Deklarasikan Kawasan Tanpa Rokok

329
KTR : Kampus Universitas Muhammadiyah Magelang kini menjadi kawasan tanpa rokok. (Dok Humas UM Magelang)
KTR : Kampus Universitas Muhammadiyah Magelang kini menjadi kawasan tanpa rokok. (Dok Humas UM Magelang)

RADARSEMARANG.COM, MUNGKID – Universitas Muhammadiyah (UM) Magelang terus melakukan pembenahan dan peningkatan mutu kualitas. Kali ini UM Magelang mendeklarasikan sebagai kawasan tanpa rokok, Sabtu (24/2). “Mewujudkan UM Magelang sebagai Kawasan Tanpa Rokok untuk Menciptakan Generasi Sehat yang Berkemajuan” merupakan tema yang dibawakan oleh Muhammadiyah Tobacco Control Center (MTCC) UM Magelang dalam acara deklarasi itu.

“Rektor UM Magelang mendukung kegiatan tersebut yang kemudian menuangkannya dalam Surat Keputusan Rektor nomor 0176/KEP/II.3.AU/F/2017 tentang Implementasi Program Kawasan Tanpa Rokok  Kampus UM Magelang sebagai area yang dilarang untuk kegiatan merokok atau kegiatan memproduksi, menjual, mengiklankan atau mempromosikan produk tembakau sesuai dengan UU No 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan,” ujar Ketua MTCC Dra Retno Rusdjijati  MKes saat deklarasi di di Aula Gedung Fikes Kampus 2 UM Magelang.

Rektor UM Magelang Ir Eko Muh Widodo MT menyampaikan, perwujudan KTR telah melalui proses yang panjang. Sebelumnya UM Magelang melokalisasi para perokok dalam ruang tersendiri. Sekarang tidak hanya meminimalisir tetapi sudah pada tahap menghilangkan asap rokok di lingkungan kampus.

Eko mengungkapkan, dahulu ia juga seorang perokok baik saat menjadi mahasiswa maupun menjadi dosen. Namun tahun 2001 kebiasaaan tersebut berhenti seiring dengan kesadaran dari dalam dirinya sendiri. “Bukan karena sakit atau alasan lain, “ kata Eko.

Dalam kesempatan itu, para peserta acara yang terdiri dari dosen dan mahasiswa UM Magelang itu juga mendapatkan paparan materi tentang rokok oleh Kepala Dinas Kesehatan Kulonprogo Yogyakarta dr Hariyono MKes. Ia mengatakan, rokok elektrik yang sekarang sedang menjadi tren justru memiliki kadar ekstrak nikotin yang tinggi, sehingga tidak benar bila orang menganggap bila merokok elektrik lebih aman. Dan yang paling memprihatinkan, kata Hariyono,  masyarakat miskin justru yang paling banyak merokok dan menjadikan rokok sebagai kebutuhan utama, sehingga tepat bila BLT yang diberikan tidak berupa uang tunai melainkan berupa beras dan telur. (vie/sct/ton)