MAKIN TERKENAL : Warga Kampung Bustaman  RT 4, RW 03, Keluarahan Purwodinatan, Kecamatan Semarang Tengah menunjukkan logo resmi Gulai Bustaman. (JOKO SUSANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)
MAKIN TERKENAL : Warga Kampung Bustaman  RT 4, RW 03, Keluarahan Purwodinatan, Kecamatan Semarang Tengah menunjukkan logo resmi Gulai Bustaman. (JOKO SUSANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)

RADARSEMARANG.COM – Penjual gulai kambing Bustaman, Semarang, Rodliyah, mengaku dirinya merupakan generasi kelima dari keluarganya. Wanita enam anak tersebut mengungkapkan dari cerita leluhurnya, kali pertama kakeknya adalah jagal hewan di Kampung Bustaman, tepatnya sekitar tahun 1956.

Namun sesekali keluarganya di masa itu bersedia membuatkan gulai, apabila ada pesanan saja dari warga. Kemudian perlahan-lahan setelah diwariskan kepadanya sekitar 1965, usahanya berangsur meningkat dan semakin fokus membuat pesanan gulai kambing. Hingga sekarang, usahanya sudah diteruskan tiga anaknya, berbisnis gulai kambing.

Di kampung Bustaman, ia tergolong saksi sejarah eksistensi Kampung Bustaman. Sebab mayoritas wanita seusianya yang kelahiran 1951, kebanyakan sudah meninggal dunia.

Terkait sejarah kuliner gulai kambing, diketahuinya, Kampung Bustaman semula adalah tempat jagal hewan kambing. Kemudian berkembang menjadi Rumah Pemotongan Hewan (RPH). Di masa itu, kebanyakan warga Bustaman menjual daging kambing. Sehingag mengundang banyak pelancong dari luar kota atau istilahnya boroh. Mereka dari Kudus, Jepara, Purwodadi, dan Solo.

Kala itu, lanjut Rodliyah, warga Bustaman tidak bersedia menjual gulai. Justru para boroh tersebut yang membeli daging di wilayahnya dan memasaknya menjadi gulai untuk dijual. Namun setelah tahu prospeknya bagus, berangsur-angsur bergeser, warga Bustaman asli mulai bersedia membuat gulai untuk dijual.

Seingatnya, cikal bakalnya berawal dari zaman Lurah Taman Winangun (sekarang Purwodinatan, red), H Marzuki. Kemudian berkembang dan diikuti oleh dua orang jagal di masa itu yakni, Ibrahim dan H Ihrom. Mulai terkenal sebagai Kampung Bustaman dengan khas kulinernya gulai kambing, sebelum ada Gerakan September Tiga Puluh (Gestapu).

Namun semakin menggeliat dan dikenal publik, setelah dieksplore oleh Komunitas Hysteria Semarang, tepatnya sekitar delapan tahun lalu. Kini, tuturnya, masyarakat luas semakin banyak mengenal Kampung Bustaman. Akhirnya semakin banyak warga Bustaman yang membuka usaha gulai kambing. Bahkan banyak warga di luar Kampung Bustaman yang membuka warung gulai menggunakan nama Bustaman, karena bahan bakunya memang diperoleh di kampung tersebut. “Sekarang sudah mulai banyak warga Bustaman yang membuat gulai kambing,” kata Rodliyah saat ditemui Jawa Pos Radar Semarang di Kampung Bustaman, Jumat (2/3).

Generasi keenam penerus Rodliyah, Yulia Ulfa, menambahkan, setelah dieksplore oleh Komunitas Hysteria Semarang, sekarang rutin digelar festival kuliner tahunan yakni, Kuliner Petengan dan Tengok Bustaman.

Wanita dua anak kelahiran 1970 ini mengaku turut membuka usaha gulai kambing di daerah Damaran Semarang. Menu yang disuguhkan ada juga tongseng, ungkep kuah dan kentel, sate, bistik dan tengkleng. Warungnya juga menerima aqiqoh maupun katheringan. “Dalam sehari, saya jual paling sekitar 3-4 kilogram ditambah kepala kambing. Berbeda dengan tukang jagal sehari bisa 50 ekor kambing, tapi semua tergantung pemesanan,” imbuhnya.

Dikatakannya, dikampung tersebut, sudah ada yang jualan gulai kambing mulai pukul 05.30 pagi hingga 23.00 malam, dengan konsep jualan secara rollingan. Namun demikian, hingga saat ini, warga Bustaman yang berjualan gulai kambing hanya ada 20 orang. Sedangkan penjual daging mentah, hanya ada 5 orang. “Boroh itu bukan orang sini, cuma mencari nafkah disini. Jualannya menggunakan nama Bustaman, karena bahan bakunya dari Bustaman,” sebutnya.

Baginya, jualan gulai Bustaman sangat prospektif. Apalagi kampungnya pernah didatangi tamu dari luar negeri, termasuk dari Jepang. Ia menyebutkan, di kampung tersebut dalam 1 hari perputaran uang bisa mencapai Rp 5 juta.

Yulia juga sangat membuka diri, apabila ada investor ingin mengajak franchise atas usahanya tersebut. Ia sudah memiliki angan-angan usaha gulai Bustaman tersebut dibuat seperti Warteg dan masakan Padang. Hanya saja, semua itu terkendala permodalan.

Ia juga mengaku, sekalipun sama-sama menjual gulai Bustaman, masing-masing memiliki resep berbeda. Lain tangan, maka lain pula rasanya. Hanya saja, namanya tetap sama. “Biasanya ada tambahan bumbu rahasia, disini (Kampung Bustaman, red) yang datang beli resep juga ada, tapi kembanyakan dari luar Jawa,” ungkapnya.

Untuk membuat gulai kambing, diakuinya hanya butuh hitungan jam, namun semua tetap tergantung daging yang akan dimasak. Di Kampung Bustaman, setiap harinya seperti pasar, karena ada warung prasmanan dengan harga Rp 10 ribu sudah bisa makan dan minum.

“Warga mengistilahkan, tidak usah masak, tetap bisa makan. Karena sudah ada yang jualan dengan harga murah. Sekarang kuliner sudah banyak, tapi disini gulainya memiliki ciri khas tidak pakai santan, melainkan memakai kuah khusus,” sebutnya. (jks/ida)