Oleh. Sri Mulyanto SPd
Oleh. Sri Mulyanto SPd

RADARSEMARANG.COM – PEMBELAJARAN Bahasa Jawa sangat berpengaruh dalam pembentukan karakter budi pekerti luhur peserta didik. Kegiatan pembelajaran berupa kegiatan bimbingan dan pelatihan kepada peserta didik yang belum menguasai kompetensi yang arus dicapai.

Pembelajaran Bahasa Jawa di SD, SMP, SMA bisa dianalogikan dengan peembelajaran pembetuk watak yang berbudi pekertiluhur yang baikkarena Pembelajaran bahasa jawa mengajarkan unggah ungguh basa dan saling menghargai dengan sesama.

Pembelajaran Bahasa Jawa berdasarkan  K13 lebih menekankan kepada pendekatan komunikatif yaitu pembelajaran yang mempermudah para siswa  agar lebih akrab dalam pergaulan dengan menggunakan Bahasa Jawa dan melatih siswa untuk lebih senang berbicara menggunakan Bahasa Jawa yang benar dan tetap sessuai dengan kaidah pengggunaan bahasa.

Mengamati perkembangan zaman dan meningkatya kecanggihan teknologi serta  perubahan pola pikir manusia pada zaman  now ini, disamping membawa dampak positif  juga banyak membawa dampak negatif. Di antaranya banyak kemaksiatan, tindakan kriminal, tawuran antar pelajar/anatar kelompok masyarakat

Kerusakan-kerusakan tersebut tentunya merupakan pengaruhyang besar bagi generasi peserta didik. Jika tidak ada pembinaan, maka tidak menutup kemungkinan generasi peserta didik kita akan terpengaruh dengan kegiatan-kegiatan maksiat. Oleh karena itu,  pembelajaran yang mendukung karakter budi pekerti luhur perlu ditanamkan  agar masing masing generasi peserta didik memiliki 6 tabiat luhur. Yakni: rukum, kompak, kerja sama yang baik, jujur, amanah dan mujhid-muzhid.

Keberhasilan peserta didik mempraktikan 6 tabiat luhur merupakan landasan yang kuat dan sangat menentukan bagi peningkatandan kualitas  berkarakter peserta didik di masa mendatang.

Rukun berarti saling mengasihi, saling memaafkan, bantu membantu dan tolong menolong dalam kebaikan, kuat memperkuat, saling mendoakan yang baik dan bertemu  sesama teman diusahakan dengan wajah yang ceria, tidak punya uneg – uneg jelek, drengki, srei, iri hati dan dendam. Kompak, dalam kegiatan pembelajaran sering ada tugas secara berkelompok yang harus dikerjakan bersama – sama dengan giat, senang gembira, holobis kuntul baris, sa iyek sa eka praya (seiya sekata ), maka dengan kekompakan peserta didik akan saling membantu serta saling memperkuat untuk mewujudkan hasil karya yang terbaik untuk kelompoknya.

Kerja sama yang baik adalah saling peduli, saling mendukung, saling melancarkan, saling menjaga perasaan, tidak saling menjegal, tidak saling menjatuhkan, tidak saling merugikan dan tidak saling memfitnah.

Jujur adalah berkata yang benar, polos, apa adanya, tidak berdusta, tidak menipu baik kepada teman- teman maupun kepada guru dan orang tua siswa. Amanah berarti bisa dipercaya dan menjaga kepercayaan itu, menyapaikan hak kepada yang berhak menerima dan tidak berkhianat.  Mujhid-muzhid artinya kerja giat, semangat, berhasil dan kurup. Muzhid artinya tirakat banter, hidup hemat, gemi setiti, ati-ati, tidak boros. Bisa mengukur kemauan dengan kemampuan.

Enam tabiat luhur diatas diharapkan bisa dipahami, dimengerti dan bisa dipraktikkan oleh para peserta didik atas peran aktif guru bahasa Jawa mengajarkan unggah-ungguh basa dan sopan santun. (tj3/aro)

Guru SMP Negeri 1 Sapuran Wonosobo