Motor Pelaku Ditemukan

Ditinggal di Samping Rumah Warga Tugu

261
DIKENAL SUPEL: Korban Metha Novita Handhayani semasa masih hidup. (DOKUMEN PRIBADI)
DIKENAL SUPEL: Korban Metha Novita Handhayani semasa masih hidup. (DOKUMEN PRIBADI)

Ya, memang itu motor yang digunakan terduga pelaku sudah ditemukan Jumat pagi terparkir di samping rumah warga di Tugu.”

AKP Muhammad Bahrin – Kanit Reskrim Polsek Ngaliyan

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG – Aparat Reskrim Polsek Ngaliyan masih melakukan pengejaran terhadap pelaku pembunuhan yang menewaskan Metha Novita Handhayani, 38, warga Jalan Bukit Delima B9 No 17 RT 03 RW 08, Perumahan Permata Puri, Ngaliyan. Sejauh ini, polisi mengaku telah mengantongi identitas pelaku. Bahkan, sepeda motor Honda Supra Fit bernopol H 2560 BY yang diduga digunakan pelaku saat beraksi sudah ditemukan.

Kapolsek Ngaliyan Kompol Donny Eko Listianto melalui Kanit Reskrim Polsek Ngaliyan AKP Muhammad Bahrin menjelaskan, motor tersebut saat kejadian sempat difoto oleh salah satu mahasiswa yang mengontrak di samping rumah korban, dan menjadi salah satu petunjuk. “Ya, memang itu motor yang digunakan terduga pelaku sudah ditemukan Jumat pagi terparkir di samping rumah warga,” ujarnya kepada Jawa Pos Radar Semarang, Jumat (2/3).

Bahrin menjelaskan, motor tersebut ditemukan oleh anggota polisi. Lokasi penemuannya di kawasan Tugu. Ciri-ciri hingga plat nomornya sesuai dengan foto saksi di TKP. Namun Bahrin enggan menjelaskan secara detail di mana lokasi ditemukannya.

Terkait keterlibatan Lina, mantan pembantu rumah tangga (PRT) di rumah korban dalam kasus pembunuhan tersebut, Bahrin mengaku pihaknya belum bisa menyimpulkan bahwa perempuan yang bersama laki-laki tersebut adalah Lina. Namun pihaknya mengaku telah mengantongi identitas pelaku dan masih dalam pengejaran. “Saat ini, anggota saya masih melakukan pengejaran terhadap pelaku. Identitasnya sudah ada cuma terkait dengan eks pembantunya atau bukan, nanti kalau sudah ditangkap baru bisa ketahuan. Saat ini, belum bisa menyimpulkan, apakah dia itu ada kaitannya dengan mantan pembantu atau tidak, doakan saja cepat tertangkap dahulu,” tandas Bahrin

Sementara itu, suasana di Perumahan Permata Puri Ngaliyan sore kemarin tampak sepi. Jumat (2/3) sekitar pukul 15.30, Jawa Pos Radar Semarang menyambangi rumah Metha Novita Handhayani. Terlihat belasan karangan bunga ucapan duka cita berjajar dan memenuhi hampir di sepanjang Jalan Bukit Delima B9. Saat koran ini berkunjung, penghuni rumah sedang membereskan sampah pelayat yang baru saja meninggalkan kediaman berwarna hijau dan berpagar coklat.

Area teras yang sebelumnya digunakan untuk tempat berjualan almarhumah, kini dihiasi gelaran karpet hijau dan sejumlah bangku untuk tempat duduk para tetangga yang datang menyampaikan duka cita, serta ikut mendoakan dalam tahlilan di malam harinya.

Tante korban, Endang Yuliarti, menceritakan keseharian korban adalah sosok supel dan ramah serta gemar bercerita. “Metha itu kalau sedang kumpul nyenengke, paling ramai dan lucu. Ada aja dia yang diceritakan,” ungkapnya.

Endang menceritakan, sehari-harinya keponakannya itu hanya menjaga toko dan sesekali menjadi perias panggilan ketika temannya membutuhkan bantuan. Sedangkan suami korban, Ridal Agus Prabowo bekerja sebagai pegawai bank di Jakarta.

