NUNGGU HIDUNG BELANG : Pekerja seks atau Gadis Matik yang mangkal di sepanjang pinggi Jalan Imam Bonjol, depan Stasiun Poncol maupun Jalan Tanjung, merupakan kelas lebih murah. (YUYUNG ABDI/JAWA POS)
NUNGGU HIDUNG BELANG : Pekerja seks atau Gadis Matik yang mangkal di sepanjang pinggi Jalan Imam Bonjol, depan Stasiun Poncol maupun Jalan Tanjung, merupakan kelas lebih murah. (YUYUNG ABDI/JAWA POS)

RADARSEMARANG.COM – BAGI warga setempat, sudah tak memandang aneh dengan maraknya Gadis Matik tersebut. Warga yang tidak ingin disebutkan namanya kepada Jawa Pos Radar Semarang, mengaku para Gadis Matik biasa mangkal mulai pukul 19.00, meski baru satu dua orang di atas motor. Tambah malam tambah banyak. Ya kurang lebih ada 15 orang. Dari segi usia bervariasi.

“Kalau pagi dan siang, biasanya yang tua-tua. Mereka kalah saingan dengan yang lebih muda. Cuma yang ramai, tengah malam sampai menjelang subuh pukul 04.00. Tapi kalau setelah Subuh sudah tidak kelihatan di jalan-jalan,” bebernya.

Modus yang dilakukan para pencari pria hidung belang ini, bisa dibilang sedikit jual mahal. Sebab, mereka hanya memandang para pengendara mobil atau motor yang lewat.

“Mereka (Gadis Matik) biasanya lirak-lirik, kalau ada pengendara lewat. Ada juga yang tamunya nyamperin dan terus terang, “Ngamar berapa?”. Kemudian tawar menawar sesuai kesepekatan. Mereka juga menolak kalau pelanggannya dalam kondisi mabuk, alasannya mainnya lama dan mudah resek,” katanya.

Sepengetahuannya, tarif sekali kencan kepada para hidung belang variatif, kisaran antara Rp 150 ribu sampai Rp 200 ribu, tergantung kecantikan wajah dan bodi Gadis Matik. Sedangkan harga yang ditawarkan sebelumnya, biasanya di atas Rp 200 ribu, meskipun tidak semuanya. “Biasanya kalau menawarkan Rp 300 ribu, tapi kenanya antara Rp 150 ribu sampai Rp 200 ribu, sekali main. Misalkan setelah keluar (ejakulasi) mau tambah, ya harus perjanjian lagi, bayar lagi,” ujarnya.

Setelah terjadi kesepakatan, pasangan mesum tersebut menuju ke sebuah penginapan yang berada di kawasan jalan tersebut. Begitu juga, harga penginapan bervariasi, mulai dari harga Rp 25 ribu untuk kelas melati, ada juga yang mencapai Rp 200 ribu ke atas untuk hotel berbintang dua.

“Masuk hotel, bayar lagi, tergantung kesepakatan. Kalau di kelas melati, biasanya Rp 25 ribu-an, hanya sekali kencan, paling tidak sampai 1 jam. Memang biasanya pas di kamar ngejak cepet-cepet, sebab ibarat dia, waktu adalah uang, uang dan intinya uang,” bebernya.

Meski prostitusi ini terbuka, namun gerak-gerik para Gadis Matik ada pengawasnya. Mulai mangkal, transaksi, hingga masuk hotel. Kalau terjadi apa-apa, pengawas ini yang maju. Sebagian pengawas ini, biasanya pasangannya tak resmi. Selain untuk pengamanan, kadang juga antar jemput. Sedangkan jasanya bervariasi, mulai dari uang hingga kepuasan.

“Biasanya yang ngawasi gemblekannya, ya dapat jatah, ya makan, minta minum (miras) ya dibelikan, dapat uang, dapat kepuasan juga. Kalau dikasih uang berapa saya kurang tahu,” katanya.

Pihaknya juga mengakui, lokasi jalan tersebut sudah melegenda terkait praktik prostitusi jalanan. Menurutnya, praktik prostitusi tersebut sudah ada sejak ia kecil semasa Sekolah Dasar (SD). Sedangkan Gadis Matik, mulai ada kurang lebih sejak 10 tahun silam. “Sejak saya SD sampai sekarang berusia 30 tahun, sudah ada. Mengendarai motor matik dengan alasan lebih cepat untuk kabur ketika ada razia petugas,” terangnya.

Umumnya, Gadis Matik di kawasan tersebut berasal dari berbagai daerah, ada dari Semarang dan luar Kota Semarang. Ada dari Sunda, Jawa Barat, mereka indekos di Semarang. Ada yang janda, ada yang masih berkeluarga. “Jumlah tamu persisnya kurang tahu. Guyonannya, wah dino iki entok (uang) Rp 1 juta tok. Ada juga yang bilang, entok (dapat uang) Rp 500 ribu, sepi. Padahal jumlah itu sekali mangkal, belum kalau dikalikan sebulan. Makanya mereka motor beli sendiri, dilihat dari segi pendapatannya sudah bisa,” terangnya.

Sedangkan para pelanggan Gadis Matik tersebut bervariasi, dari kalangan bawah hingga menengah. Mulai pelajar, mahasiswa bahkan pegawai. “Dulu pernah razia besar-besaran siang hari. Ternyata ada PNS masih pakai seragam tertangkap, pelajar SMP, SMA juga ada yang makai (kencan),” katanya. (mha/ida)