DIGERUS ARUS SUNGAI : Jembatan tua yang melintas di atas Sungai Progo Kranggan Temanggung, tepatnya di samping komplek makam Mayjen TNI Bambang Soegeng roboh, Rabu ( 21/2) malam. (Ahsan fauzi/Radar kedu)
DIGERUS ARUS SUNGAI : Jembatan tua yang melintas di atas Sungai Progo Kranggan Temanggung, tepatnya di samping komplek makam Mayjen TNI Bambang Soegeng roboh, Rabu ( 21/2) malam. (Ahsan fauzi/Radar kedu)

RADARSEMARANG.COM, TEMANGGUNG – Jembatan tua peninggalan zaman kolonial belanda yang melintas di atas Sungai Progo Kranggan Temanggung, tepatnya di samping komplek makam Mayjen TNI Bambang Soegeng ambruk, Rabu (21/2) malam. Robohnya jembatan bersejerah itu diduga karena hujan yang cukup deras dan arus sungai mengikis fondasi jembatan tersebut.

Seorang saksi mata penjual buah durian yang mangkal sekitar Jembatan Progo, Darmadi, 65, mengatakan, jembatan runtuh sekitar pukul 22.00 WIB saat terjadi hujan deras. “Sejak Rabu sore hujan mengguyur Temanggung, saat saya masih jualan tiba-tiba sekitar pukul 22.00 WIB terdengar suara gemuruh. Saya kira ada longsor di sekitar jembatan, ternyata jembatan lama yang berada di sisi selatan sudah runtuh,” ucap Darmadi, Kamis (22/2).

Darmadi melanjutkan, setelah melihat jembatan roboh, ia mencoba mendekat. Ternyata besi penyangga jembatan yang membentang di atas Sungai Progo tersebut telah roboh dan patah menjadi dua bagian. Bagian tengahnya melengkung ke dasar sungai. Meskipun jembatan patah dan masuk ke dasar sungai tidak menimbulkan korban jiwa manusia. “Jembatan ini sudah puluhan tahun tidak digunakan. Kondisinya memang memprihatinkan, bagian kayu dasar aspal jembatan itu sudah banyak yang lapuk dan berlubang,” kata Darmadi.

Ia menambahkan, fondasi jembatan sebelah barat sudah kelihatan terkikis arus Sungai Progo sejak empat bulan yang lalu. Curah hujan yang cukup deras dalam beberapa waktu terakhir menambah lebar kikisan fondasi tersebut sebelum akhirnya roboh.

Dandim 0706/Temanggung Letkol Arm Yusuf Setiaji menuturkan, setiap tanggal 10 November bertepatan dengan peringatan Hari Pahlawan dan Hari Jadi Kabupaten Temanggung, selalu digelar tradisi tabur bunga di atas jembatan lama tersebut. Tabur bunga tersebut dilakukan untuk mengenang ribuan jiwa pejuang dan rakyat Indonesia yang gugur karena dibantai di atas jembatan tersebut oleh tentara Belanda pada 1949 silam.

Para pejuang dan rakyat yang ditangkap tentara Belanda, diikat tangannya dan ditutup matanya, lalu ditembak. Ada juga yang dipenggal kepalannya. Jenasah mereka kemudian diceburkan ke Sungai Progo yang berada di bawah jembatan. (san/ton)