Kharismatik Batik Tulis Kuno Kabupaten Pekalongan

Batik Jawa Anggun

807
FILOSOFIS : Jawa Anggun memperlihatkan batik Pisan Bali yang berarti kembali lagi. Batik ini biasa diberikan seseorang kepada kekasihnya yang akan berpergian jauh dengan maksud agar sang kekasih kembali lagi. (TAUFIK HIDAYAT/JAWA POS RADAR SEMARANG)
FILOSOFIS : Jawa Anggun memperlihatkan batik Pisan Bali yang berarti kembali lagi. Batik ini biasa diberikan seseorang kepada kekasihnya yang akan berpergian jauh dengan maksud agar sang kekasih kembali lagi. (TAUFIK HIDAYAT/JAWA POS RADAR SEMARANG)

RADARSEMARANG.COM, KAJEN – Batik adalah kerajinan yang memiliki nilai seni tinggi dan telah menjadi bagian dari budaya Indonesia, khususnya budaya Jawa. Batik juga merupakan warisan nenek moyang bangsa Indonesia sejak dahulu. Dalam sejarah perbatikan di Indonesia berkaitan dengan perkembangan kerajaan Majapahit dan kerajaan sesudahnya.

Adalah Batik Jawa Anggun yang dirikan oleh H. Sam pada 40 tahun lalu. Warga Dukuh Kepatihan, Kecamatan Wiradesa, Kabupaten Pekalongan ini mengkhususkan diri membuat batik tulis hanya pada jenis batik klasik Java Hokokay, Batik Belanda, Batik China dan Batik Kuno lainnya.

Batik tulis buatannya terbuat dari bahan katun dengan ukuran 2,7 meter. Batik klasik Java Hokokay, Batik Belanda, Batik China dan Batik Kuno lainnya ini dibuat lebih dari 6 bulan untuk setiap lembarnya. Namun oleh penerus Batik Jawa Anggun generasi kedua, Miftahul Huda, 32, semua dibanderol hanya dengan harga Rp 2 jutaan.

Dengan harapan batik tersebut bisa dimiliki oleh banyak orang. Sebab batik yang dibuatnya mencerminkan batik ada zamannya. Seperti Batik Belanda, jenis batik yang tumbuh dan berkembang antara tahun 1840-1940. Pada mulanya batik ini hanya dibuat untuk masyarakat Belanda dan Indo-Belanda yang pada umumnya berbentuk sarung dengan motif yang didominasi tumbuhan dan bunga tulip.

Demikian juga dengan Batik Hokokay, batik yang dibuat pada era zaman penjajahan Jepang, atau masa peralihan dari pemerintahan Belanda ke Jepang. Didominasi dengan bunga dan kupu-kupu, dengan warna yang cerah. Hingga kini kain batik dengan tema Hokokay sangat digemari.

Namun ada satu batik tematik yang menceritakan sejarah Kabupaten Pekalongan. Yakni Batik Bahurekso yang tidak dapat dinilai dengan nominal rupiah. Sebab proses pembuatannya rumit dan para pembatiknya menjalani prosesi ritual tertentu agar Batik Bahurekso tersebut bisa memancarkan kharisma ketika dilihat. Nyatanya memang Batik Bahurekso tersebut penuh dengan unsur mistis.

“Batik Bahurekso ini menceritakan Sultan Mataram yang jatuh hati dengan gadis cantik dari Batang, Dewi Rantan, dan Sultan menyuruh Bahurekso untuk melamar Dewi Rantan. Namun dalam perjalanan, keduanya justru saling jatuh cinta, hingga akhirnya Bahurekso dihukum oleh Sultan Mataram,” kata Miftahul Huda.

Karena itu, Batik Bahurekso penuh mistis dan dibuat dengan tingkat kesulitan tinggi. “Meski pernah ditawar olek kolektor batik dari Jakarta dengan nilai Rp 125 juta, belum bisa kami lepas. Karena Batik Bahurekso ini dibuat selama hampir dua tahun dan hanya ada satu di dunia,” tutur Huda, Jumat (2/3) sambil membentangkan Batik Bahurekso sepanjang 2,9 meter.

Ada juga batik buatan Jawa Anggun, yang diberi nama batik Pisan Bali yang berarti kembali lagi. Batik Pisan Bali ini biasa diberikan seorang kekasih pada kekasihnya yang akan berpergian jauh dengan maksud agar sang kekasih kembali lagi. Batik Pisan Bali ini hanya diproduksi satu lembar dan merupakan pesanan dari putri pengusaha nasional di Jakarta, yang rencananya akan diberikan kepada tunangannya yang belajar di Amerika.

Batik Jawa Anggun memang lebih fokus untuk membuat batik antik dan kuno, yang saat ini keberadaannya sudah sangat sulit ditemukan. Maka tak heran jika beberapa kolektor batik dari Belanda, Jepang dan Jakarta datang ke Jawa Anggun untuk merepro ulang batik kuno antik tersebut. Guna dijadikan koleksi dan diperlihatkan di museum batik, baik yang ada di Indonesia maupun luar negeri.

Batik Jawa Anggun memang tidak memproduksi batik secara massal atau untuk industri. Karena para pengrajin batik yang ada memang hanya membuat satu kain batik untuk pesanan. Maka tak heran jika kain batik yang dihasilkan dari Jawa Anggun hanya membuat batik klasik kuno, dengan tema Batik Belanda, China dan Jepang. Guna melestarikan batik sebagai peninggalan leluhur dengan nilai seni tinggi. (thd/adv/ric)