Jangan ‘Menutup’ Masa Depan Siswa

509
Dr Ngasbun Egar (DOKUMEN)
Dr Ngasbun Egar (DOKUMEN)

RADARSEMARANG.COM – PENGAMAT pendidikan dari PGRI Jateng, Dr Ngasbun Egar, menegaskan, pengawasan, pengendalian dan pendampingan secara langsung dalam setiap kegiatan kesiswaan harus dan wajib dilakukan, dalam hal ini oleh pihak guru. Jika tidak, hal-hal fatal dapat terjadi dan merugikan salah satu bahkan kedua pihak. Termasuk, dalam kegiatan Latihan Dasar Kepemimpinan (LDK) yang dilakukan OSIS SMAN 1 Semarang.

“Pengendalian itu harus, karena remaja itu kan sifatnya dalam rangka mencari jati diri. Nah ketika mereka menjadi senior kemudian tanpa pengendalian, bisa terjadi hal tersebut,” terangnya kepada Jawa Pos Radar Semarang, Jumat (23/2).

Di sisi lain, Ngasbun menilai jika pelaksanaan kegiatan LDK merupakan satu hal yang penting diberikan kepada siswa, khususnya calon pengurus OSIS dan organisasi siswa lainnya. LDK memiliki peran sebagai sesuatu yang digunakan untuk melengkapi apa yag sudah didapat secara akademik di kelas. Sehingga kelak, sebagai generasi penerus, siswa akan menjadi sosok pemimpin yang lengkap dengan seluruh materi yang didapat baik di dalam maupun di luar kelas.

“Tetapi jika itu benar terjadi, pihak sekolah saya harap sudah melakukan kroscek pada peristiwa tersebut. Seperti apa bentuk penamparan, intensitasnya, sampai ke track record siswa yang bersangkutan,” ujarnya.

Menurut dia, pihak sekolah seharusnya mempertimbangkan kasus tersebut melalui koridor pendidikan. Jangan sampai “pemecatan” sepihak ini juga memberikan efek jangka panjang terhadap siswa yang bersangkutan. Sekolah harus memperhatikan seperti apa catatan kelakuan yang bersangkutan di sekolah selama ini.

“Kalau memang terjadi seperti itu, saya kira pihak sekolah tentu punya kewenangan untuk menjatuhkan sanksi. Tentu setelah melakukan komunikasi dengan yang bersangkutan, termasuk orang tua,” tuturnya.

Ngasbun berharap pemberian sanksi pengeluaran siswa dari sekolah ini telah melalui pembicaraan dan komunikasi yang panjang antara siswa bersangkutan, sekolah, dan orang tua siswa.

Dia menegaskan, apapun yang dilakukan oleh pihak sekolah terhadap anak di sekolah itu harus dalam kerangka pendidikan dan pembinaan anak itu sendiri.

“Jangan sampai kita melakukan sesuatu justru merugikan anak. Itu yang harus kita perhatikan betul-betul. Jangan mengambil langkah yang mencelakakan, bahkan menutup masa depan siswa. Saya yakin pihak sekolah perlu bijaksana dalam membuat keputusan,” katanya. (tsa/aro)