LANGGANAN BANJIR : Setelah diguyur hujan hingga 2 jam, ribuan rumah di Kota Pekalongan kembali terendam. (Lutfi Hanafi/Jawa Pos Radar Semarang)
LANGGANAN BANJIR : Setelah diguyur hujan hingga 2 jam, ribuan rumah di Kota Pekalongan kembali terendam. (Lutfi Hanafi/Jawa Pos Radar Semarang)

RADARSEMARANG.COM, PEKALONGAN – Diguyur hujan kurang lebih 2 jam, Rabu (28/2) malam, sejumlah kawasan di Kota Pekalongan, terendam banjir. Tidak hanya rumah, banjir juga merendam rumah sakit dan tempat ibadah. Hingga Kamis (1/3), banjir belum surut.

Sebagian besar, banjir merendam permukiman di dekat aliran sungai. Seperti Sungai Bremi, Meduri, maupun Sungai Loji.  Kondisi tersebut diperparah dengan sistem drainase buruk.

Wilayah terparah ada di Kelurahan Tirto, Kecamatan Pekalongan Barat. Hingga hari ini tampak ketinggian rata-rata air di wilayah tersebut mencapai 40-50 sentimeter. Banjir juga melanda kawasan Sapuro, Pasirsari, Bandengan, Panjang Baru dan Poncol. Beberapa rumah sakit seperti RSUD Kraton dan RS Anugrah turut terendam air, salah satu tempta peribadatan, yaitu Kelnteng Po An Thian juga kena imbas melubernya Sungai Loji.

Yudianto, warga yang terdampak banjir mangatakan, banjir sudah menjadi langganan warga. Karena memang kondisi sungai yang sudah dangkal dan mudah meluap. Warga mengaku putus asa, karena  sudah bertahun-tahun tanpa penanganan dari pemerintah setempat.

“Bagi masyarakat Kota Pekalongan, banjir memang sudah dianggap hal yang biasa di musim penghujan. Karena beberapa aliran sungai tak mampu menampung debit  karena sudah sangat dangkal,” keluhnya. Informasi terakhir, normalisasi sungai dilakukan pada 30 tahun lalu.

Triyanto, warga lain menambahkan, sebenarnya pemerintah maupun warga sudah melakukan berbagai upaya dalam mencegah banjir. Selain rutin membersihkan aliran sungai dari enceng gondok, juga menanggul bantaran sungai. Namun karena debit air terlalu besar, tanggul tidak bisa menahan air masuk ke pemukiman warga, sehingga kembali terendam.

“Cara yang efektif memang harus dilakukan normalisasi sungai kembali. Karena lumpur sungai sangat tinggi,” jelasnya. (han/zal)