JPO Berusia 45 Tahun Dibongkar karena Bahayakan Pengguna Jalan

71

Pembongkaran sendiri menggunakan excavator. Untuk merobohkan bangunan buatan tahun 1973 itu membutuhkan waktu sekitar 3,5 jam. Mulai pukul 12.30 hingga 15.30.  Proses pembongkaran sempat membuat warga sekitar dan para pedagang tak ingin melewatkan momen tersebut.

Mereka ada yang merekam dan memfoto hingga proses pembongkaran selesai. Satpol PP juga berjaga-jaga dan mengatur arus lalu lintas. Suroso salah satu pegawai DPUPR mengungkapkan, pembongkaran ini untuk penataan kota agar lebih bagus lagi. Sebab, kondisi jembatan penyeberangan sudah rusak parah. “Kalau terus dibiarkan dikhawatirkan dapat membahayakan pengguna jalan,” katanya.

Dia menambahkan, usai dibongkar puing-puing bongkahan akan diangkut ke gudang. Selanjutnya menunggu perintah lebih lanjut. “Memang sudah saatnya dibongkar, karena sudah rusak,” ucapnya.

Ketua Paguyuban Pasar Kota Blora Sarwo Saladin menilai pembongkaran jembatan penyeberangan tersebut merupakan sinyal supaya pedagang cepat pindah dari lokasi pasar. Namun apapun yang terjadi para pedagang tetap menolaknya. “Mungkin pedagang diminta pindah, tapi pedagang tetap tidak mau pindah,” jelasnya.

Terlepas dari persoalan pemindahan pedagang pasar Blora, dia mendukung semua kebijakan bupati. Apalagi kondisi jembatan penyeberangan itu sudah rusak dan mau ambrol. “Jembatan dibongkar silahkan, asal jangan minta kami meninggalkan pasar,” tegasnya.

Bupati Blora Djoko Nugroho mengaku jembatan penyeberangan itu sudah tidak dipakai dan membahayakan orang. Selain itu terlihat kumuh. “Tak bongkar jadi bagus sekali, nanti menyusul gajah mas dan lainnya. Untuk tata letak kota bagus sekali. Saya pastikan tahun ini pembongkaran semuanya. Untuk pasar tidak, diperbaiki saja,” jelasnya.

(ks/ali/sub/top/JPR)

Silakan beri komentar.