Batik Solikhin Gumawang Wiradesa

Pesona Batik Warna Alam Kabupaten Pekalongan (Bagian 2)

274
MENDUNIA : Batik warna alam untuk jenis batik klasik dan natural yang banyak diminati untuk pasar Malaysia dan Singapura. (TAUFIK HIDAYAT/JAWA POS RADAR SEMARANG)
MENDUNIA : Batik warna alam untuk jenis batik klasik dan natural yang banyak diminati untuk pasar Malaysia dan Singapura. (TAUFIK HIDAYAT/JAWA POS RADAR SEMARANG)

RADARSEMARANG.COM, KAJEN – Proses pewarnaan batik dengan zat pewarna alami, yaitu dengan mengekstrak senyawa organik dari berbagai tumbuhan terus digencarkan. Bagian tumbuhan yang digunakan mulai dari daun tanaman talok, bakau, jati, ketepeng, dan batang pohon pada tanaman jambal tinggi dan mahoni, jalawe, rambutan dan manggis. Proses alami tersebut diterapkan pada pembatik warna alam Solikhin, 42, warga Desa Gumawang, Kecamatan Wiradesa, Kabupaten Pekalongan sejak tahun 2000.

Pemilik Batik Artho Moro dan Batik Laba-laba ini mengkhususkan produk batiknya pada warna alam. Yaitu dengan menggunakan aneka tanaman yang dapat menimbulkan warna. Mulai dari daun, batang, kulit dan akar dari tumbuhan yang bisa digunakan untuk pewarnaan, dengan proses mulai dari bahan tanaman yang difermentasikan, hingga direbus untuk menimbulkan warna yang diinginkan.

Solikhin, pengrajin batik warna alam lulusan Institut Seni Indonesia (ISI) Jogjakarta dengan jurusan Kriya Tekstil mendalami batik dengan warna alam sejak tahun 2000. Saat masih kuliah di ISI Jogjakarta, dirinya sudah banyak melakukan uji coba berbagai jenis tanaman yang digunakan untuk pewarnaan.

Setelah selesai kuliah, hasil riset pewarnaan alamnya tersebut diaplikasikan pada batik. Yakni jenis batik kontemporer dan natural klasik. Sejak itu dirinya fokus membuat batik warna alam, dengan aneka warna mulai dari warna merah, kuning, coklat, hitam dan biru.

“Untuk batik tulis warna alam jenis kontemporer kami kasih merek Batik Artho Moro. Sedangkan untuk jenis batik tulis klasik natural kami branding Batik Laba-laba. Yakni singkatan Laris Bati Langgeng Berkah,” ungkap Solikhin, Kamis (1/3).

Solikhin menjelaskan batik warna alam yang dibuatnya menggunakan tiga jenis bahan baku, yakni tanaman Indigofera Tinctoria untuk warna biru, Biji Jolawe untuk kuning dan tanaman Tingngi untuk warna coklat dan merah bata, serta warna kemerah-merahan.

Semua proses pewarnaan dihasilkan dari hasil perebusan. Kecuali untuk tanaman Indigofera Tinctoria yang menghasilkan warna biru melalui perendaman pada waktu tertentu. Semua bahan baku didapatkan dari tanaman yang ada di Kabupaten Pekalongan.

Adapun harga dari batik dengan branding Batik Artho Moro dan Batik Laba-laba ini, dibanderol dengan relatif terjangkau. Yakni mulai Rp 750 ribu hingga Rp 2 juta. “Selama ini batik warna alam yang kami produksi sebagian besar  merupakan pesanan dari Istana Negara, dan beberapa Duta Besar seperti Amerika Serikat, Singapura dan Malaysia. Terutama dari Amerika yang sering membeli dalam jumlah besar, untuk dijual kembali,” kata Ahmad Solikhin.

Solikhin berharap ada generasi muda yang mau belajar batik dengan warna alam, bukan warna dari bahan kimis yang menganggu lingkungan dan merusak alam. Karena ketersediaan akan bahan baku warna alam, sumbernya sangat berlimpah dan mudah didapat.

“Kami dengan senang hati, jika dapat berbagi ilmu dan pengalaman pada generasi muda khsususnya di Kabupaten Pekalongan, tentang membuat batik warna alam ini. Sebab bahan bakunya melimpah, dan pasar untuk batik warna alam atau bahan bakunya sendiri sangat besar,” katanya. (thd/adv/ric)

Silakan beri komentar.