Menuju Kurikulum yang Integral (3)

220
Oleh: Drs. Asnawi, MA
Oleh: Drs. Asnawi, MA

RADARSEMARANG.COM – KAJIAN terhadap kurikulum pendidikan musti dilakukan. Hemat penulis, sudah saatnya Indonesia menerapkan kurikulum integratif. Yakni, mengintegrasikan ilmu-ilmu agama dan ilmu-ilmu umum. Terkait integrasi antara Ilmu Agama dan Ilmu Umum, al-Faruqi telah menyampaikan gagasan Islamisasi Ilmu Pengetahuan pada Konferensi Islam pertama di Makkah pada 1977.

Wacana Islamisasi memunculkan perdebatan pro-kontra. Pertama, umat Islam membutuhkan sebuah sistem sains untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan mereka, baik materiil maupun spiritual. Sedangkan sistem sains yang ada, belum mampu memenuhi kebutuhan-kebutuhan tersebut. Karena ia banyak mengandung nilai-nilai yang bertentangan dengan Islam.

Kedua, fakta membuktikan bahwa sains modern telah menimbulkan ancaman-ancaman bagi kelangsungan dan kehidupan umat Islam dan lingkungannya. Ketiga, umat Islam pernah memiliki peradaban yang Islami, sehingga untuk menciptakan kembali dalam peradaban yang Islami, kiranya dipandang perlu melakukan Islamisasi sains.

Dari perdebatan di atas, penulis menemukan bahwa yang menjadi akar permasalahan, terletak pada perspektif filosofis yang mendasari bangunan keilmuan; terkait persoalan apakah ilmu itu bebas nilai atau tidak. Di antara mereka yang setuju upaya Islamisasi Ilmu pengetahuan, mengajukan gagasan perlunya pengintegrasian ilmu-ilmu agama dan umum.

Salah satu tokoh yang menyetujui integrasi ilmu adalah Osman Bakar. Menurut Osman, mengintegrasikan ilmu-ilmu agama dan umum pada dasarnya merupakan upaya mengembalikan ilmu kepada asalnya (habitatnya). Pendapat ini dilandasi adanya kesadaran bahwa Allah SWT adalah sumber kebenaran dan sumber pengetahuan sekaligus.

Lantas, bagaimana cara mengintegrasikan antara kedua bangunan ilmu yang berbeda, sekuler, dan religius di lembaga pendidikan? Mulyadi Kartanegara menjelaskan, menggabungkan dua himpunan ilmu yang berbeda tanpa diikuti oleh konstruksi epistemologinya, merupakan upaya yang tidak akan membuahkan sebuah integrasi. Namun, hanya berjalan sendiri-sendiri. Sebagaimana yang terjadi selama ini, seperti di lembaga pendidikan pesantren, diajarkan pula ilmu-ilmu umum seperti matematika, bahasa Inggris dan sebagainya. Sebaliknya, di lembaga pendidikan umum– semisal SMA/SMK– diberikan pendidikan agama semisal boarding school.

Menurutnya, untuk mencapai tingkat integritas epistemologis, integrasi harus diusahakan pada beberapa aspek atau level, yaitu integrasi ontologis, integrasi klasifikasi ilmu, dan integrasi metodologi. Mulyadi berpendapat, pembelajaran yang integratif, terjadi jika seorang guru menjelaskan fenomena alam, dikaitkan dengan nilai-nilai keislaman. Sebaliknya, ketika seorang guru agama menjelaskan ayat-ayat kauninyah, dikaitkan dengan fenomena alam. Karena itulah, sebagai sebuah alternatif dan upaya menyempurnakan Kurikulum 2013 ke depan, perlu disusun kurikulum integratif dengan konsep seperti yang dikemukakan oleh pakar epistimologi, Mulyadi Kartanegara di atas.

Betapa tidak, salah satu kelebihan kurikulum ini terdapat pada KI 1 dan KI 2 yang menjadi muara dari semua mata pelajara. Hanya saja, strategi menuju tercapainya KI 1 dan KI 2, belum ditemukan pendekatan yang tepat. Salah satu langkah yang perlu ditempuh menuju kurikulum yang integratif adalah adanya pelatihan metodologi terkait strategi atau pendekatan untuk mencapai pembelajaran yang integratif. Wassalam. (*/isk)

 Guru Pendidikan Agama Islam SMKN1 Salam, Ketua MGMP PAI SMK Kabupaten Magelang dan Anggota Bagian Litbang MGMP PAI Provinsi Jateng