Oleh: Puji Ningrum SPd
Oleh: Puji Ningrum SPd

RADARSEMARANG.COM – DARI tahun pelajaran 2016/2017 sampai dengan saat ini, terdapat kebijakan baru terhadap pelaksanaan Ujian Nasional (UN) pada tingkat Sekolah Menengah Atas (SMA). Kebijakan tersebut terletak pada jumlah dan jenis mata pelajaran (maple) yang diujikan. Ada empat mapel yang diujikan, yaitu Matematika, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, dan satu mapel pilihan sesuai jurusan siswa (IPA/IPS/Bahasa).

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy mengatakan, kebijakan baru tersebut diterapkan agar anak-anak dapat fokus ke pendalaman materi ujian.dengan memilih mata pelajaran tertentu sesuai jurusannya saat UN. Siswa diberi kesempatan menguasai lebih dalam untuk materi mata pelajaran pilihannya itu. Dengan begitu, lanjutnya, secara akumulasi hasil UN akan mencerminkan keluasan dan kedalaman pemahaman. Selain itu, unsur kepraktisan juga menjadi salah satu pertimbangan dalam membiarkan siswa memilih salah satu mapel jurusan untuk diujikan di UN.

Berbagai jenis penelitian telah dikembangkan dari tahun ke tahun oleh berbagai pakar dan praktisi dalam dunia pendidikan. Hasil penelitian tersebut cukup mengkhawatirkan, salah satunya menunjukkan fakta bahwa sekarang ini terjadi penurunan minat peserta didik dalam ilmu pengetahuan terutama sains. Penurunan tersebut disebabkan oleh banyak faktor, antara lain minimnya pengetahuan yang diterima oleh peserta didik tersebut terhadap prospek-prospek pekerjaan yang terkait dengan sains dan teknologi, kurangnya distribusi pengalaman sains serta teknologi dalam proses pembelajaran. Keadaan ini mendesak para pembuat kebijakan dan pelaku dunia pendidikan  untuk segera mengatasi permasalahan-permasalahan yang dialami oleh peserta didik tersebut.

Untuk dapat memenuhi tuntutan tersebut maka perlu diupayakan suatu proses pembelajaran yang dapat mengarahkan minat dan motivasi peserta didik, khususnya dalam mata pelajaran bidang sains.Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah dengan mengoptimalkan kegiatan apersepsi dalam proses pembelajaran. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, yang dimaksud apersepsi adalah pengamatan secara sadar (penghayatan) tentang segala sesuatu dalam jiwanya (dirinya) sendiri yang menjadi dasar perbandingan serta landasan untuk menerima ide-ide baru.Apersepsi adalah suatu bentuk kegiatan yang dilakukan diawal proses pembelajaran dengan menyampaikan tujuan pembelajaran yang bertujuan untuk memotivasi peseerta didik dengan memberi penjelasan tentang pentingnya materi yang sedang dipelajari.

Selama ini, kegiatan apersepsi di awal proses pembelajaran ini seringkali diabaikan, karena dalam prakteknya tidak lah mudah. Banyak kesulitan yang dialami oleh guru, sepertikurangnya penguasaan guru terhadap apersepsi, dan banyak guru yang beranggapan bahwa penguasaan apersepsi hanya berpengaruh kecil terhadap proses pembelajaran. Oleh karenanya, tidak sedikit guru yang ketika masuk kelas langsung mengajarkan materi pelajaran.Apersepsi punya kedudukan penting dalam kegiatan pembelajaran, seperti pernyataan Munif Chatib (Gurunya Manusia, 2011:77) bahwa menit-menit pertama dalam proses belajar adalah waktu yang sangat penting untuk satu jam pembelajaran selanjutnya, pada menit-menit pertama itulah kegiatan apersepsi dapat dilaksanakan.

Kegiatan berdo’a, memberi salam, mengecek kerapian dan kedisiplinan, serta mengabsen peserta didik bukanlah kegiatan apersepsi.Apersepsi dapat dilakukan dengan menyampaikan materi yang telah diajarkan sebelumnya yang terkait dengan materi yang akan dipelajari. Untuk dapat menarik minat dan motivasi peserta didik, berbagai teknik dan cara dapat dilakukan oleh guru, diantaranya dengan memanfaatkan berbagai jenis alat, bahan dan media pembelajaran yang ada yang menarik dan bersifat interaktif. Banyak kegiatan yang dapat dilakukan oleh guru dalam apersepsi, seperti menayangkan video, memperlihatkan foto atau gambar-gambar, bercerita (telling story), memainkan game, memberikan quiz atau teka teki silang, memberikan pertanyaan-pertanyaan sederhana yang dapat memancing rasa keingintauan peserta didik.

Proses belajar tidak dapat dipisahkan antara peristiwa-peristiwa yang terjadi yang dialami oleh peserta didik dengan lingkungannya maupun dengan pengalaman hidupnya. Kegiatan apersepsi dapat digunakan sebagai batu loncatan oleh guru diawal pembelajaran untuk menghubungkan bahan pelajarannya yang telah dikuasai oleh murid-murid berupa pengetahuan yang telah diketahui dari pelajaran atau dari pengalaman sebelumnya untuk memulai suatu proses pembelajaran yang baru.

Apersepsi yang baik haruslah dapat memunculkan konflik kognisi pada siswa. Konflik kognisi inilah yang nantinya dimanfaatkan dalam proes pembelajaran. Dengan adanya konflik kognisi tersebut, maka muncul rasa penasaran dan rasa ingin tau  peserta didik terhadap materi yang akan dipelajari, dengan demikian ketertarikan, minat dan motivasi peserta didik untuk mempelajari materi tersebut cukup besar. Pada kegiatan apersepsi, guru seharusnya menghubungkan apa saja yang guru prediksikan telah ada pada diri siswa (pengetahuan lama, prasyarat, pengetahuan informal, pengalaman anak di rumah, dll) dengan materi yang akan dipelajari.

Dengan melakukan kegiatan apersepsi yang baik, guru akan dapat menarik pusat perhatian peserta didik untuk masuk kedalam dunia, suasana dan kegiatan pembelajaran yang hendak diciptakan sesuai dengan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai. Tentu saja untuk dapat memenuhi harapan tersebut dibutuhkan kreatifitas, inovasi, dan daya imajinasi yang tinggi dari para guru untuk mampu menciptakan ide-ide cermerlang yang mampu menginspirasi dan memberikan motivasi serta semangat belajar yang tinggi kepada peserta didik. (*/zal)

Guru Kimia SMA Negeri 10 Semarang  (poejizamfi24@gmail.com)