GRAFIS: TRY STYAWAN/JAWA POS RADAR SEMARANG
GRAFIS: TRY STYAWAN/JAWA POS RADAR SEMARANG

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG – Pengelolaan transportasi masal Bus Rapid Transit (BRT) Trans Semarang kembali disorot. Khususnya, soal gaji sopir BRT yang dinilai masih sangat minim. Kondisi psikologi sopir dinilai tidak mendapatkan perhatian serius. Sehingga hal itu berdampak terhadap kinerja sopir. Tak heran, masih banyak ditemui sopir bersikap kasar terhadap penumpang, sering ngebut, dan seterusnya. Celakanya, sopir BRT ini menjadi pihak yang kerap disalahkan, dipecat, dan lain-lain. Padahal ujung pangkal permasalahan tersebut adalah kesejahteraan sopir BRT tidak mendapat perhatian serius.

Pengamat transportasi dari Komunitas Peduli Transportasi Semarang, Theresia Tarigan, mengaku, prihatin dengan kesejahteraan sopir BRT Trans Semarang.“Saya sudah lama mendengar soal gaji sopir BRT Trans Semarang. Salah satu anggota komunitas kami adalah istri pramudi BRT Trans Semarang. Salah satunya mengenai keluhan soal gaji. Slip gaji sopir BRT Desember 2017 di kisaran Rp 1,6 juta,” kata Theresia kepada Jawa Pos Radar Semarang, Senin (19/2).

Dikatakannya, selain itu memang mendapatkan uang makan. “Udah gitu setiap bulannya gaji sering terlambat bayar, hingga tanggal 8 dan 9. Persoalan gaji terlambat ini juga sudah saya laporkan melalui SMS ke Pak Hendi (wali kota) dan langsung mendapat respons,” ujarnya.

Menurut dia, apabila benar gaji sopir BRT Trans Semarang di kisaran Rp 1,6 juta tentu sangat memprihatinkan. Upah Minimum Kota (UMK) Semarang saja saat ini Rp 2,3 juta. “Memang sopir ini mendapat uang makan setiap hari Rp 50 ribu. Kerja 20 hari per bulan, dua hari masuk, satu hari libur, kerja mulai pukul 05.15 hingga pukul 19.00. Tapi (Rp 50 ribu) habis, Romusha itu, Mas,” ujarnya.

Peraturan sesuai Undang-Undang (UU) maksimal jam kerja adalah 8 jam, istirahat 30 menit per 4 jam. “Itu aja udah dilanggar. Bayangkan, mereka bangunnya jam 04.00 pagi tuh. Pulang kerja sampai rumah kadang-kadang jam 21.00. Dari gaji tersebut masih ada potongan psikotest Rp 50 ribu sebanyak dua kali. Sehingga kalau melihat jam kerja, uang makan Rp 50 ribu itu tidak pantas, karena berangkat jam 04.00 ya belum sarapan lah,” bebernya.

Seharusnya, kata dia, minimal uang makan sehari Rp 75 ribu. “Kalau kerja di kantor, air putih disediakan. Tapi kalau sopir BRT ini kan semua harus beli. Overtime tidak ada upah, kemacetan tidak ada renumerasi. Jadi, nilai gaji tersebut sudah sangat rendah,” katanya.