Ratusan Peneliti Terancam Sanksi

758
PAPARAN : Direktur Direktorat Riset dan Pengabdian Kepada Masyarakat Kemenristekdikti Prof Ocky Karna Rajadsa saat membuka workshop peningkatan kualitas output penelitian program riset terapan 2018 di Hotel Santika Semarang, kemarin. (AFIATI TSALITSATI / JAWA POS RADAR SEMARANG)
PAPARAN : Direktur Direktorat Riset dan Pengabdian Kepada Masyarakat Kemenristekdikti Prof Ocky Karna Rajadsa saat membuka workshop peningkatan kualitas output penelitian program riset terapan 2018 di Hotel Santika Semarang, kemarin. (AFIATI TSALITSATI / JAWA POS RADAR SEMARANG)

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG – Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM) Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) membeberkan, sedikitnya 600 peneliti dari berbagai Perguruan Tinggi baik negeri maupun swasta terancam dikenakan sanksi karena laporan hasil penelitian dan keluarannya tidak bisa dipertanggungjawabkan.

Peneliti yang tidak bisa mempertanggungjawabkan laporan hasil penelitian ini diberi waktu hingga Maret 2018 untuk menyelesaikan laporan dan mengembalikan dana hibah penelitian dari Kemenristekdikti yang telah digunakan.

“Kami kerjasama dengan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) bidang pencegahan. 600 peneliti tidak beres itu berdasar penelusuran sejak tahun 2015 hingga 2017. Kami tunggu sampai akhir Maret untuk selesaikan ketidakberesan termasuk laporan keuangannya,” ujar Direktur DRPM Kemenristekdikti Prof Ocky Karna Radjasa, ditemui dalam kegiatan bersama Universitas PGRI Semarang, kemarin.

Ditegaskan, para peneliti yang terdeteksi tidak beres tersebut akan dikenakan sanksi, yakni tidak boleh mengajukan dana penelitian minimal satu tahun. Tak hanya itu, mereka juga tidak diperbolehkan mengakses Sistem Penelitian dan Pengabdian Masyarakat.

“Ini merupakan bagian dari pembinaan pendewasaan bagi para peneliti supaya lebih bertanggungjawab apa yang sudah dikerjakan oleh mereka (para peneliti),” tegasnya.

Ocky juga mengatakan, tahun ini pihaknya akan menekankan pada pencapaian empat target. Target tersebut diantaranya publikasi internasional bereputasi, meningkatkan jumlah Hak Kekayaan Intelektual (HKI), meningkatkaan prototipe riset yag didorong ke arah hilirisasi dan yang terakhir adalah prototipe riset yang didorong ke industri.

“Ada juga serangkaian dukungan untuk penulisan ilmiah, dengan mengadakan klinik manuskrip dengan meningkatkan kemampuan publikasi internasional. Kemudian untuk meningkatkan kemampuan menghasilkan Haki kami latih dengan workshop pra Haki, termasuk di Semarang ini,” jelasnya.

Dari sisi anggaran, ia mengungkapkan, dari pendanaan sebesar Rp 1,3 triliun, ada 18.433 penelitian. Dari penelitian ini ditargetkan publikasi internasional sekitar 15.000, HKI 2.200 dan prototipe yang masuk hilirasi 1.000 dan prototipe komersialisasi 25 penelitian. (tsa/zal)