Anin dan Afif Bersikukuh Tetap di SMAN 1

Minta Dukungan Sekda Jateng

881
CARI KEADILAN: Anin dan Afif bersama orangtuanya saat bertemu Sekda Jateng Sri Puryono. (ADITYO DWI/JAWA POS RADAR SEMARANG)
CARI KEADILAN: Anin dan Afif bersama orangtuanya saat bertemu Sekda Jateng Sri Puryono. (ADITYO DWI/JAWA POS RADAR SEMARANG)

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG– Cuaca Kota Semarang kemarin diselimuti mendung dan hawa sejuk dengan sedikit rintik hujan, saat Anindya Puspita Helga Nur Fadhila (AN) terlihat mengendarai sepeda motor Honda Vario menuju SMA Negeri 1 Semarang. Kamis (1/3) kemarin, disebut-sebut sebagai hari terakhir pendaftaran ujian nasional (unas) untuk satuan pendidikan SMA dan SMK.

Kedatangannya kali ini tentu saja untuk melakukan pendaftaran sebagai peserta unas di SMAN 1 Semarang. Namun usahanya itu kembali menemui jalan buntu dan berujung sia-sia. Pihak sekolah lagi-lagi terkesan mengulur waktu. Tanpa diketahui, rupanya Muhammad Afif Ashor (AF) telah lebih dulu datang dan bertemu wakil kepala sekolah hingga guru BK di ruang wakil kepala sekolah. Di SMAN 1, keduanya sudah ditunggu oleh perwakilan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Tengah. Saat bertemu, perwakilan Disdikbud itu rupanya menawarkan pilihan kepada Anin untuk memilih sekolah untuk kepindahannya.

“Saya juga dikasih nomor kontak beliau, namanya Pak Sugeng Alal. Katanya kalau sewaktu-waktu saya sudah menentukan pilihan agar langsung menghubungi dan bisa difasilitasi,” tuturnya.

Kendati demikian, Anin tetap bersikukuh melanjutkan bulan-bulan terakhirnya di sekolah tersebut. Anin menolak dipindah, bahkan terkejut ketika salah seorang guru BK mengatakan ia dan keluarganya telah menyetujui untuk pindah.

Kehadiran Anin di sekolah disambut kegembiraan kawan-kawannya. Bahkan, ada sebuah puisi yang ditujukan khusus untuk Anin dan Afif yang menjadi korban dari keputusan sepihak yang diambil oleh kepala sekolah tercintanya.

Siang harinya, Anin dan Afif bersama kedua orangtuanya bertemu Sekda Jateng Sri Puryono meminta dukungan terkait masalah yang sedang dihadapinya. Pertemuan mereka, yang juga dihadiri oleh Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Jateng. Gatot Bambang Hastowo itu berlangsung secara tertutup selama sekitar 1,5 jam.

Dari raut wajah Anin dan Afif saat keluar dari ruang Tata Usaha Setda Provinsi Jateng tampak keduanya belum menerima kejelasan untuk nasibnya. Ketika hendak dimintai keterangan, keduanya kompak beralasan hendak menunaikan salat dzuhur, namun tidak kunjung kembali.

“Tadi disampaikan yang bersangkutan tetap ingin melanjutkan sekolah dan ujian nasional di SMAN 1 Semarang. Namun tadi kepsek juga menegaskan bahwa apa yang dilakukan tersebut sudah sesuai dengan aturan sekolah,” jelas Gatot Bambang Hastowo usai mengikuti pertemuan terbatas bersama orang tua dan dua siswa yang dikeluarkan tersebut.

Ditanya tentang kemungkinan Anin dan Afif dapat kembali bersekolah di SMAN 1 Semarang, Gatot mengaku tidak bisa menjelaskan terkait hal itu. Gatot menegaskan, pihaknya berlaku netral dan telah melakukan investigasi sebelum ikut mencarikan solusi bagi dua siswa tersebut. Bahkan Gatot juga membenarkan pemberian sanksi pengembalian kepada orangtua, meski menjelang ujian nasional.

“Kami kan, terutama saya tidak langsung memutuskan. Dinas melihat laporan dari kepala sekolah, kemudian melakukan investigasi termasuk melihat videonya. Prinsipnya kalau kepsek bisa bertanggung jawab dengan apa yang diputuskannya ya berarti benar (mengembalikan siswa menjelang unas),” terangnya.

Atas kejadian ini, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) melalui siaran persnya menyatakan sikap akan mendalami kasus yang menimpa Anin dan Afif. KPAI dalam waktu dekat akan berkoordinasi dengan pihak-pihak terkait untuk meluruskan letak kejanggalan yang dirasa oleh pihak siswa.

“KPAI akan meminta penjelasan, pertimbangan apa yang digunakan sekolah dalam menggeluarkan dua siswa di saat sudah kelas XII, hanya tinggal 2 bulan lagi kedua anak tersebut menempuh ujian akhir,” jelas Komisoner KPAI Bidang Pendidikan, Retno Listyarti.

Selanjutnya, KPAI akan menemui dua siswa yang dikeluarkan maupun tujuh siswa yang diskorsing untuk didengar suaranya. KPAI akan menanyakan langsung kronologi kejadiannya dari mulai LDK sampai proses pemecatan siswa oleh pihak sekolah. Penjelasan para siswa  akan dikonfirmasi dengan penjelasan pihak sekolah.

KPAI mengingatkan, bahwa meskipun seorang anak terbukti bersalah atau melanggar aturan sekolah sekalipun, hak-haknya untuk mendapatkan pendidikan harus tetap dijamin oleh negara, dalam hal ini pemerintah provinsi dan jajarannya. Mengingat kedua siswa yang dikeluarkan tersebut sudah berada di kelas akhir.

“Seharusnya kedua anak tersebut sibuk mempersiapkan diri mengikuti ujian akhir, namun saat ini justru sibuk memperjuangkan nasibnya,” tutupnya.

Tak hanya itu, dukungan kepada Anin dan Afif juga disampaikan oleh Ketua DPR RI, Fahri Hamzah melalui cuitannya di akun media sosial Twitter dengan memberikan mention Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo atas keprihatinannya terhadap kasus tersebut.

Cuitan pertamanya dalam beberapa menit langsung dibalas oleh Ganjar Pranowo dengan mengatakan bahwa dirinya sedang cuti dari jabatan gubernur, namun tetap memantau kasus tersebut. Ganjar menjelaskan bahwa pemprov telah merespons kasus tersebut sejak awal. “Maturnuwun Pak Gub… Saya doakan sukses… Tapi tolong pantau jangan ada anak kita yang dikeluarkan… Ini mau ujian… Saya kontak  pak menteri segera…,” jawab Fahri.

Hingga saat ini, baik Anin maupun Afif enggan untuk bersekolah di satuan pendidikan yang direkomendasikan oleh Dinas Pendidikan, yakni SMAN 11 dan SMAN 13. (tsa/aro)