Pesona Batik Hanafi Wiradesa

Batik Warna Alam Kabupaten Pekalongan Pikat Warga AS

407
KAGUMI WARNA ALAM : Bupati Pekalongan Asip Kholbihi bersama Ketua Dekranasda Kabupaten Pekalongan Hj Munafah Asi Kolbihi mengagumi batik warna alam. (TAUFIK HIDAYAT/JAWA POS RADAR SEMARANG)
KAGUMI WARNA ALAM : Bupati Pekalongan Asip Kholbihi bersama Ketua Dekranasda Kabupaten Pekalongan Hj Munafah Asi Kolbihi mengagumi batik warna alam. (TAUFIK HIDAYAT/JAWA POS RADAR SEMARANG)

RADARSEMARANG.COM, KAJEN – Bupati Pekalongan Asip Kholbihi telah didapuk menjadi duta batik warna alam. Bupati juga telah mempromosikan batik warna alam Kabupaten Pekalongan di negara Amerika Serikat (AS) atas undangan Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) di New York.

Hal itu berbanding lurus dengan kunjungan warga AS ke Kabupaten Pekalongan untuk belanja batik warna alam semakin meningkat. Bahkan, tidak sedikit turis asing yang belajar pewarnaan alam pada perajin batik warna alam Kabupaten Pekalongan.

Sejak itu pula, penjualan batik warna alam meningkat pesat. Bahkan, beberapa perajin batik warna alam tersebut, sampai mendatangkan bahan baku warna alam dari luar Kabupaten Pekalongan. Kemudian diaplikasikan pada bahan jins yang digunakan untuk kemeja.

Adalah Batik Hanafi Wiradesa yang beralamat di Desa Pekuncen RT 03 RW 03 Nomor 33, Kecamatan Wiradesa, Kabupaten Peklaongan, yang menggayungsambuti peningkatan kunjungan warga AS ke Kabupaten Pekalongan. Sang pemilik bernama Hanafi, merupakan perajin yang menekuni batik spesialis warna alam untuk Batik Indigo. Produk yang dihasilkan, biasanya menyajikan warna biru yang kuat dan khas sejak tahun 1986 lalu. Warna itu berasal dari tanaman Indigofera Tinctoria.

Sejak itu, Batik Hanafi terus melakukan uji coba pewarnaan alam dengan berbagai tanaman, mulai dari tanaman nangka, secang dan pohon lainnya untuk menghasilkan warna alam yang bisa diterapkan pada kain batik. Akhirnya dipilihlah tanaman Indigofera Tinctoria atau dalam bahasa Indonesia disebut warna biru nila atau pohon Tarum untuk pewarnaaan batik alam yang ditekuninya. Hanafi berhasil menonjolkan kesan warna biru kuat yang teduh. Sehingga banyak orang mengatakan bahwa warna biru tua tersebut, merupakan representasi dari warna indigo.

Tanaman Indigofera Tinctoria atau pohon tarum tersebut, banyak tumbuh di sepanjang pesisir Kabupaten Pekalongan. Karena mudah tumbuh, sehingga tidak membutuhkan waktu lama untuk bisa dipanen, yakni tiga bulan setelah ditanam. Warna yang diperoleh melalui proses fermentasi selama waktu tertentu, menghasilkan warna biru yang bagus dan elegan.

“Warna biru alami dari indigofera tinctoria menempel kuat pada kain batik, sehingga ketahanan warnanya tak perlu diragukan lagi. Cara pewarnaan menggunakan pewarna alam, selalu kami pertahankan. Untuk menjaga tradisi leluhur dalam membatik di keluarga nenek buyut kami. Selain itu, karena tingkat ketahanan warna yang baik, tahan terhadap bahan kimia lain seperti detergen yang bersifat asam, maupun karena faktor terpaan sinar matahari dalam jangka waktu yang lama,” tutur Hanafi, Rabu (28/2) kemarin.

Hanafi juga mengatakan bahwa dari sisi sejarah, pewarna alam indigo sudah digunakan sejak zaman dahulu. Indigo juga dikenal sebagai warna para raja, merupakan salah satu warna alami yang tertua. Selain itu, pada zaman dahulu warna biru nila juga dipercaya menunjukkan kekuasaan, kepemimpinan, kesetiaan, dan kebijaksanaan seorang raja atau kaisar.

Motif batik indigo yang sudah dituangkan ke dalam kain batik, di antaranya motif Parang, Truntum, Sidomukti, dan beberapa jenis batik kuno lainnya. Semua itu, sangat diminati para pencinta batik, khususnya dari luar negeri seperti AS dan Jepang.

Kendati begitu, dalam satu tahun terakhir ini, Batik Hanafi sempat kesulitan bahan baku akan tanaman Indigofera Tinctoria. Sebenarnya, tanaman tersebut tumbuh subur pada tanah kering seperti di daerah pesisir. Namun karena tanah pesisir di Kabupaten Pekalongan tergenang rob, tidak tumbuh. Terpaksa mendatangkan bahan baku tanaman Indigofera Tinctoria yang telah diolah, dari Kabupaten Tuban, Propinsi Jawa Timur.

“Saat ini kami mulai menanam tanaman Indigofera Tinctoria di daerah yang gersang dan tandus, seperti i Kecamatan Kesesi. Kami juga memberikan pelatihan kepada para petani tanaman Indigofera Tinctoria untuk diolah jadi bahan baku pewarnaan batik,” kata Hanafi.

Sementara itu, para turis manca negara yang datang ke galerinya, selain berbelanja batik warna alam, juga belajar pengolahan tanaman Indigofera Tinctoria menjadi zat warna. Bahkan, belajar pengolahan limbah warna alam yang sangat baik untuk kompos tanaman. Demikian juga, permintaan kompos dari limbah tersebut sangat tinggi. “Semua jenis batik warna alam Batik Hanafi, dibandrol dengan harga Rp 1,5 juta” jelas Hanafi, yang mempuyai tanaman Indigofera Tinctoria, di halaman rumahnya. (thd/adv/ida)