Ironis, Direhabilitasi Malah Jadi Pengedar

418
PERIKSA : Pegawai BNN dan wartawan Kabupaten Batang diperiksa urinenya, untuk mengetahui adakah yang menggunakan narkoba. (Lutfi Hanafi/Jawa Pos Radar Semarang)
PERIKSA : Pegawai BNN dan wartawan Kabupaten Batang diperiksa urinenya, untuk mengetahui adakah yang menggunakan narkoba. (Lutfi Hanafi/Jawa Pos Radar Semarang)

RADARSEMARANG.COM, BATANG – Tidak hanya menyasar masyarakat umum, pelaku dunia hiburan, PNS dan TNI Polri saja, dalam pemeriksaan penyalahgunaan narkoba. Namun Badan Narkotika Nasional (BNN) Kabupaten Batang juga melakukan pemeriksaan internal dan para awak media.

“Kegiatan ini rutin kami gelar setiap waktu, selain periksa rutin anggota BNN juga mengajak wartawan cek urine, dan ternyata semua nihil kandungan narkoba,” jelas Kepala BNN Kabupaten Batang Teguh, Rabu (28/2).

Teguh mengatakan, penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba di Indonesia sudah semakin mengkhawatirkan. “Indonesia selama ini bukan hanya sebagai tujuan narkoba, namun juga sekaligus menjadi pasar yang potensial di tingkat Asia Tenggara,” serunya.

Bahkan dari hasil penelitian Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, angka prevalensi narkoba di kalangan remaja, pelajar, kelompok kerja produktif cenderung turun namun harus tetap ditangani secara komprehensif. Angka prevalensi penyalahgunaan narkoba di Indonesia pada tahun 2017 adalah sebesar 1,77 persen. Sedang angka prevalensi penyalahgunaan narkoba di Jawa Tengah adalah sebesar 1,16 persen.

Pada awal tahun ini, dijelaskan bahwa pihaknya sudah merehabilitasi 19 pengguna narkoba di Batang, yang didominasi oleh pengguna obat-obatan.  “Hanya ada 2 pengguna sabu-sabu yang kami rehabilitasi, sisanya kebanyak penyalagunaan obat-obatan, serta masih dalam tahap coba, bukan pengguna aktif,” terangnya.

Ironisnya, awal tahun ini ada salah satu pasien rahbilitasi yang tertangkap karena kembali mengedarkan narkoba. Bahkan pasien masih dalam tahanan di Lapas Pekalongan.

“Ini tentu sangat kami sayangkan, karena masih dalam proses rehabilitasi, akan tetapi malah menjadi pengedar lagi. Terlebih dilakuikan di dalam Lapas, yang notabene sangat ketat,” sesalnya. (han/zal)