Nurchamim/jawa pos radar semarang
Nurchamim/jawa pos radar semarang

RADARSEMARANG.COM – Nasih menceritakan, pada 1997 mulai masuk kuliah, tepatnya di Jurusan Fisika UNNES, persis menjelang metamorphosis dari IKIP. Saat itu ia mencari organisasi kemahasiswaan yang berafiliasi dengan NU. Informasi yang ia punya, baik dari bacaan maupun dari mulut ke mulut, organisasi kemahasiswaan NU adalah PMII, dan Muhammadiyah adalah HMI.

Namun ternyata salah. Karena underbow Muhammadiyah adalah IMM. Sedangkan HMI adalah organisasi independen yang di dalamnya terdapat mahasiswa muslim dari berbagai macam latar belakang. Ada dari Muhammadiyah, NU, Persis, al-Washliyah, Hidayatullah, dan yang tidak punya latar belakang keluarga dengan afiliasi organisasi keagamaan. “Namun, yang membuat saya lebih tertarik kepada HMI adalah karena lebih dinamis. Para aktivis HMI aktif mendekati saya dengan mengajak diskusi tentang tema-tema keislaman dan ke-Indonesiaan. Dan pilihan saya ternyata sangat tepat. Di dalam HMI, saya mengenal Islam secara komprehensif, sehingga mampu melepaskan fanatisme yang tidak perlu,” tuturnya.

KEGIATAN RUTIN : Nasih mendampingi mahasantri mengupas bawang merah. (Nurchamim/jawa pos radar semarang)
KEGIATAN RUTIN : Nasih mendampingi mahasantri mengupas bawang merah. (Nurchamim/jawa pos radar semarang)

Tidak ada yang istimewa dalam membagi waktu. Pokoknya ia jalani saja mengalir. Bahkan Nasih tidak punya staf yang mengatur agenda. “Cukup saya catat dalam smartphone. Jika waktunya cocok, saya iyakan. Jika pas sudah ada agenda, ya mohon maaf,” katanya.

Aktivitas rutin Pengasuh Rumah Perkaderan Monash Institute ini setelah maghrib sampai isya’ atau sekitar pukul 21.00 dan setelah shalat subuh sampai pukul 06.00 adalah mengajar Tafsir dan Hadits, juga menyimak hafalan para mahasantri. Selain itu, mengajar di Program Pascasarjana Ilmu Politik UI di Depok, FISIP UMJ di Ciputat, dan STEBANK di dekat Salemba Jakarta Pusat. “Kalau akhir pekan aktivitas lebih banyak di Pesantren Monash Institute menyimak para mahasantri yang setoran hafalan Al-Qur’an,” jelasnya.

Dia menjelaskan, ada kalanya menjalani aktivitas luar yang harus “membuang” waktu dalam perjalanan. “Ini yang perlu agak disiasati. Intinya, waktu melakukan perjalanan ke sana kemari itu harus saya manfaatkan seoptimal mungkin. Waktu menunggu di bandara atau stasiun, saya manfaatkan untuk membaca buku dan artikel, atau menulis, karena objek bacaan tidak goyang-goyang. Saat berada di atas pesawat, kereta, atau mobil, saya manfaatkan untuk membaca Al-Qur’an. Kalau ngantuk lagi, ya tidur saja,” ujarnya.