Keluarga Korban Duga, Istri Didik Terlibat 

Kasus Pembunuhan PK Fitri Anggraeni 

4279
BERDUKA : Sumiyati dan Sukardi sedang memangku Devita anak Fitri yang menjadi korban pembunuhan sadis di rumah duka di Desa Margosari, Limbangan, Sabtu (24/2) kemarin. (BUDI SETYAWAN/JAWA POS RADAR SEMARANG)
BERDUKA : Sumiyati dan Sukardi sedang memangku Devita anak Fitri yang menjadi korban pembunuhan sadis di rumah duka di Desa Margosari, Limbangan, Sabtu (24/2) kemarin. (BUDI SETYAWAN/JAWA POS RADAR SEMARANG)

RADARSEMARANG.COM, KENDAL—Pihak keluarga korban menduga pembunuhan terhadap Fitri Anggraeni, 25, yang pekerja PK (Pemandu Karoke) di Karoke Dinasti Gonoharjo Kecamatan Limbangan, sudah terencana dan pelakunya lebih dari satu orang. Tersangka Didik Poncosulistyo, 27, warga Dusun Masiran, Desa Kaligading Kecamatan Boja, Kendal, diduga dibantu istrinya Lestari.

Dugaan itu muncul dari ibu maupun ayah korban yakni Sumiyati dan Sukardi. Keduanya melihat banyak kejanggalan dalam kasus pembunuhan anak keduanya itu. Pasalnya, sehari sebelum kejadian, yakni Jumat (16/2) lalu, Didik menjemput Fitri ke rumah, atas permintaan Lestari yang tak lain adalah istri Didik.

Hubungan Fitri dengan Lestari, keduanya telah bersahabat lama. Yakni Lestari merupakan teman SMP yang hingga kini masih sering berkomunikasi dan selalu bertemu. “Jumat pagi, dia (Didik, Red) ke rumah mau menjemput Fitri. Tapi Fitri tidak mau, minta dijemput agak siang. Akhirnya Didik siang kesini menjemput Fitri untuk dibawa ke rumahnya di Desa Puguh,” kata Sumiyati, Sabtu (24/2).

Pamitnya, kala itu, Fitri mau menjenguk Lestari yang kata Didik sedang sakit dan dirawat di Rumah Sakit (RS) dr Soewondo Kendal. Tapi, menurut Sumiyati, itu bohong untuk membujuk Fitri agar mau dijemput. Sebab kejanggalan yang muncul justru, Minggu (18/2) sehari setelah kejadian pembunuhan, Didik bersama Lestari datang lagi ke rumah korban.

“Mereka berdua (Didik dan Lestari, Red) menanyakan Fitri, apakah sudah pulang atau belum. Kami jawab belum, katanya menjenguk Lestari di RS. Tapi keduanya sama sekali tidak menjawab dan langsung berpamitan pulang,” katanya.

Pasangan suami istri itu, kata Sumiyati, juga menanyakan hal sama kepada teman-teman kos Fitri di Desa Wisata Nglimut, Kecamatan Limbangan. “Coba ngapain mereka berdua mencari Fitri sampai sejauh itu, kalau tidak ingin menghilangkan jejak,” kata Sukardi ayah korban.

ILUSTRASI: TRI STYAWAN/JAWA POS RADAR SEMARANG
ILUSTRASI: TRI STYAWAN/JAWA POS RADAR SEMARANG

Pihak keluarga mengaku memang tidak punya bukti keterlibatan Lestari dalam kasus ini. Tapi melihat keakraban Lestari dan Fitri, harusnya Lestari mengetahui betul kondisi Fitri. “Karena Fitri itu hanya mau main ke rumah Didik, jika ada Lestari di rumah,” tandasnya.

Apalagi jika melihat waktu dan tempat pembunuhan, menurutnya, pelaku lebih dari satu orang. Dimana ada yang bertugas membekap korban, sebab jenazah korban ditemukan dalam kondisi kepala ditutup plastik hitam. Juga ada selendang, katanya digunakan untuk menjerat leher korban.

Ditambah lagi, waktu yang dibutuhkan untuk mengecor kamar mandi juga begitu cepat. Menurutnya, tidak mungkin dilakukan oleh satu orang. Dugaan Sukardi ada dua orang . Yakni satu orang mengangkut pasir yang digunakan mengubur tubuh korban.

Sedangkan satu lainnya membuat adukan semen dan pasir yang digunakan untuk mengecor dan menutup tubuh korban agar tidak tercium baunya dari luar. “Kejadian katanya, Sabtu (17/2) siang. Kalau tidak dibantu, pasti anak saya sudah berontak dan menjerit,” tandasnya.

Hal yang memperkuat keterlibatan Lestari dalam kasus ini, adalah masalah hutang piutang. Dimana Didik dan Lestari pernah meminjam uang kepada Fitri. Namun hingga kini belum dikembalikan.

Sebelum pergi bersama Didik, Fitri bercerita kepada ibunya jika Didik ingin meminjam uang lagi kepadanya. Namun tidak disanggupi Fitri, lantaran hutang yang lalu belum dikembalikan. “Baik Lestari maupun Didik, keduanya tidak bekerja dan sama-sama menganggur,” tambahnya.

Namun saat ini, keluarga korban hanya berharap pihak Kepolisian bisa mengungkap kasus pembunuhannya secara tuntas. Sehingga pelaku pembunuh Fitri bisa dijerat secara hukum dan mendapatkan ganjaran yang seberat-beratnya.

Seperti diberitakan sebelumnya jika Fitri Anggraeni yang bekerja sebagai Pemandu Karaoke di sebuah tempat hiburan malam di daerah Nglimut, Limbangan ditemukan tewas. Tubuhnya dikubur dan dicor didalam kamar mandi.

Sementara itu, Kabid Dokkes Polda Jateng, Kombes dr Didit Didit Setiobudi mengatakan bahwa aksi kejahatan yang dilakukan tersangka Didik dalam menghabisi nyawa Fitri, murni pembunuhan. Dari hasil otopsi ditemukan bekas luka jeratan di leher korban. “Bekas jeratan melingkar penuh pada leher. Korban mengalami mati lemas akibat dijerat,” ungkapnya.

Terkait dugaan adanya luka lain di tubuh korban, Didit tidak menemukan. Sedangkan korban meninggalnya sudah 24 jam lebih. Kalau dilihat dari otopsinya tidak ada, hanya ada bekas jeratan di leher. “Informasinya sudah (meninggal) semingguan,” jelasnya.

Diketahui, kasus pembunuhan ini terungkap ketika kepolisian menangkap pelaku Didik Poncosulistyo, terkait kasus pembegalan sepeda motor di pinggir jalan, area kebun tebu turut Dusun Balak Desa Ngabean Kendal. Selain itu, pelaku mengakui telah melakukan pembunuhan terhadap Fitri. Pembunuhan dilakukan di rumah istri pelaku di Desa Puguh dengan cara dicekik karena pelaku tersinggung oleh perkataan korban kepada tersangka. Kemudian jenazahnya dimasukkan dalam bak mandi kemudian ditutup pasir dan dicor semen.

Dari keterangan tersangka, anggota Polsek Boja bersama kasat Reskrim dan anggota, Inafis, tim medis Puskesmas Boja melakukan cek dan pembongkaran bak mandi yang dimaksud. Akhirnya ditemukan korban dalam keadaan telanjang. Kemudian jenazah dibawa ke RS Bhayangkara Untuk dilakukan otopsi. (bud/mha/ida)