Oleh: Dwi Handayani  SPd
Oleh: Dwi Handayani  SPd

RADARSEMARANG.COM – BAHASA Jawa dianggap sulit bagi siswa. Hal tersebut dikarenakan kebiasaan dalam berkomunikasi tidak menggunakan Bahasa Jawa. Siswa rata-rata berkomunikasi menggunakan bahasa Indonesia. Hal tersebut dikarenakan Bahasa Indonesia lebih mudah untuk dipahami dan tidak ada tataran  yang disesuaikan dengan orang yang dihadapi.

Bahasa Jawa di lingkungan sekolah diperlukan untuk siswa. Hal tersebut bertujuan untuk melatih dalam berkomunikasi. Kegiatan berkomunikasi antara siswa dengan siswa, siswa dengan guru, siswa dengan pegawai TU, dan siswa dengan kantin atau koperasi. Percakapan yang dilakukan bisa menunjukkan tingkatan dalam berbahasa. Penggunaan kosa kata berdasarkan tingkatan antara sebaya dan orang lebih tua.

Kosa kata Bahasa Jawa menjadi permasalahan bagi siswa. Hal tersebut dikarenakan siswa jarang menggunakan Bahasa Jawa dalam berkomunikasi sehari-hari. Bahasa Jawa dianggap sulit karena kurangnya perbendaharaan kosa kata.

Guru Bahasa Jawa sebagai pengajar dituntut untuk mempunyai trik agar Bahasa Jawa diminati siswa. Pembelajaran di kelas siswa diwajibkan menggunakan Bahasa Jawa. Ragam basa ngoko dan krama dipraktikkan siswa dalam berkomunikasi. Apabila terjadi kesalahan dalam mengucapkan, guru akan mengoreksi dan menunjukkan kosa kata yang benar. Pembiasaan berbahasa Jawa yang dilakukan terus-menerus dapat memperlancar dalam berkomunikasi. Hasil yang diharapkan adalah perbendaharaan kosa kata siswa dapat bertambah.

Pembelajaran menulis tembang macapat di kelas diperlukan cara agar siswa dapat mudah dalam memahaminya. Tembang macapat adalah karangan yang mempunyai pathokan berdasarkan guru lagu, guru wilangan, dan guru gatra. Siswa dapat mencari contoh tembang gambuh di internet dan menuliskan di buku tulis. Syair tembang gambuh tersebut dianalisis.

Ide dimunculkan dari pengalaman siswa dalam berwisata. Pengalaman jalan-jalan siswa di kota Semarang bisa menjadi referensi. Wisata yang di kota Semarang antara lain Greja Blenduk, Pantai Marina, Pantai Maron, Kebun Binatang Mangkang, Masjid Agung Jawa Tengah, dan lain-lain. Selain itu, ide dapat dimunculkan dengan melihat keadaan kota Semarang. Ada pula wisata budaya, wisata religi, dan wisata kuliner.

Siswa membuat tembang gambuh dengan tema Kutha Semarang. Paugeran tembang gambuh dituliskan di kertas sebelah kanan. Kata-kata disusun per baris. Susunan kata-kata dibuat 5 baris.Langkahtersebutbisadigunakanoleh guru di kelas. Sehingga siswa mengalami proses pembelajaran yang sebenarnya.

Siswa menuliskan pengalaman berwisata. Selain itu, kesan yang dirasakan saat mengunjungi tempat wisata dapat ditulis menjadi susunan kata-kata. Setelah tersusun, siswa menghitung suku kata pada setiap baris dan diakhiri aksara vokal. Susunan kata-kata disesuaikan dengan guru lagu, guru wilangan, dan guru gatra dari tembang gambuh.

Penyusunan kata-kata dalam tembang disesuaikan dengan perbendaharaan kata siswa. Kadang kala siswa mengalami kesulitan dalam merangkai kata-kata pada setiap baris. Setiap baris dalam penyusunan kata-kata tercampur dengan Bahasa Indonesia. Kata-kata berbahasa Indonesia dapat dicek melalui internet atau bertanya dengan guru langsung. Selain itu, siswa dapat mengecek kata-kata yang digunakan melalui aplikasi Bausastra Jawa.

Guru melihat pekerjaan siswa. Setiap siswa akan terpacu dalam membuat tembang gambuh karena pekerjaannya dilihat satu per satu. Hal tersebut menjadikan siswa agar tidak bermalas-malasan dan tiduran. Hasil yang dicapai dapat maksimal dan sesuai dengan waktu yang telah ditentukan. Pembelajaran penulisan tembang gambuh dapat berhasil dengan karya-karya siswa yang beraneka ragam.

Dengan model tersebut, diyakini Bahasa Jawa akan disukai siswa. Pembelajaran di kelas tidak membosankan siswa. Untuk itu, disarankan guru mau menggunakan model tersebut, untuk meningkatkan motivasi dan semangat belajar siswa. Selain itu, dalam pelaksananya disesuaikan kondisi dan perlengkapan yang ada. (tj3/bas)

Guru SMA Negeri 15 Semarang