Beranda Berita Semarang Penyerapan DD Perlu Pengawasan Ketat

Penyerapan DD Perlu Pengawasan Ketat

Others

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG – Dana desa yang digelontorkan ke setiap desa perlu pengawasan ketat. Selain untuk mengantisipasi penyelewengan, penyerapan juga bisa optimal untuk pembangunan desa.

Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (PDTT), Eko Putro Sanjojo menjelaskan, perangkat desa perlu banyak improvisasi untuk memaksimalkan penyerapan dana desa. Sebab, dari awal diturunkannya dana desa, 2015 silam, masih belum bisa terserap 100 persen.

Dari datanya, Kementerian telah menggelontorkan Rp 20,68 triliun pada 2015 silam. Dari angka itu, yang terserap hanya sekira 82 persen saja. Sementara 2016, dari Rp 46,98 triliun, hanya terserap 97 persen. Dan tahun lalu, dari Rp 50 triliun, terserap hampir 99 persen.

“Setiap tahun anggaran dana desa selalu meningkat. Perangkat desa juga sudah mulai bisa menyerapnya,” terangnya, Minggu (25/2).

Selama tiga tahun ini, lanjutnya, dana desa tergolong sangat efektif untuk pembangunan desa. Sudah ada jalan sepanjang 120 ribu kilometer di desa. Ada juga 1.900 kilometrer jembatan, puluhan ribu Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), drainase, posyandu, dan fasilitias lain di desa.

Efektivitas penyerapan anggaran dana desa itu, lanjutnya, masih perlu campur tangan warga setempat. Perlu pengawasan agar perangkat desa tidak bisa main-main dengan dana tersebut.

“Kalau melihat ada tanda-tanda penyelewengan dana desa, segera laporkan ke yang berwajib. Pasti akan kami tindak tegas,” tandasnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat, Desa, Kependudukan dan Catatan Sipil Jateng Sudaryanto, menjelaskan, tahun ini dana desa yang digelontorkan di Jateng sebesar Rp 6,74 triliun. Angka itu lebih tinggi dari tahun lalu yang hanya Rp 6,3 triliun. Sementara di tahun 2016 jumlahnya Rp 5.002 triliun dan tahun 2015 sebesar Rp 2,2 triliun.

Menurutnya, setiap tahun, alokasi dana desa memang selalu mengalami peningkatan. Meski begitu, dia mengakui jika sampai saat ini pemanfaatan dana tersebut mayoritas atau 93 persen masih dipergunakan untuk pembangunan infrastruktur fisik. Padahal, harapannya pemanfaatannya bisa dipergunakan untuk pemberdayaan masyarakat melalui kemandirian perekonomian.

“Persoalannya, ketika desa sudah memiliki infrastruktur sangat baik, saya khawatirnya kemudian hanya ditempel-tempel saja karena tidak ada upaya pemanfaatan di bidang lain, tapi semoga saja tidak,” ungkapnya. (amh/zal)

Stay Connected

12,286FansSuka
35PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan

Latest News

Semut Raksasa

Related News

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here