Kuliahkan Mahasantri ke Luar Negeri

212
Dr. H. Mohammad Nasih, Pendiri Rumah Perkaderan Monash Institute
Dr. H. Mohammad Nasih, Pendiri Rumah Perkaderan Monash Institute

RADARSEMARANG.COM – Ternyata santri yang Nasih bina ini tidak hanya mampu untuk kuliah di dalam negeri. Ada beberapa santrinya yang berhasil menempuh pendidikan ke luar negeri.

“Sebenarnya yang menguliahkan ke luar negeri bukan saya. Saya hanya mendapatkan informasi saja dari teman-teman bahwa ada beasiswa kuliah ke luar negeri. Ya paling memberikan support ala kadarnya saja untuk keperluan awal hidup disana. Atau biaya transport yang harus ditanggung sendiri. Bahkan ada yang saya tidak campur tangan sama sekali. Mereka sudah bisa memenuhi kebutuhan mereka sendiri,” tuturnya.

TELATEN : Mohammad Nasih mengajari para mahasantri mengaji di Rumah Perkaderan Monash Institute. (Nurchamim/jawa pos radar semarang)
TELATEN : Mohammad Nasih mengajari para mahasantri mengaji di Rumah Perkaderan Monash Institute. (Nurchamim/jawa pos radar semarang)

Dalam hal pendidikan formal, Nasih memberikan motivasi tersendiri agar santrinya dapat menjadi doktor pada usia sebelum 30 tahun. “Hitungannya sederhana saja; saya lulus S3 umur 30 tahun. Dengan pembinaan yang lebih intensif, mestinya mereka bisa lebih cepat. Dan Alhamdulillah sekarang sudah mulai panen master. Angkatan pertama sudah ada yang masuk program S3. Para mentor generasi awal sudah ada yang hampir lulus S3,” katanya.

Adapun bisnis yang ia kelola terus berjalan. Ada yang naik, ada yang turun. Karena bisnisnya di bidang pertanian. Dan kebijakan Pemerintah di bidang pertanian sangat tidak berpihak kepada petani. Namun, itu tantangan tersendiri baginya. Diakui, dari usaha menanam tebu, menggiling gula merah, menanam bawang dan memproduksi bawang goreng itu, ia berharap Allah memberikan berkahNya.

Tentang politik, Nasih memandangnya sangat penting. Bukan hanya karena disiplin keilmuannya adalah politik. Namun, terlebih karena secara faktual ia rasakan betapa pentingnya struktur kekuasaan politik untuk menolong. “Dengan uang saya, saya mungkin bisa membantu cukup banyak orang. Namun, jika ada kekuasaan, saya bisa menggunakannya untuk menolong semua orang,” jelasnya.

Ia mengaku, pengalaman berpolitik yang ia jalani juga penting sebagai bahan ajar kepada para mahasantri agar mereka mempersiapkan diri secara lebih baik, sehingga lebih siap menjalani kehidupan politik yang penuh dengan persaingan.

Target ke depan, Nasih berharap, pada 20-30-an tahun yang akan datang, kader-kader yang telah mendapat tempaan keras, akan menjadi pejuang-pejuang yang benar-benar memiliki komitmen tinggi untuk melakukan perbaikan. Baik dengan jalan kultural maupun struktural. “Berdasarkan pengalaman dari berbagai negara yang mengalami perubahan drastis, rentang waktunya memang 20-30-an tahun itu. Sekedar contoh Turki. Mesir juga walaupun kemudian Ikhwan jatuh lagi. Intinya, usaha perbaikan harus kita lakukan,” pungkasnya. (mg4/ric)