Oleh: Ihda Nurya SAg
Oleh: Ihda Nurya SAg

RADARSEMARANG.COM – SEBAGAI Guru Bangsa, KH Abdurrahman Wahid  (Gus Dur) pernah berpendapat pendidikan Nasional telah mengabaikan aspek moralitas dalam penyelenggaraannya. Akibatnya adalah, lahirnya generasi yang kaya skill tapi miskin moral. Contohnya adalah, lahirnya para koruptor di jajaran birokrasi dan elite politik negeri ini. Mereka mempunyai skiil/kemampuan yang mumpuni di bidangnya tetapi tidak dibarengi moral yang baik dan pemahaman serta pengamalan ajaran agama yang cukup sehingga membawa bangsa Indonesia menuju dekadensi moral yang semakin memprihatinkan.

Potret di atas, akan bisa diminimalisis bila pesantren dengan sistem dan karakter yang khas telah menjadi bagian integral dari sistem pendidikan Nasional. Dan jika perlu, prinsip dan sistem pendidikan pesantren diterapkan dalam pendidikan Nasional, tentunya dengan inovasi yang sesuai dengan karakteristik masing-masing. Hal ini penting karena pendidikan formal adalah jalur sah pendidikan di Indonesia. Meski mengalami pasang surut dalam mempertahankan visi, misi dan eksistensi, namun tak dapat disangkal hingga saat ini pesantren tetap survive bahkan beberapa diantaranya muncul sebagai model gerakan alternatif bagi pemecahan masalah masalah sosial masyarakat.

Begitu pentingnya peran pesantren dalam kehidupan masyarakat, sehingga Gus Dur juga menerapkan prinsip-prinsip pendidikan pesantren dan strategi-strategi pengembangannya dalam pesantren yang didirikannya, yakni Pesantren Ciganjur yang didirikan Gus Dur pada 2003 lalu, selepas ia lengser dari jabatan presiden. Seluruh santri tinggal dengan gratis, ongkos tinggal, listrik, air dan lain-lain ditanggung Yayasan Wahid Hasyim yang membawahi pesantren. Aturan itu dikeluarkan Gus Dur, karena dahulu saat mondok di pesantren pun kerap tidak punya uang, para santri ditampung di gedung yang cukup megah, berlantai dua. Aturan dari Gus Dur, yang boleh nyantri di sini hanya yang sudah lulus SMA.

Gus Dur menyebut Pondok Pesantren Ciganjur sebagai tempat ‘ngaji laku’. Artinya, bukan hanya tempat belajar ilmu pengetahuan, melainkan juga tempat belajar sikap dan keteladanan. Salah satunya dengan penerapan syarat tidak boleh berpolitik praktis dan berorientasi uang.Tak satu pun santri Ciganjur boleh terlibat dalam aktivitas partai politik, termasuk di PKB yang didirikan Gus Dur sendiri.

Ada dua istilah pembelajaran di pesantren Ciganjur, yaitu mengaji dan mengkaji.Mengaji itu untuk belajar kitab-kitab agama klasik sebagaimana yang biasa diajarkan di pesantren-pesantren tradisional, sementara mengkaji itu untuk ilmu-ilmu sosial atau wacana yang sedang berkembang di masyarakat. Selain kajian sosial, saat ini, Pesantren Ciganjur juga terus menggiatkan kajian tentang pemikiran-pemikiran Gus Dur itu sendiri, yang telah meninggal pada akhir Desember 2009. Melihat materi kitab-kitab yang dipelajari, atau ilmu-ilmu yang dikaji, banyak orang menyebut Pesantren Ciganjur sebagai kampusnya pesantren.

Dalam mengenalkan Islam sebagai etika sosial pembentuk karakter, maka pendekatan melalui pendidikan formal mutlak diperlukan. Sederhananya adalah perlunya suatu model pendidikan Islam ala pesantren dalam pendidikan formal. Gus Dur menyebutkan tiga prasyarat utama supaya Islam dapat merasuk dalam sistem kehidupan baik masyarakat atau sekolah, antara lain:

Pertama, pengenalan pertumbuhan Islam secara historis melalui studi kesejarahan yang bersifat klasik. Pengkajian sejarah Islam klasik lengkap dengan kelebihan dan kekurangannya sebagai sebuah peradaban, akan memberikan pelajaran dan gambaran penting yang diperlukan untuk menyusun pengenalan watak-watak hidup Islam sebagai sebuah tata kehidupan. Ini dilakukan melalui mata pelajaran sejarah kebudayaan Islam yang dikaji secara komprehensif terutama tradisi keislaman nusantara. Selama ini materi sejarah keislaman hanya terjebak pada sejarah Nabi, sahabat serta para ulama Timur Tengah hingga melupakan sejarah Islam khas Indonesia yang begitu menyatu dalam tradisi keislaman muslim Indonesia seperti Sunan Kalijaga, Sultan Agung atau bahkan Mas Karebet.

Kedua, pengenalan pemikiran sistematis yang relevan dengan kenyataan objektif yang ada dalam tata kehidupan kaum muslimin melalui studi empiris. Pengenalan secara empiris ini akan semakin mempertajam analisis bagi mereka yang ingin melakukan pemahaman mendalam dan terperinci atas Islam sebagai sistem kemasyarakatan.

Ketiga, pembenahan ideologis sebagai sarana bagi kedua jenis pengenalan di atas.Yang dimaksud dengan pembenahan ideologis adalah pemberian perhatian yang cukup besar di kalangan kaum muslimin atas pentingnya kajian mendalam tentang kehidupan beragama sebagai sistem kemasyarkatan. Perhatian tersebut akan memberikan prioritas kepada studi kesejarahan dan analisis empiris, yang merupakan prasyarat bagi pemahaman yang sehat dan berimbang.

Melalui sedikit pemikiran ini, semoga pendidikan karakter di Indonesia bisa tercapai dengan baik. (us/bas)

Guru MTs Negeri Pamotan Rembang