Oleh: Dra Titik Sugiyati
Oleh: Dra Titik Sugiyati

RADARSEMARANG.COM – PERWUJUDAN Pendidikan bermutu tidak hanya dilihat dari hasil belajar peserta didik, namun proses pembelajaran penting untuk menjadikan generasi yang kreatif dan kompetitif. Peraturan Pemerintah No. 19 tahun 2005 pasal 19 ayat (1) menyatakan: Proses pembelajaran pada satuan pendidikan diselenggarakan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik. Hal tersebut mengamanatkan kepada pendidik untuk mengubah paradigma pembelajaran dari berpusat pada guru menjadi berpusat pada peserta didik.

Mata pelajaran Prakarya dan Kewirausahaan di SMK termasuk salah satu matapelajaran yang kurang diminati peserta didik jika dibandingkan dengan mata pelajaran produktif. Hal ini disebabkan karena mata pelajaran Prakarya dan Kewirausahaan lebih banyak teori, sehingga peserta didik merasa bosan, dan proses kegiatan belajarpun tidak menyenangkan. Oleh karena itu, guru Prakarya dan Kewirausahaan harus berupaya membuat peserta didik menjadi minat dan tertarik dalam mengikuti pembelajaran Prakarya dan Kewirausahaan.

Menurut Corey (1986-1905) dalam Hamalik (2010) pembelajaran adalah suatu proses di mana lingkungan seseorang secara sengaja dikelola untuk memungkinkan ia turut serta dalam tingkah laku tertentu dalam kondisi-kondisi khusus atau menghasilkan respons terhadap situasi tertentu.

Pada dasarnya dengan belajar mata pelajaran Prakarya dan Kewirausahaan dapat menumbuhkan jiwa, minat dan semangat wirausaha. Selain itu pembelajaran Prakaryadan Kewirausahaan dapat menumbuhkan kreatifitas dan semangat berinovasi. Peserta didik yang kreatif dan inovatif akan menjadi pribadi yang maju, berkualitas dan berguna bagi masyarakat, bangsa dan negara.

Pembelajaran Prakarya dan Kewirausahaan bisa dilakukan di dalam kelas maupun diluar kelas. Pembelajaran di dalam kelas lebih banyak memberikan teori-teori berwirausaha, sedangkan pembelajaran diluar kelas akan mengajak anak untuk melihat secara langsung para wirausaha sehingga timbul minat untuk menjadi wirausaha.Pendekatan kontekstual digunakan dalam mengaitkan bahan ajarnya dengan situasi dunia nyata peserta didik dan mendorong peserta didik membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari.

Pembelajaran yang menerapkan pendekatan kontekstual adalah pembelajaran diluar kelas. Hal ini bisa dilakukan dengan mengajak peserta didik berkunjung kepasar, komplek pertokoan, rumah makan, bahkan bisa ke perusahaan-perusahaan. Peserta didik akan menanyakan alasan mereka berwirausaha, awal mula membuka usaha sampai keuntungan yang diperoleh, sehingga peserta didik tertarik enaknya menjadi seorang wirausaha.

Setelah kunjungan ke pasar, peserta didik dilatih menjual produk dilingkungan sekolah, dilanjutkan kemasyarakat. Pelatihan tersebut menjadikan siswa lebih aktif. Selain itu, aktifitas sosialisasi dan kemaandirian siswa bisa dibangun. Pola demikian, tidak terlalu merepotkan guru dan siswa. Justru dalam pelaksanannya siswa lebih antusias. Dengan mendapatkan keuntungan peserta didik akan termotivasi untuk berwirausaha. Jadi dapat disimpulkan bahwa pembelajaran Prakarya dan Kewirausahaan di luar kelas dapat menumbuhkan minat, jiwa dan semangat berwirausaha peserta didik. (tj3/bas)

Guru SMK Negeri 11 Semarang