GRAFIS: IWAN/JAWA POS RADAR SEMARANG
GRAFIS: IWAN/JAWA POS RADAR SEMARANG

RADARSEMARANG.COM – Para pelaku kejahatan yang masih kategori anak-anak atau berusia di bawah 18 tahun (berdasarkan UU yang berlaku), seharusnya diperlakukan khusus sesuai hak anak. Dengan harapan, anak-anak yang melakukan kejahatan tersebut bisa memiliki masa depan yang lebih baik, tidak lagi terjerumus ke lembah kejahatan lagi. Namun faktanya, pelaku pidana anak masih kerap dicampur dengan pelaku pidana dewasa. Alasannya, tahanan anak belum ada, atau kalaupun ada lokasinya terlampau jauh, sehingga kurang efektif, dan lain sebagainya.

IB adalah mantan narapidana anak yang pernah dititipkan penahanannya di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas 1 Kedungpane, Semarang. Ia mengaku ada dampak buruk saat napi anak ditahan di lapas dewasa. Seperti halnya teman satu bloknya di tahanan berinisial JH, yang juga tahanan anak. JH adalah terpidana kasus pencurian sepeda motor (curanmor).

Dikatakan IB, di Lapas Kedungpane, ia dan JH satu blok dengan napi dewasa, namun beda sel. Akibat bercampur, akhirnya bisa saling berinteraksi, dan JH mendapat ilmu baru melakukan pencurian. Alhasil, begitu bebas dari lapas, bukannya kapok. Dia justru kembali melakukan pencurian hingga akhirnya tertangkap dan ditahan lagi di Lapas Kedungpane.

“Di Lapas Semarang ada 3 sel untuk tahanan anak, tapi campur dalam 1 blok dengan tahanan dan napi dewasa. JH itu dulu pas ketemu saya ditahan kasus curanmor, kemudian bebas dan ketangkap lagi mencuri, sekarang ditahan lagi,”kata IB kepada Jawa Pos Radar Semarang, Minggu (19/2).

Mantan napi kasus persetubuhan berusia 17 tahun ini mengaku di lapas bisa saling berinteraksi dengan tahanan dewasa. Hal itu juga sering dilakukan JH saat itu. Karena kerap bertemu dan ngobrol dengan tahanan dewasa yang tinggal satu bloknya, ia menduga JH bisa mendapat tambahan ilmu baru melakukan pencurian.