NUNGGU HIDUNG BELANG : Pekerja seks atau Gadis Matik yang mangkal di sepanjang pinggi Jalan Imam Bonjol, depan Stasiun Poncol maupun Jalan Tanjung, merupakan kelas lebih murah. (YUYUNG ABDI/JAWA POS)
NUNGGU HIDUNG BELANG : Pekerja seks atau Gadis Matik yang mangkal di sepanjang pinggi Jalan Imam Bonjol, depan Stasiun Poncol maupun Jalan Tanjung, merupakan kelas lebih murah. (YUYUNG ABDI/JAWA POS)

RADARSEMARANG.COM – Meski kerap dirazia, prostisusi ilegal tetap marak di Semarang. Beberapa sudut kota jadi tempat mangkal para kupu-kupu malam, sebut saja Jembatan TI dan sekitaran Stasiun Kereta Api (KA) Semarang Poncol. Di Poncol ini, orang-orang sering menyematkan sebutan gadis matik kepada para pekerja seks komersial (PSK). Seperti apa?

BERADA di atas motor adalah salah satu strategi para Gadis Matik untuk bisa mengambil langkah seribu ketika ada razia petugas keamanan. Meski mereka juga menggunakan jurus kira-kira. Kira-kira kapan petugas keliling dan kira-kira kapan melipir sejenak.

ILUSTRASI: TRI STYAWAN/JAWA POS RADAR SEMARANG
ILUSTRASI: TRI STYAWAN/JAWA POS RADAR SEMARANG

Jawa Pos Radar Semarang mencoba menyambangi tempat yang biasa digunakan para gadis matik ini mangkal. Ya di sekitaran Stasiun Semarang Poncol. Ternyata, kini keberadaan mereka sudah meluas hingga ke Jalan Tanjung dan pertigaan Jalan Sayidan dengan Jalan Pemuda.

Keberadaan mereka memberikan pemandangan yang khas. Mulai dari yang muda 17 tahun, hingga paruh baya, kepala 5 alias umur 50-an. Semuanya tampak percaya diri memanggil pria yang melintas dengan laju kendaraan pelan. ”Ssstttt” sambil melambaikan tangan. Mereka menjajakan diri mulai pukul 21.00 hingga larut malam.

Salah seorang gadis matik, sebut saja Dian (bukan nama sebenarnya) mengaku terpaksa menjalani pekerjaan ini untuk membantu orang tuanya membayar utang. Tidak ada keluarga maupun tetangga yang tahu, Dian merupakan satu dari sekian gadis matik di Poncol. Sebab, kepada keluarga ia mengaku bekerja sebagai lady companion (LC) di salah satu tempat karaoke terkenal di Semarang.

”Makanya saya pakai masker, takut ketahuan kalau ada tetangga yang lewat,” jelas perempuan asal Boja yang mengaku belum lama menjalani pekerjaan ini. Nada bicaranya seperti layaknya sudah sangat akrab.

Dian baru berumur 22 tahun. Meski demikian, mantan mahasiswi yang putus kuliah ini sudah bersuami dan memiliki seorang anak. Ketika pergi mengais  rupiah, sang anak diasuh oleh orangtuanya.

Berbicara mengenai tarif, tidak ada harga yang seragam. Rata-rata mereka mematok harga di atas seratus ribu rupiah dengan tambahan biaya kamar. Seperti layaknya Dian, ia bisa dipakai dengan harga 150 ribu termasuk biaya kamar. Harga ini tidak bisa digoyang lagi atau dalam istilah forum jual beli online, 150 merupakan harga nett.

Sepakat bertransaksi, Dian membawa pelanggan ke salah satu hotel kelas melati di sekitaran Stasiun Semarang Poncol. Dian tampak sudah biasa, layaknya masuk ke rumah sendiri. Ia juga yang membayarkan biaya kamar dari uang yang diberikan pelanggan. Di kamar berukuran kurang lebih 3×3 meter, dengan meja kursi di sudut ruangan dan satu tempat tidur besar namun kurang terawat serta tidak terlalu terang, Dian memuaskan hasrat para pria kesepian.

Sebelum memasuki kamar, petugas hotel akan menyemprot ruangan dengan pengharum ruangan. Sayangnya, aroma jeruk dari pengharum ruangan tak mampu menandingi pengap dan panasnya kamar. Bahkan tidak lebih wangi dari aroma parfum merk sissi milik Dian yang tercium saat transaksi di pinggir jalan.

