Bertahan dengan Membuat Kerajinan Pahat Lain

Pianto Sutanto, Generasi Kelima Pemahat Bongpay “Hok Tjoan Hoo”

465
PEMAHAT BONGPAY: Pianto Sutanto, kini tak hanya memahat Bongpay, tapi juga menerima pesanan pahat batu alam lainnya. (ABDUL MUGHIS/JAWA POS RADAR SEMARANG)
PEMAHAT BONGPAY: Pianto Sutanto, kini tak hanya memahat Bongpay, tapi juga menerima pesanan pahat batu alam lainnya. (ABDUL MUGHIS/JAWA POS RADAR SEMARANG)

RADARSEMARANG.COM – Jejak budaya Tionghoa di Semarang mewarnai berbagai lini kehidupan masyarakat. Salah satunya adalah pemahat Bongpay batu alam yang telah dimulai sejak ratusan tahun silam. Seperti apa?

ABDUL MUGHIS

MENYUSURI lorong gang-gang di kawasan Pecinan Semarang, Anda akan menemui pemandangan berbagai bangunan tua yang dihuni oleh warga keturunan Tionghoa. Hampir setiap aktivitas di kawasan tersebut memiliki kisah panjang, dan seperti tak ada habisnya untuk dikupas.

Salah satunya jika singgah di sebuah bangunan tua di Jalan Gambiran Nomor 25, Kelurahan Kranggan, Semarang Tengah. Hingga sekarang, saat berkunjung pada jam kerja, akan tampak aktivitas sejumlah pemahat batu alam.  Namanya Hok Tjoan Hoo. Satu-satunya usaha kerajinan pahat batu alam yang khusus mengerjakan Bongpay atau batu nisan ukir. Belum ada catatan resmi yang menjelaskan sejak kapan Hok Tjoan Hoo berdiri. Bahkan generasi pewarisnya tidak mengetahui persis usaha tersebut berdiri sejak kapan. Namun diperkirakan Hok Tjoan Hoo telah berdiri ratusan tahun.

“Usaha ini turun-temurun, sudah ratusan tahun. Saya generasi kelima. Ini kebudayaan nenek moyang Tionghoa. Saya berusaha menjaga seni pahat batu nisan jangan sampai hilang,” kata penerus Hok Tjoan Hoo, Pianto Sutanto atau Tan Hay Ping saat ditemui Jawa Pos Radar Semarang, belum lama ini.

Dikatakan Pianto, seni pahat batu nisan atau Bongpay juga menjadi bagian tradisi masyarakat Tionghoa yang nyaris punah. Sebab, generasi muda sekarang jarang ada yang tertarik mendalaminya. Padahal, menurut dia, seni pahat Bongpay ini menyimpan filosofi kehidupan yang layak dilestarikan.  “Saat ini, jenazah orang Tionghoa kan ada yang diperabukan. Kalau semua diperabukan lalu dilarung di laut, selesai. Otomatis kebudayaan itu telah hilang,” tandasnya.

Menyemayamkan jenazah dan diberikan tanda batu nisan termasuk menjaga tradisi kebudayaan masyarakat Tionghoa. “Ada tradisi menjenguk almarhum orang tua atau leluhur, istilahnya Cheng Beng,” terangnya.