Tak lama kemudian, Kustantoniyah, 67, ibu korban dengan langkah tertatih lantaran sakit stroke keluar dari dalam rumah. Menurut Endang, seharian Kustantoniyah menerima tamu yang terus berdatangan ke rumah tersebut.

Jawa Pos Radar Semarang pun mendengarkan cerita Kus, sapaannya, tentang anaknya yang menjadi korban pembunuhan. Termasuk soal Lina, mantan PRT korban yang diduga turut terlibat dalam peristiwa tersebut. Kus mengaku mengenal baik Lina saat bekerja di rumah Metha “Ya dia itu kan masih kecil, usianya 17 tahun kalau tidak salah. Dia itu di sini (rumah Metha) kerjanya yang pertama kali. Bahkan sempat bilang kok wanimen nggaji aku Rp 1,2 juta (kok berani sekali mengaji saya Rp 1,2 juta, red),” tuturnya.

Kus mengatakan bahwa selama 3 bulan menjadi PRT, baru satu bulan terakhir Lina ikut menginap di rumah korban. Selama itu, Kus menceritakan bahwa Lina memang bekerja kurang baik dan tidak tanggap. Dalam artian, Lina tidak akan bekerja sebelum disuruh.

Selain itu, Lina seringkali berpenampilan seksi mengenakan celana yang sangat pendek dan baju tanpa lengan. Tak hanya itu, Lina gemar berdandan dan seringkali menerima tamu laki-laki yang diketahui sebagai kekasihnya. Kus mengaku tidak tahu nama kekasih Lina.

“Dia (Lina) pernah cerita kalau mau dinikahi, tetapi Lina menolak karena dia (kekasihnya) itu senang mabuk-mabukan dan keplek. Ya, saya sarankan saja, kalau seperti itu tidak usah saja” terang pensiunan dosen PGSD UNNES ini.

Koran ini sempat menunjukkan salah satu akun Facebook yang berisikan foto perempuan dan laki-laki yang diduga adalah Lina dan sang kekasih kepada Kus. Rupanya, Kus membenarkan perempuan dalam foto tersebut adalah Lina dan kekasihnya. “Ya, itu pacarnya, dia yang sekarang, yang tatoan. Dia sering ke sini, sejak Lina tidur di sini. Gandeng sering pacaran, Metha jadi tidak enak dengan tetangga. Tapi mecatnya itu setahu saya juga halus,” kata dia.

Kus menuturkan, Metha bilang pada Lina bahwa dirinya hendak pergi ke Jakarta menyusul suaminya selama dua sampai tiga minggu. Nantinya jika Metha membutuhkan jasa, maka Metha akan menghubungi Lina lagi. Setelah satu bulan berlalu, kakak Lina yang juga bekerja sebagai PRT datang menanyakan kenapa Lina tak kunjung dipanggil bekerja. “Metha itu bilang, lha dia itu pacaran. Jadi ya sudah aja (tidak dipanggil bekerja lagi),” imbuhnya.

Sementara itu, Runako, 4, putra bungsu korban yang ada di lokasi kejadian saat terjadi pembunuhan, dikatakan oleh Kus, kondisinya telah membaik. Namun, di wajahnya masih terlihat lebam kebiru-biruan. Sore hari setelah menerima perawatan di RS Permata Medika Ngaliyan, Nako menceritakan apa yang dialaminya kepada sang nenek.“Dia bilang dijotos-jotosi di pipi kanan kiri, mau teriak saat ibunya ditekak itu, dia dibekap. Nako juga bilang kalau sempat dibenturkan ke tembok,” jelasnya.

Kustantoniyah mengaku telah menyerahkan pengejaran pelaku kepada pihak kepolisian. Ia berharap agar pelaku segera bisa ditangkap dan diganjar hukuman seadil-adilnya. Putrinya itu meninggalkan tiga anak, Thirza (SMP), Athallah (SD), dan Runako. (tsa/aro)