Meskipun banyak menerima pelanggan, Dian mengaku tetap canggung beradu dengan pria yang bukan suaminya. Untuk itu, Dian selalu meminta pelanggannya untuk dilayani dalam keadaan gelap. ”Malu lahhh… Kalau nggak mau dimatiin, ya udah nggak jadi, uangnya saya kembalikan,” jelasnya santai, dengan gaya khas anak muda.

Lantas, berapa kali para gadis matik ini melayani pria dalam semalam? Dian mengaku melayani tamu sesuai dengan uang yang ia butuhkan. Jika sedang butuh banyak uang, ia bisa memuaskan 10 orang dalam satu malam. Namun, jika masih memiliki cukup uang, ia hanya melayani beberapa saja. Dian mengaku tidak setiap hari mangkal di sekitaran stasiun Poncol. ”Matikan ya Mas lampunya,” ujarnya.

Salah seorang penjaga hotel, Sutikno (nama samaran) mengatakan tarif hotel kelas melati berkisar antara 35-125 ribu rupiah. Tentu yang termahal, dilengkapi dengan fasilitas lebih, AC. Dirinya berkisah, para gadis matik memang selalu melayani pelanggan di hotel tempat ia bekerja selama 30 tahun ini. Bahkan, saking seringnya, dirinya sudah terlampau akrab dengan perempuan yang harus menanggung risiko terkena operasi Satpol PP ini. ”Risikonya berat. Kalau ketangkap dibuang ke Solo. Makanya mereka bawa motor untuk bisa kabur,” jelas pria dengan gaya rambut seperti raja Dangdut Indonesia ini.

Senada dengan pengakuan Dian, Sutikno berujar, setiap gadis metik bisa berkali- kali membawa tamu ke hotel yang juga menyediakan toko mini, isinya tak jauh dari kebutuhan aktivitas esek-esek, tisu dan kondom. Tentu, mereka yang cantik dan kuat bisa membawa lebih banyak tamu, bahkan hingga puluhan. ”Tidak ada persaingan, karena mereka juga tidak dikoordinir,” jelasnya.

Lain halnya dengan warga Kudus yang akrab disapa Yanti, 34, ini. Akunya, baru 2 tahunan menjajakan diri. Semua itu, karena tuntutan kebutuhan ekonomi keluarga. Ia sebagai kepala keluarga tunggal, sedangkan suami yang dinikahinya secara siri tidak bertanggung jawab. Keluarganya tidak tahu, karena ia hidup di Semarang sengaja mengontrak. Sedangkan anaknya dititipkan ke orangtuanya.

Pekerjaan itu diakuinya dilakukan untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga, anak, biaya hidup dan sebagainya. “Ini bukan pekerjaan pilihan, tapi karena keadaan,” tuturnya.

Dalam semalam ia biasa melayani 3 sampai 4 orang. Biasanya mulai mangkal pukul 20.30 di sekitar Poncol dan Jalan Pemuda. Untuk tarif sekali booking ia mematok Rp 150 ribu hingga Rp 500 ribu, tergantung berapa kali mainnya.

“Kalau ada razia sudah biasa. Ada yang kasih info duluan, jadi selalu aman. Kalaupun ditangkap, paling cuma dititipin panti sebentar, nanti bisa kembali lagi,” kata Yanti kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Namun demikian, ia sendiri belum pernah tertangkap razia. Hanya saja, beberapa rekannya sudah pernah dan cukup sering. Namun tak malu, karena sudah menjadi bagian dalam mengais rejeki. “Kalau malu yo ndak makan Mas, semua kalah sama kebutuhan. Dibilang taubat pasti, karena kebanyakan juga rajin salat, cuma ndak ada pilihan lagi,” sebutnya.

Ia juga memiliki komunitas dengan backing preman. Pihaknya tinggal menyetor bagian untuk keamanan. Kalau buat ngamar, hampir seluruh hotel di Poncol bisa digunakan, sebagian tergantung tamu juga.

Berbeda lagi dengan janda anak 1 yang akrab disapa Risma yang tinggal di Tanah Mas. Selain mangkal di Poncol, juga membuka booking online. Sebulan ia bisa memperoleh Rp 4 juta. “Ndak tentu kalau penghasilan, tapi bisa sampai Rp 4 juta kalau sama boking luar. Kalau kerja pabrik paling cuma UMR, belum mikirin anak, kontrakan dan kebutuhan lain, mana cukup,” kata Risma dengan bahasa Jawa singkat. (sga/jks)