itu bisa berasal dari suatu peristiwa dari majalah, koran atau dari media sosial yang sedang in sekarang ini. Perlu diperhatikan dalam menulis atau menyampaikan gagasan yang bersumber dari media massa. Sebab, kita harus jeli dalam menangkap suatu masalah dari media cetak, elektronik, atau media sosial. Jangan sampai opini yang ditulis itu sumber beritanya ternyata hoax, sehingga tulisan kita dapat menimbulkan masalah tidak produktif, justru kontra produktif.

Keempat, menulislah dengan hatimu. Hati akan selalu berkata jujur apa adanya. “Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian” (Pramoedya Ananta Toer). Artinya kita perlu eksistensi diri, maka menulislah untuk mengabarkan ide atau gagasan yang ingin kita sampaikan.

Menulis merupakan hal yang bermanfaat yang bisa mendatangkan semangat, menambah pengetahuan dan memberi inspirasi bagi pembacanya. Kelak tulisan kita akan menjadi catatan penting bagi anak cucu kita, karena menulis adalah bekerja untuk keabadian. Menulislah dengan enjoy. (as3/ida)

*) Guru SMK Negeri 1 Gesi, Sragen