Lahan Rumah Bersubsidi Habis

2168

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG – Lahan untuk pembangunan fasilitas likuiditas pembiayaan perumahan (FLPP) atau rumah bersubsidi di Semarang sudah habis. Daerah-daerah penyokong maupun hunian vertikal diharapkan dapat menjadi alternatif.

Wakil Ketua REI Jateng Bidang Humas, Promosi dan Publikasi, Dibya K Hidayat mengatakan, harga tanah di area Semarang, baik yang berlokasi di tengah kota maupun pinggiran kini sudah tidak memungkinkan untuk pembangunan rumah bersubsidi.

“Di Semarang sekarang harga tanah minimal Rp 300 ribu per meter, itu pun sudah yang di daerah-daerah pinggiran. Padahal untuk bisa membangun rumah bersubsidi dengan harga jual yang telah ditentukan, maka harga tanah maksimal Rp 200 ribu,” ujarnya, kemarin.

Hunian vertikal atau rumah susun diharapkan dapat menjadi alternatif. Namun demikian, untuk saat ini juga dinilai masih belum terjangkau bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR). Sebab upah minimum regional Semarang masih di bawah minimal rata-rata penghasilan untuk menyicil rumah susun.

“Harga rumah FLPP saat ini Rp 130 juta, sedangkan untuk rumah susun dua kali lipatnya yaitu sekitar Rp 240 juta. Untuk bisa mengambil rumah susun ini, maka penghasilan per bulan minimal Rp 7 juta. Nah, untuk MBR di Semarang ini belum masuk,” ujarnya.

Alternatif lain, lanjutnya, pembangunan FLPP di kota-kota sekitar Semarang, khususnya yang sudah mulai ramai dengan industri. Diantaranya Kendal dan Demak. “Ungaran untuk FLPP saat ini harga tanah juga sudah mahal, yang masih memungkinkan Kendal dan Demak. Selain itu dua kota tersebut juga sudah mulai banyak industri yang masuk. Sehingga hunian juga sangat dibutuhkan,” ujarnya. (dna/ric)