Teladani Kepemimpinan Sultan Fatah

624
JAGA KERUKUNAN: Kiai Syarif Rahmat saat memberikan tausiyah dalam pengajian akbar Haul Sultan Fatah kemarin malam. (WAHIB PRIBADI/JAWA POS RADAR SEMARANG)
JAGA KERUKUNAN: Kiai Syarif Rahmat saat memberikan tausiyah dalam pengajian akbar Haul Sultan Fatah kemarin malam. (WAHIB PRIBADI/JAWA POS RADAR SEMARANG)

RADARSEMARANG.COM, DEMAK – Di era kepemimpinan Sultan Fatah, Kasultanan Demak Bintoro ketika itu tidak ada kejadian  menonjol terkait keributan etnis. Sebaliknya, yang ada adalah kerukunan antara etnis satu dengan etnis lainnya. Mereka bisa saling berdampingan meski ada perbedaan ideologi. Ini berbeda dengan kondisi Indonesia sekarang yang rawan terjadi gesekan atau sentimen etnis.

Demikian disampaikan Kiai Syarif Rahmat disela memberikan tausiah pengajian akbar dalam rangka Haul Sultan Fatah yang ke-515 di depan Masjid Agung Demak, kemarin malam. Menurutnya, keberadaan Sultan Fatah (Pangeran Jimbun) yang dilahirkan dari campuran etnis Jawa dan Tionghoa dan keturunan Brawijaya V (Raja Majapahit terakhir) menunjukkan adanya keragaman etnis dan perbedaan agama yang saling hormat menghormati.

“Ini bukti bahwa keragaman etnis ini bisa hidup dan saling berdampingan walaupun masing masing memiliki keyakinan Agama yang berbeda. Apalagi, Agama juga mengajarkan kedamaian. Dengan demikian, Demak dilahirkan dari suasana yang multi etnis atau Bhinneka Tunggal Ika. Meski ada perbedaan tapi satu tujuan yang sama, yakni perdamaian,” kata Pengasuh Ponpes Ummul Quro dan Padepokan Dakwah Sunan Kalijaga (Padasuka), Pondok Cabe, Jakarta, tersebut.

Menurutnya, Bhinneka Tunggal Ika merupakan warisan yang sebelumnya telah ditanamankan Prabu Brawijaya V dan Sultan Fatah. “Jadi, keragaman itu bukan kemauan kita sebagai manusia. Tetapi, kemauan yang menciotakan keragaman, yaitu Allah SWT. Kita telah diajari oleh Raden Fatah bahwa betapa hidup itu begitu indah dengan kedamaian dan selalu menjaga silaturahmi,” ujar Kiai Syarif.

Dalam pengajian yang dihadiri para tokoh dan alim ulama  tersebut, Habib Lutfi bin Yahya juga memberikan tausiah di bagian akhir. Hujan deras yang mengiringi pengajian tersebut tak menyurutkan sebagian masyarakat untuk tetap ditempat duduknya.

Ketua Takmir Masjid Agung Demak, KH Niam Anshori menyampaikan,  Haul Sultan Fatah menjadi tonggak sejarah untuk mengingat kembali perjuangan Raja Demak Bintoro tersebut bersama Wali Songo dalam menyebarkan agama Islam ditanah Jawa dan nusantara. “Kita berharap, dapat mengambil hikmah dari haul ini,” katanya. (hib/bas)