Menggali Potensi Daerah dengan Outing Class

416
Oleh : Yuliana Ratih Pratiwi  MPd
Oleh : Yuliana Ratih Pratiwi  MPd

RADARSEMARANG.COM – PADA Tahun 2016, penulis mengikuti program Kemitraan yang diselenggarakan oleh Kemendikbud. Kemitraan mengandung makna kesejajaran dimana guru yang berpotensi untuk berkembang   bekerja sama/bermitra  dengan guru yang telah kompeten dan profesional. Program ini merupakan Program Kerjasama Guru Dikmen untuk mentransformasi budaya mutu dari guru yang dinilai berhasil kepada guru yang belum berhasil mutu layanan pembelajarannya. Melalui kemitraan, guru mitra (guru yang sudah kompeten dan terbiasa melakukan pembelajaran abad 21) bermitra dan mentransmisi pengalaman terbaiknya kepada guru imbasnya (guru yang belum terbiasa memberi layanan abad 21 ).

Kesenjangan mutu pendidikan antar daerah dan satuan pendidikan masih belum dapat diatasi secara tuntas karena berbagai faktor seperti kendala geografis, perbedaan sumber daya manusia di satuan pendidikan, dan keterbatasan akses informasi untuk meningkatkan mutu layanan pembelajaran dikelasnya. Diharapkan guru mitra mampu membantu rekan guru imbas untuk memecahkan masalah-masalah pembelajaran on the spot di kelasnya. Penulis sendiri mendapat tugas untuk bermitra dengan rekan-rekan guru di provinsi Sulawesi Barat. Rekan guru imbas penulis dari mata pelajaran bahasa Inggris, bahasa Indonesia, dan matematika. Selama dua tahun (sejak Juli 2016)  penulis mendalami seluk beluk kegiatan mengajar guru imbas di Provinsi Sulawesi Barat. Dari pendampingan tersebut penulis menyadari bahwa masalah dasar bagi rekan guru imbas adalah pemenuhan bahan ajar yang berkualitas bagi siswa.

Penulis kemudian menggali informasi dari rekan imbas mengenai kesulitan-kesulitan yang dihadapi dalam memenuhi bahan ajar yang variatif dan berkualitas. Untuk mencari materi procedure genre, descriptive genre, atau yang lainnya guru merasa teks-teks yang ada kurang tepat. Misal, untuk Procedure. Teks yang tersedia adalah semacam: How to make Carbonarra Spaghetti, atau How to Fasten Seatbelt. Nah teks ini untuk siswa di pedalaman kurang cocok. Anak-anak tidak pernah naik pesawat dan jarang bepergian dengan mobil. Jadi untuk teks How to Fasten Seatbealt secara terjemahan mereka mengerti akan tetapi secara kontekstualnya mereka tidak mengerti karena mereka tidak memiliki budaya “Memasang Sabuk Pengaman”. Akibatnya siswa tidak mampu menjawab soal pemahaman bacaan. Siswa mengerti teksnya tetapi mereka tidak bisa menjawab soal pemahaman bacaan.  Pada sisi lain , guru bahasa Indonesia juga mengeluhkan hal yang sama; bagaimana menemukan teks yang tepat sesuai kompetensi yang dituntut. Guru imbas mengeluhkan kurangnya sumber bacaan pada pelajaran bahasa Indonesia.

Guru menyebutkan tidak ada buku paket sehingga tidak memungkinkan tugas untuk siswa membaca. Ketika mengajarkan pantun guru ini hanya mepunyai teks milik guru sejak lama. Menjadi masalah ketika guru hanya punya teks lama. Dia juga tidak bisa memberi tugas yang tepat karena ketiadaan teks. Nah dengan melihat kendala tersebut , maka perlu bagi guru untuk menyesuaikan teks dengan bekal ajar siswa. Bagi siswa materi yang sesuai bekal ajar mereka akan memudahkan dalam pemahaman konsep.